::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Tidak Patut Menjadikan Gempa sebagai Bahan Guyonan

Kamis, 11 Oktober 2018 23:30 Daerah

Bagikan

Tidak Patut Menjadikan Gempa sebagai Bahan Guyonan
Rumah warga Pulau Sapudi Sumenep akibat gempa.
Surabaya, NU Online
Terjadinya gempa dan tsunami di sejumlah daerah ternyata ditanggapi beragam oleh masyarakat. Alih-alih ikut prihatin dan memberikan donasi, malah sebagian membuat guyonan gempa yang dikaitkan dengan persetubuhan sepasang suami istri. 

“Menurut saya, membuat guyonan persetubuhan atau jimak antara suami istri dengan musibah gempa adalah tidak tepat,” kata Ustadz Nur Fauzi Ahsan, Kamis (11/10).

Menurutnya, bagi yang tidak terkena musibah gempa, mungkin gurauan tersebut dianggap biasa. “Tapi bagi yang terkena gempa, atau bagian dari kerabat korban, guyonan seperti itu, sangatlah tidak patut bahkan berpotensi menyakitkan,” kata dosen Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri Sunan Ampel ini. 

Apalagi semua kalangan mafhum bahwa yang terkena gempa selama ini mayoritas saudara sesama Muslim, atau paling tidak saudara sebangsa dan sesama manusia. 

“Mestinya kita empati, turut sedih dan mendoakan semoga diberi ketabahan atau sedapat mungkin mengulurkan tangan dan bukan malah membuat guyonan,” kata aktis Aswaja NU Center Pengurus Wilayah NU Jatim ini. 

Dalam pandangannya, setiap orang pasti tidak ingin gempa menimpa diri dan keluarga. “Hendaknya kita jadikan gempa sebagai cara Allah untuk menegur agar kembali kepada jalan yang diridhai,” jelasnya. 

Bahkan secara khusus, Ustadz Fauzi menukil surat Al-Hadid ayat 23. Prinsipnya, dalam segala hal yang luput dan menimpa manusia hendaknya jangan berduka cita demikian pula terlalu gembira. “Karena Allah tidak suka orang yang sombong serta membanggakan diri,” pungkasnya. (Ibnu Nawawi)