::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Kampung yang Terendam Laut Setelah Gempa Sulteng

Ahad, 14 Oktober 2018 01:00 Nasional

Bagikan

Kampung yang Terendam Laut Setelah Gempa Sulteng
Rumah di Desa Tompe terendam air laut (foto: Lusiana)

Palu, NU Online
Gempa bumi yang terjadi Jumat (28/9) lalu menyebabkan perubahan wilayah daratan. Di Perumnas Balaroa dan Petobo akibat likuifaksi, tanah amblas, posisi rumah dan bangunan bergeser.

Sementara di daerah lainnya, amblasnya tanah menyebabkan wilayah yang dekat dengan pantai terendam air.

Lusiana, seorang relawan rekanan NU Peduli menyebutkan saat kunjungan ke Desa Tompe, Kecamatan Sirenja, Donggala, Jumat (12/10) masih terendam air. Pada saat air pasang atau sekitar pukul tiga sore, air mulai naik dan ketinggian air di wilayah ini mencapai lebih dari 1,5 meter.

Sirenja terletak di pesisir pantai barat Donggala dan banyak warga yang belum terjangkau bantuan. “Desa ini terkena tsunami, lalu tanah juga turun. Rumah tidak ditinggali karena tenggelam air pasang kalau sore,” kata Lusiana, Sabtu (13/10).

Menurut data yang dikumpulkan Lusiana, terdapat 180 KK yang sangat perlu direlokasi karena rumah mereka benar-benar tidak bisa ditempati lagi. Sementara mereka mengungsi ke daerah yang lebih tinggi.

Hal yang sangat menyentuh dan membuat Lusiana prihatin, beberapa hari yang lalu ada seorang ibu yang melahirkan anak kembar tiga. “Tadi  malam saya dengar dua dari tiga anak ini kesehatannya memburuk, lalu dikirim ke Palu," ujarnya.

(Baca: Gemuruh Tahlil di Tanah Gempa)

(Baca: Keceriaan Warga Lolu Terima Bantuan NU Peduli)

Sementara itu, Gubernur Sulawesi Tengah, Longki Djanggola memperpanjang masa tanggap darurat bencana bempa bumi dan tsunami di Palu, Sigi dan Donggala selama 14 hari terhitung mulai tanggal 12-26 Oktober 2018. Keputusan itu diambil dalam rapat koordinasi yang melibatkan berbagai pihak terkait seperti Komando Tugas Gabungan dan Paduan (Kogasgab), BNPB, Kementerian Sosial, Walikota Palu, Bupati Sigi dan Bupati Donggala.

Rapat koordinasi dilakukan di Kantor Gubernur Sulawesi Tengah di Palu, Kamis (11/10). Perpanjangan masa tanggap darurat dilakukan untuk merespon kebutuhan penanganan pengungsi, distribusi bantuan logistik dan pembukaan jalan ke lokasi yang masih terisolasi.

PBNU melalui NU Peduli turut serta melakukan penanganan untuk membantu daerah dan warga terdampak gempa bumi dan Sulteng. Untuk memaksimalkan kinerja, NU Peduli memiliki 13 pos, dengan rincian tiga pos logistik dan 10 pos penanganan. Pos-pos NU tersebar di Donggala, Palu, dan Sigi.

NU Peduli memberikan bantuan logistik, evakuasi, terpal, selimut. NU Peduli juga memberikan layanan kesehatan dan psikososial. Para relawan NU Peduli berasal dari Banom dan lembaga NU yang memiliki keahlian masing-masing. (Kendi Setiawan)