::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

HARI SANTRI 2018

Muktamar Pemikiran Santri Akan Rumuskan 5 Poin

Jumat, 12 Oktober 2018 01:00 Nasional

Bagikan

Muktamar Pemikiran Santri Akan Rumuskan 5 Poin
Dirjen Pendais Kemenag, H Kamaruddin Amin
Yogyakarta, NU Online
Terselenggaranya acara Muktamar Pemikiran Santri Nusantara di Pesantren Krapyak Yogyakarta, Rabu-Jumat (10-12), menjadi penting sebagai salah satu ajang pertemuan para tokoh dari pesantren untuk mencari pemecahan berbagai persoalan bangsa ini.

Hal tersebut disampaikan Dirjen Pendis Kemenag RI H Kamaruddin Amin di acara pembukaan Muktamar Pemikiran Santri Nusantara. "Setidaknya ada 5 hal yang perlu dirumuskan dalam acara ini, pertama mengukuhkan posisi santri dan pesantren sebagai sub-kultur," papar dia.

Dalam konteks inilah, pengarusutamaan pesantren sebagai sub-kultur perlu ditingkatkan dengan mendayagunakan kaum santri.

Kedua, lanjut Kamaruddin, yakni upaya mengetengahkan gagasan moderasi Islam yang selama ini termanifestasikan dalam dogma dan olah pikir, hingga model pemikiran kaum santri.

"Ketiga, memetakan langkah-langkah yang diperlukan untuk memecahkan persoalan keumatan dan kebangsaan," jelas Guru Besar UIN Sunan Kalijaga itu.

Sedangkan poin keempat dan kelima, yakni transformasi sosial pesantren dalam menjaga kearifan lokal serta meningkatkan mutu penelitian. Kelima poin ini, menurut Kamaruddin penting untuk dibahas, sebagai respon kaum pesantren akan tantangan serta persoalan kebangsaan yang dewasa ini semakin kompleks.

Acara Muktamar Pemikiran Santri ini juga menghadirkan sejumlah tokoh dari luar negeri, di antaranya Duta Besar Inggris Muazzam Malik, Directur Official Leiden University Marrio Ballen, ulama dari Universitas Al Azhar Syekh Bilal Mahmud Ghanim, dan ulama Ma'had Ali Ibrahimy KH Afifuddin Muhadjir, serta Syekh Salim Alwan dari Dewan Fatwa Australia. (Ajie Najmuddin/Muiz)