::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Ketika Uang Mendekati sekaligus ‘Menjauhi’ Gus Dur

Jumat, 12 Oktober 2018 10:50 Hikmah

Bagikan

Ketika Uang Mendekati sekaligus ‘Menjauhi’ Gus Dur
KH Abdurrahman Wahid (Dok. istimewa)
Riwayat tentang KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang sering tidak memegang uang telah banyak diketahui dan dibaca masyarakat. Termasuk ketika keempat putrinya mengetahui sendiri ketika Gus Dur hendak meminjam uang untuk sebuah keperluan karena tidak sedang memegang uang.

Saat itulah putri-putrinya menangis sesenggukan. Bukan karena menangisi Gus Dur yang tidak mempunyai uang, tetapi karena begitu zuhudnya ia yang tidak pernah mau terikat dengan perkara-perkara duniawi. Bahkan, Gus Dur kerap menegaskan kepada putri-putrinya bahwa uang yang dipegangnya adalah hak rakyat, hak orang banyak.

Gus Dur bukan tidak mempunyai uang. Bahkan dia bisa saja dengan mudah mendapatkannya, tetapi ketika mendapatkan uang, Gus Dur seketika itu pula mengeluarkannya bagi siapa pun yang membutuhkan dan datang kepadanya saat itu.

Itu artinya, uang merupakan benda yang mudah saja mendekati Gus Dur tetapi sekaligus gampang sekali menjauhinya sebab dikeluarkan juga Gus Dur untuk orang-orang yang seketika itu membutuhkannya. Seperti kisah yang diungkapkan sahabat Gus Dur, KH Husein Muhammad, Kamis (11/10/2018) lewat instagramnya berikut ini.

Keponakan Gus Dur, Nanik Zahiro, pernah bercerita kepada KH Husein Muhammad. Nanik pernah kuliah di Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta awal tahun 1990-an dengan biaya dari Gus Dur. 

Setiap bulan dia datang ke Kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk bertemu pamannya itu guna mengambil uang kost dan biaya kuliahnya. 

Suatu hari Nanik pernah kehabisan uang, karena uang dari Gus Dur digunakan untuk keperluan lain yang tidak terduga. 

Dia sudah minta kiriman dari ayahnya di Tambakberas, Jombang, tetapi belum juga tiba. Dia datang ke Gus Dur di Kantor PBNU untuk meminta bantuan tambahan dan mohon maaf karena mendesak. 

Tetapi ketika itu Gus Dur sedang tak punya uang. Namun beliau tak menolaknya. Ia mengatakan, “tunggu sebentar ya Nan, saya akan pergi dulu sebentar”. 

Gus Dur pergi ke tempat sebuah seminar yang hari itu kebetulan harus dihadirinya dan Gus Dur menjadi narasumber utama. 

Tidak lama sesudah itu, Gus Dur kembali dan menyerahkan amplop honor seminar yang masih tertutup rapat kepada keponakannya itu. 

“Ambil seperlunya saja ya?” kata Gus Dur. Nanik menerimanya dengan senang. Wajahnya berbinar-binar. Dia membuka amplop itu. 

Tetapi sesudah menghitung isi amplop tersebut, Nanik bilang bahwa keperluannya adalah seluruh isi amplop itu. Gus Dur diam saja. “Ya sudah, ndak apa-apa. Ambil saja semua,” tutur Gus Dur. (Fathoni)