::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Ini Pandangan PCNU Jaksel terkait Suul Adab Para Ustadz di Era Pilpres

Rabu, 10 Oktober 2018 11:45 Nasional

Bagikan

Ini Pandangan PCNU Jaksel terkait Suul Adab Para Ustadz di Era Pilpres
Jakarta, NU Online
Pengurus harian PCNU Jakarta Selatan menyatakan prihatin atas sikap su’ul adab kalangan ustadz dan ustadzah yang justru memiliki ilmu agama lebih banyak daripada masyarakat umum dalam konteks pilpres dan pilleg. PCNU Jakarta Selatan menyatakan bahwa fenomena itu dilatarbelakangi oleh ketidakproporsionalan ilmu dan akhlak.

Demikian disampaikan Rais Syuriyah PCNU Jakarta Selatan KH Lukman Hakim pada saat rapat persiapan MKNU di Pesantren Miftahul Ulum, Jakarta Selatan, Senin (8/10) malam.

Menurut Kiai Lukman, komposisi ilmu dan akhlak itu harus proporsional. Jangan sampai ilmu telalu banyak dengan minus akhlak.

“Ilmu dan adab kata Mbah Hasyim dalam Kitab Adabul Alim wal Muta‘allim itu seperti garam dan tepung. Jangan sampai garam lebih banyak dari tepung. Apa rasanya adonan? Rasanya rusak,” kata Kiai Lukman.

Kiai Lukman menyatakan prihatin atas sikap kurang adab banyak ustadz dan ustadzah di media sosial dan di majelis-majelis taklim.

“Terkait pilpres ini, banyak orang kurang adab terhadap Kiai Maruf dengan pelbagai sebutan yang tidak adab. Ironisnya justru sikap ini dilakukan oleh para ustadz dan ustadzah yang menjadi sorotan umat,” kata Kiai Lukman.

Ketua PCNU Jakarta Selatan KH Abdurrazak Alwi mengatakan bahwa kokohnya pengetahuan bukan pada penguasaan banyak atau sedikitnya ilmu. Tetapi kokohknya ilmu lebih tampak pada bagaimana para ustadz dan ustadzah menunjukkan akhlaknya di tengah masyarakat dalam menghadapi permasalahan.

“Rasulullah SAW mengatakan bahwa orang beriman yang paling sempurna keimanannya adalah mereka yang paling baik akhlaknya. Sabda ini jelas, bukan paling banyak ilmunya. Masalahnya bagaimana kemampuan kita membuat ramuan indah antara ilmu dan akhlak,” kata Kiai Razak kepada NU Online di Jakarta, Rabu (10/10) pagi.

Ia menambahkan bahwa para ustadz dan ustadzah yang justru mengobarkan fitnah, caci maki, dan penghinaan terhadap kiai dan ulama adalah mereka yang menurunkan derajatnya di sisi Allah. Sementara umat menyaksikan akhlak tercela mereka.

“Jika memang ada ustadz dan ustadzah yang menghina kiai dan ulama sesungguhnya mereka itu sedang mempreteli satu per satu busana yang menutupi auratnya dan akhirnya telanjang bulat. Semoga Allah menjauhkan kita dengan sifat seperti itu,” kata Kiai Razak Alwi. (Alhafiz K)