::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Terkait Grup Gay Pelajar, LP Ma'arif NU Sebut Catur Pusat Pendidikan Kurang Berfungsi

Jumat, 12 Oktober 2018 11:30 Nasional

Bagikan

Terkait Grup Gay Pelajar, LP Ma'arif NU Sebut Catur Pusat Pendidikan Kurang Berfungsi
Jakarta, NU Online
Beredarnya grup-grup komunitas penyuka sesama jenis (gay) di akun Facebook yang diduga beranggotakan para pelajar SMP dan SMA di sejumlah daerah di Jawa Barat mendapat perhatian dari Lembaga Pendidikan Ma'arif Nahdlatul Ulama.

Ketua PP LP Ma'arif NU KH Arifin Junaidi kepada NU Online melalui sambungan telepon, Jumat (12/10), berpendapat bahwa berkembangnya grup gay yang berisi para pelajar akibat kurang berfungsinya catur pusat pendidikan.

"Catur pusat pendidikan ini kurang berfungsi dengan baik," kata Kiai Arifin.

Catur pusat pendidikan ialah keterlibatan semua pihak dalam proses pendidikan, yakni keluarga, masyarakat, sekolah, dan masjid.

Menurutnya, perkembangan pelajar tidak bisa diserahkan kepada satu pihak saja, seperti orang tua atau sekolah, sebab kesibukan orang tua dan keterbatas waktu pihak sekolah yang tidak memungkinkan mengawasi setiap saat. Oleh karena itu, sambungnya, dibutuhkan keterlibatan semua pihak dalam proses pendidikan pelajar.

"Mari kita tingkatkan lagi itu menjadi tanggung jawab kita semua," ajaknya.

Menurutnya, LP Ma'arif NU sendiri telah menjalankan catur pusat pendidikan. "Kalau di LP Ma'arif itu, selain keluarga, masyarakat, dan sekolah, juga di tempat-tempat ibadah agar pelajar terhindar dari berbagai penyelewangan, termasuk radikalisme," ucapnya. 

Sementara dalam upaya penanganan para pelajar yang menjadi korban penyimpangan seksualitas, ia lebih menekankan agar semua pihak melakukan pendekatan transformatoris, yakni mengubah persepsi yang ada pada anak tersebut tentang seksual sehingga tidak terjerumus kembali terjerumus.

"Pendekatan tranformatoris itu harus dilakukan semua pihak," pungkasnya. (Husni Sahal/Alhafiz K)