::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Alasan Islam Indonesia Mampu Berdialog dengan Kearifan Lokal

Ahad, 14 Oktober 2018 01:30 Nasional

Bagikan

Alasan Islam Indonesia Mampu Berdialog dengan Kearifan Lokal
Aktivitas dan pembelajaran di pesantren tumbuhkan sikap moderat.
Yogyakarta, NU Online
Ciri-ciri orang Islam yang moderat adalah memiliki sikap fleksibel. Tidak ekstrem kanan maupun kiri. Juga mempunyai sikap toleran terhadap pandangan orang lain. Tidak menganggap hanya pendapatnya yang benar, sementara yang lain salah.

"Sikap fleksibel seperti di atas biasa ditemui di pondok pesantren. Pelajaran-pelajaran yang dipelajari di pesantren, membuat para santri memiliki sikap fleksibel,"  kata profesor asal UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Syahiron Syamsuddin, dalam diskusi panel khusus bertajuk Reinventing Subculture of Pesantren and Islamic Moderation.

Pada diskusi yang berlangsung di Pesantren Ali Maksum Krapyak, Kamis (11/10) itu, ia mengatakan bahwa di pesantren para santri belajar fiqih dan ushul fiqih yang membuat mereka mempunyai perspektif yang kaya terhadap ajaran keislaman.

Di dalam fiqih, kata Syahiron, para ulama seringkali memiliki pendapat yang antarsatu dengan lainnya berbeda dalam satu masalah. Bahkan perbedaan itu bisa terjadi di internal mazhab sendiri.

Alumni Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon itu mengatakan ada adagium yang popular dan diterapkan di pesantren yang membuat Islam di pesantren menjadi moderat, menurut yaitu al-muhafadzatu ala al-qadimi as-shalih wa al-akhdzu bi al-jadidi al-ashlah. Artinya melestarikan tradisi lama yang baik, dan mengambil tradisi baru yang lebih baik.

Dengan mengamalkan adagium itu, menurutnya pesantren menjadi subkultur yang turut menjaga kearifan lokal. Tradisi-tradisi di Nusantara, dengan melihatnya menggunakan adagium tersebut, tidak kemudian diberantas secara membabi buta. Selama tradisi itu tidak bertentangan dengan Islam, tradisi tersebut boleh dilestarikan.

"Itulah kenapa Islam di Nusantara mampu berdialog dengan kearifan lokal," tegasnya. (Moh Salapudin/Kendi Setiawan)