::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Kaji Pemahaman Sufi terhadap Teks Nahwu Antar Qustulani Raih Doktor

Kamis, 11 Oktober 2018 22:15 Nasional

Bagikan

Kaji Pemahaman Sufi terhadap Teks Nahwu Antar Qustulani Raih Doktor

Tangsel, NU Online
Namanya Muhammad Qustulani. Wakil Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nahdlatul Ulama (STISNU) Tangerang itu rupanya masih penasaran terhadap teks nahwu yang menjadi kajian konsentrasinya pada bidang Bahasa dan Sastra Arab.

Setelah membahas kitab Alfiyyah Ibn Malik tidak dari sisi nahwiyah-nya dalam tesisnya, ia pun kembali mengupas makna-makna sufistik dalam kitab Syarh Ajurumiyyah Ibn Ajibah dalam disertasinya. Hal ini menjadi kebaruan dalam sebuah kajian keislaman.
 
"Belum ada yang membahas penafsiran sebuah kitab yang memang itu buku teks nahwu tapi dipahami sebagai teks sufi," kata Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Masykuri Abdillah saat ditemui NU Online usai sidang di kantornya, Jalan Kertamukti, Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan, Banten, Kamis (11/10).
 
Namun, tak ada gading yang tak retak. Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu melihat bahwa teori dasar yang digunakan oleh Qustulani lebih tampak pada teori barat dengan pandangan Roland Barthes.
 
"Saya minta bisa diintegrasikan. Bawa juga istilah dalam ilmu balaghah," ujarnya.
 
Masykuri menilai jika langkah itu dapat dilakukan, keinginan integrasi keilmuan Islam dan Barat dapat terwujud. "Apa yang kita inginkan untuk mengatakan integrasi keilmuan antara persepektif dunia Islam dan dunia Barat ikut terwujud di sini."
 
Qustulani menjelaskan bahwa fail yang dimaksud adalah Allah Swt, sedangkan maf'ul adalah manusia. Ketika ia menjadi insan kamil, maka ia bisa menjadi naibul fail. Dalam hal ini, manusia sebagai pengganti Tuhan.
 
"Dia akan seperti Tuhan," kata alumnus Pondok Buntet Pesantren itu. Meskipun demikian, pada hakikatnya, ia tetaplah manusia, tetaplah maf'ul.
 
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hasaniyah Rawalini itu berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul Makna Imajinatif Nahwu: Studi Kitab Ajurumiyyah Ibn Ajibah di hadapan para penguji. Ia mendapatkan nilai rata-rata disertasinya 95 dan rata-rata nilai seluruh kuliahnya 89,18. Karena itu, ia berhak mendapatkan nilai cumlaud. (Syakir NF/Kendi Setiawan)