::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Polemik ‘Al-Fatekah’ Jokowi Menurut Pakar Linguistik

Rabu, 10 Oktober 2018 11:31 Nasional

Bagikan

Polemik ‘Al-Fatekah’ Jokowi Menurut Pakar Linguistik
Jokowi di MTQ XXVII Medan (via Times Indonesia)
Jakarta, NU Online
Presiden Joko Widodo berkesempatan membuka perhelatan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXVII, Senin (8/10) di Medan, Sumatera Utara. Di tengah keprihatinannya atas bencana gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah, Presiden mengajak seluruh peserta dan undangan yang hadir untuk membaca Surat Al-Fatihah secara berjamaah.

"Saya mengajak bersama-sama, marilah kita mengirimkan Al-Fatihah untuk korban bencana alam dan para keluarga yang selamat agar diberi kesabaran dan ketabahan," ujar Jokowi dalam sambutannya.

Ala hadiniyah Al-Fatihah,” kata Presiden Jokowi dengan aksen khas Jawanya sehingga terucap 'Al-Fatekah'.

Sebagian warganet di media sosial seketika diributkan oleh pro-kontra ‘Al-Fatekah’ Jokowi tersebut. Banyak yang menulis kalimat sarkasme, juga ada yang mencaci secara terang-terangan. Bahkan ada yang menilai bahwa Jokowi sudah melecehkan Al-Qur’an.

Terkait polemik ini, Pakar Linguistik Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) Jakarta Fariz Alniezar mengatakan, dalam kajian kebahasaan (linguistik) fenomena seperti itu biasa terjadi.

“Tidak ada persoalan serius. Pada prinsipnya apa yang terjadi (Al-Fatekah Jokowi) bukan merupakan kesalahan yang patut dipermasalahkan,” ucap Fariz.

Lulusan Bahasa dan Sastra Arab UIN Sunan Ampel Surabaya ini menerangkan bahwa bahasa seseorang dari sisi verbal atau pengucapan didasari oleh latar belakang sosial dan budaya sehingga membentuk karakter bahasa orang tersebut.

“Latar sosial dan budaya memiliki efek penting dalam membentuk karakter bahasa seseorang. Tak terkecuali dalam mengeja istilah asing. Ini hal lumrah dan biasa,” ujar pria yang saat ini sedang menempuh studi doktoral bidang linguistik di UGM Yogyakarta.

Menurut Pimpinan Komunitas Literasi Omah Aksoro ini, menyalahkan apalagi mencaci perkara demikian merupakan tindakan seseorang atau kelompok yang gemar memproduksi keributan dan masalah.

“Memperdebatkan apalagi menyalahkan dan mencaci hal yang demikian itu adalah tindakan yang lewah,” tandas penulis buku Problem Bahasa Kita ini. (Fathoni)