::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Kebutuhan Makanan dan Pakaian Pengungsi Sulteng Masih Tinggi

Kamis, 11 Oktober 2018 09:30 Nasional

Bagikan

Kebutuhan Makanan dan Pakaian Pengungsi Sulteng Masih Tinggi
Pengungsi memilih pakaian layak pakai, Rabu (10/10)
Palu, NU Online
Siang hari yang terik di pengungsian Desa Lolu, Rabu (10/10) tak menghalangi para pengungsi untuk memilih-milih pakaian layak pakai bantuan warga. Pakaian berupa baju, celana rok baik untuk anak-anak terhampar di sisi jalan desa, tak jau dari tenda-tenda pengngsian.

Rahman, salah satu pengungsi, mengatakan bantuan pakaian menjadi kebutuhan warga karena banyak dari rumah mereka yang roboh. Kalaupun pakaian mereka masih dalam kondisi baik, robohnya rumah membuat mereka kesusahan untuk mengambil barang-barang yang masih bisa diselamatkan.

“Baju (di rumah) ada yang bisa diambil ada yang tidak,” tutur Rahman yang siang itu terlihat telah menenteng baju layak pakai yang baru diambilnya.

Hijriah, pengungsi lainnya menuturkan akibat gempa rumahnya terbelah. Dinding rumah yang roboh merusak lemari baju dan isinya.

“Tidak ada yang berani ke rumah, takut. Air juga jarang keluar,” kata Hijriah.

Siang itu ia sudah memilih baju untuk dirinya sendiri selain beberapa potong baju untuk cucunya.

(Baca: Keceriaan Warga Lolu Terima Bantuan NU Peduli)

(Baca: Anak-anak Terdampak Gempa Sulteng Masih Trauma)

(Baca: Cerita Giyono, Transmigran dari Jawa Terdampak Gempa Sulteng)


Di pos tersebut sumbangan berupa pakaian dihamparkan di satu tempat. Warga pun bisa memilih sesuai keperluan mereka. Walaupun banyak yang memerlukan baju, suasana tetap tertib selama mereka memilih dan mengambil pakaian.

Desa Lolu merupakan salah satu desa di Kecamatan Sigi Biromaru, Kecamatan Sigi, Sulawesi Tengah. Imran Latjedi, warga desa setempat mengatakan, ada tujuh titik pengungsian di Desa Lolu. Warga selain mendirikan tenda pengungsian di dalam desa, juga ada yang mengungsi ke desa lain. Jumlah pengungsi di luar Lolu mencapai 1500 orang.

Menurut Imran, akibat gempa bumi, ada 21 orang yang meninggal di desa ini. Warga meninggal karena tertimpa reruntuhan bangunan, ada juga yang terkena serangan jantung karena shock mengalami gempa. Hingga hari ini, warga masih belum beraktivitas. Rusaknya saluran air menimbulkan matinya aliran air yang mereka andalkan untuk mengaliri lahan pertanian. (Kendi Setiawan)