::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Cerita Giyono, Transmigran dari Jawa Terdampak Gempa Sulteng

Rabu, 10 Oktober 2018 22:45 Nasional

Bagikan

Cerita Giyono, Transmigran dari Jawa Terdampak Gempa Sulteng
Giyono (bertopi) dan keluarganya.

Palu, NU Online
Giyono dan istrinya, Ngatiyem tidak menduga, maghrib 28 September lalu gempa bumi bakal melanda desanya. Warga Desa Lolu, Kecamatan Sigi Kecamatan Sigi Biromaru, Kecamatan Sigi, Sulawesi Tengah itu sedang bersiap-siap ke masjid untuk mengikuti shalat berjamaah.

“Kejadiannya kan sekitar jam enam, sebelum maghrib, tapi sudah azan. Saya mendengar gemuruh ternyata benda-benda jatuh karena gempa. Saya, anak dan istri langsung keluar dari rumah,” cerita Giyono di Posko 7 NU Peduli Desa Lolu, Rabu (10/10) siang.

Rumah yang dimiliki Giyono terbuat dari bahan kayu dan papan, sehingga kerusakan tidak membuat rumah itu hancur. Pengamatan NU Online di beberapa lokasi di Palu dan Sigi, terihat mayoritas rumah dan bangunan yang hancur akibat gempa adalah yang terbuat dari dinding batu bata dan semen. Sementara rumah kayu cenderung tidak mengalami kerusakan yang berat.

“Rumah saya dari papan, tidak rusak. Waktu terjadi gempa, begitu keluar dari rumah, ada tanggul pecah, tanah-tanah pecah dan amblas,” papar pria yang ikut orang tuanya transmigrasi ke Palu tahun 1983.

Pria asal Sragen Jawa Tengah, ini bekerja sebagai petani sayuran seperti kacang panjang dan kemangi. Namun, gempa bumi telah memutus saluran air dari gunung menyebabkan lahan pertanian kering. Selain itu beberapa bagian lahan pertaniannya retak-retak sehingga belum bisa diolah.

Selama ini, penghasilannya sebagai petani tidak menentu. Jika harga sayuran sedang tinggi, ia bisa mendapatkan keuntungan dan bisa menyisihkan sedikit untuk ditabung. Tetapi jika harga sayuran menurun, ia mengaku hasil penjualan hanya cukup untuk keperluan sehari-hari.

Giyono dan istrinya kini memiliki empat orang anak. Anak pertama mereka sudah berkeluarga. Anak kedua dan ketiga masih sekolah. Sementara anak keempat masih berumur empat tahun.

Walau sudah empat puluh lima tahun tinggal di Sulawesi, Giyono dan istrinya masih kental dengan logat Jawa-nya. Hari itu, saat mereka menyambut NU Peduli dan tahu bahwa beberapa anggota Tim NU Peduli berasal dari Jawa, mereka pun berbicara dalam Bahasa Jawa.

Hubungan dengan kerabat di Jawa memang tidak terputus. Giyono mengaku selalu berkomunikasi dengan keluarganya di Jawa. Beberapa kali ia dan keluaganya juga pulang kampung.

“Tiga hari setelah gempa baru bisa teleponan dengan keluarga di Jawa,” tutur Giyono.

Hari itu, Giyono seperti warga lainnya ramah dan ceria menerima kedatangan Tim NU Peduli. 

(Baca: Keceriaan Warga Lolu Terima Bantuan NU Peduli)

“Maturnuwun sanget (terima kasih sekali),” ucap Giyono dan istrinya dalam logat Jawa yang amat kental.

Giyono dan keluarganya berada di satu kompleks pengungsian di Pos 7 NU Peduli. NU Peduli selain bersilaturahim, juga datang membawa bantuan logistik untuk mereka. Logistik berupa beras, mi instan dan minyak goring merupakan sumbangan warga NU Kudus Jawa Tengah yang dititipkan melalui NU Peduli.

Keluarga Giyono merupakan satu dari 230 KK atau di pengungsian tersebut. Mereka tergabung Bersama skitar 670 jiwa lainnya.

Idris Akhmad dari NU Peduli mengatakan kedatangan NU Peduli tidak kurang sebagai upaya untuk meringankan beban mereka akibat gempa. (Kendi Setiawan)