::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Habib Umar, Kesederhanaan yang Meneduhkan dan Memesona

Selasa, 16 Oktober 2018 07:15 Esai

Bagikan

Habib Umar, Kesederhanaan yang Meneduhkan dan Memesona
Forum dialog Habib Umar (Foto: istimewa)
Oleh Syaifullah Amin

“Kami meminta maaf apabila sampai ada (semoga tidak pernah ada), orang non-Muslim yang pernah mendapatkan gangguan dari oknum beragama Islam. Perlu diketahui bahwa para pengganggu adalah orang-orang yang tidak mengerti Islam dengan benar atau tidak menjalankan Islam dengan benar.”  ~ Habib Umar

Kalimat di atas adalah penggalan-penggalan mauidhoh hasanah dari Al-Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz atau yang biasa dikenal sebagai habib Umar bin Hafidz. Penggalan itu diterjemahkan oleh Habib Jindan bin Novel bin Salim Jindan, pengasuh Pondok Pesantren Al-Fakhriyah Tangerang. Pesantren yang cukup sering dikunjungi KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) semasa hidupnya. 

Begini, saya tulis catatan ini karena saya merasa kemarin adalah salah satu hari terbaik saya. Hari yang terberkati karena tanpa dinyana, saya dapat berkumpul dengan begitu dekat bersama para ulama dan habaib yang sangat ramah santun dan begitu memesona. Melihat begitu dekat dan menyadari bahwa kharisma Habib umar ini sangat kuat. 

Sangat wajar bila banyak orang sangat memuliakan beliau. Bila tak waspada, maka banyak dari para penggemarnya menjadi fanatik, lebih sensitif dan lalu agak mudah emosi. Bukan tidak mungkin ketidakwaspadaan ini bisa dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Dan itulah yang terjadi di media sosial beberapa waktu lalu, saat kedatangan beliau sebelum ini. 

Jujur saja, saya sangat memperhatikan beliau, karena kebetulan saya mendapatkan tempat duduk di meja yang bersebelahan dengan meja Habib. Hingga saat Beliau menyampaikan mauidhoh hasanah, saya perhatikan kata perkata yang penuh hikmah itu. 

Saat Habib Umar mengutip penggalan-penggalan dari para tokoh agama non-muslim yang sudah berpidato sebelum Habib Umar, satu persatu disebutkan tanpa ada yang terlewat. Habib Umar mengutip beberapa pernyataan para pemuka agama sebelumnya Romo Magnis Suseno, Pendeta Martin Sinaga, Bikku Dhammasubo dan lalu menyambut pernyataan-pernyataan mereka dengan sangat bijak dan penuh keluasan ilmu. 

Sampai di sini saya tersadar, bahwa selama ini pasti telah terjadi kesalahpahaman di media sosial. Saya tidak tahu dari mana awalnya kericuhan di media sosial saat itu, tetapi jelas ada pihak-pihak yang sengaja memancing-mancing emosi. Bahkan pihak yang ingin mengadu domba masih tampak dan jelas belum berhenti hingga hari ini. 

Adanya cuplikan video pengawalan Habib Umar oleh Pasukan Brimob, dengan caption penangkapan adalah bukti jelas bahwa ada pihak yang ingin mengadu domba. Itulah yang saya maksud dari awal bahwa ketidakwaspadaan para murid, pengikut dan pengagum Habib Umar bisa dimanfaatkan oleh orang-orang yang menginginkan terjadinya perpecahan di antara sesama umat, sesama santri. 

Rupanya saya tidak sendirian dalam kekhawatiran ini. Salah seorang peserta dialog mengungkapkan kekhawatiran yang sama. Tetapi Alhamdulillah moderator secara tegas menyatakan bahwa kericuhan di media sosial sebelum ini adalah semata-mata kesalahpahaman di dunia maya saja. Tidak pernah terjadi di dunia nyata. Alhamdulillah, sungguh saya sangat lega. 

Oke kita kembali ke sosok Habib Umar. Rupanya sedari tadi beliau mendapatkan penerjemahan dari Habib Jindan tentang pidato para tokoh agama. Hebatnya adalah bahwa sepanjang pidatonya Habib Umar menyampaikan tentang pentingnya kerja sama antar komponen bangsa dan saling pengertian serta saling melindungi. Habib Umar menyitir hadits-hadits, cerita-cerita sebelum turunnya wahyu. 

Tabarrukan dan Tangis Rindu

Pada saat Habib datang, puluhan santri dan kiai serta habaib lainnya bergantian tabarrukan. Ada yang minta salaman, pelukan, ada yang minta doa dan ada yang membawa air minum untuk didoakan. Bahkan antrean ini nyaris tak berhenti hingga acara dimulai dan diterjemahkan kepadanya tentang pidato para pengisi acara di podium.  Pun belum berhenti sama sekali hingga Habib selesai menyampaikan mauidhoh dan turut menanggapi dalam dialog selanjutnya. 

Sama sekali Habib Umar tak menampakkan wajah enggan kepada siapa pun yang ingin tabarrukan dengan beliau. Wajahnya teduh penuh kharisma mengundang siapa pun ingin mendekat. Maka wajar bila pengagumnya membludak di mana pun Habib datang berkunjung. 

Kemarin, seorang teman saya di Kalimantan mengunggah video dengan keterangan "Kalau rejeki takkan ke mana." Video yang diambil oleh teman saya ini menampakkan Habib Umar sedang dilewatkan melalui jalan kecil dari sebuah tempat acara, yang tampaknya itu bukan jalan utama. Sangat mungkin jalan itu dipilih panitia karena membludaknya para jamaah di jalan utama. Terdengar dari rekaman itu, panitia meminta jalan dan mengimbau agar jamaah tidak perlu salaman. 

Adegan dan suara yang sama dari video unggahan teman saya dan video dengan keterangan penangkapan yang hoaks itu adalah imbauan panitia dan suara tangis jamaah yang ingin melihat Habib Umar. Tangis rindu dan keharuan jamaah yang ingin mendekat kepada pujaan hatinya. Tangisan yang membuat kita iri, ingin bisa menangis seperti itu. 

Maka beruntunglah santri-santri yang tak perlu berebut dan berdesakan untuk dapat tabarrukan dengan Habib Umar yang kelewat memesona ini. Semoga kita semua dapat turut mengambil hikmah dan keberkahan dari kedatangan Habib. Serta tetap waspada dari tindakan buruk pihak-pihak yang ingin mengadu domba dan memecah belah umat. 


Penulis adalah Wakil Direktur NU Online