::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Dua Kiai dengan Dua Solusi

Jumat, 19 Oktober 2018 09:00 Hikmah

Bagikan

Dua Kiai dengan Dua Solusi
Kejadiannya sekitar tahun 86. Suatu ketika saya terkena musibah; Kehilangan dompet dengan sejumlah uang di dalamnya. Saya cukup terpukul karena uang itu untuk kebutuhan sekolah, bayar imtihan dan lain-lain.

Di tengah kesedihan itu, seorang teman menawarkan solusi,

“Gimana kalau kita sowan ke Mbah Hasyim?” ajak si teman menawarkan solusi.

“Maksudmu?” Balik saya yg bertanya.

“Nanti saya yang matur soal kehilangan itu. Kita minta wirid dan doa agar bisa menemukan orang yang mengambil atau setidaknya uang temuan itu dikembalikan orang yang nemu.”

Saya terdiam. Agak lama saya menalar solusi teman saya yg rajin sowan mbah kiai minta berbagai ijazah doa itu.

Akhirnya saya menerima solusinya.

Kami berdua sowan. Setelah Mbah Hasyim mempersilakan duduk, si Fulan, teman saya itu langsung matur dengan mimik yg fasih menceritakan kronologi kejadiannya.

Seperti biasa, ekspresi Mbah Hasyim selalu meneduhkan dan memberi asa bagi siapapun yg berkeluh kesah. Dan seperti tahu apa yang kami minta, beliau mengambil secarik kertas dan menulis doa-doa, sebagaimana permintaan Fulan, teman saya.

Setelah dirasa cukup, kami pun pamitan. Tak lupa saya menciumi tangan lembut beliau, berharap berkah kemuliaannya.

Sesampai di asrama. Kami sepakat untuk berbagi tugas. Fulan, yang jago riyadhoh, bertanggung jawab menjalankan wirid sesuai petunjuk Mbah Hasyim. Saya sendiri memilih menjadi detektif, mencari tahu sebab musabab dan berbagai kemungkinan hilangnya si dompet.

Setelah seminggu berselang, saat imtihan sudah dekat, saya sudah mulai tak sabar. Harus ada plan B untuk bisa mengatasi keuangan yang cukup mendesak.

Saya pun diam-diam mencari solusi lain. Kali ini saya sowan sendirian. Bukan ke Mbah Hasyim, tapi Ke Mbah Kiai Habib.

Sesampai di Ndalem, saya utarakan segala hal yang berkaitan dengan problem saya. Selesai matur. Beliau masuk ke kamar. Agak lama saya menunggu dengan harap2 cemas, sampai akhirnya Mbah Habib keluar dengan amplop di tangan dan diberikannya kepada saya seraya berkata,

“Iki nggo mbayar imtihan (ini untuk membayar imtihan).”

Dengan tangan gemetaran saya menerima amplop itu. Sementara Mbah Habib tetap dengan senyum khasnya, seakan menampar kebodohan dan keteledoran saya. Saya cuma bisa mringis kecut, tapi diam-diam bahagia bisa keluar dari persoalan keuangan..

Saat ketemu Fulan, saya buru-buru memujinya.

“Wah, solusi kamu warbiyasah. Duit itu sudah kembali dengan jumlah sama persis dengan yang hilang.”

Dengan heran setengah tidak percaya, Fulan nampak ikut gembira. Belum sempat menanyakan sesuatu, saya langsung potong,

“Coba saya mau tahu, doa apa yang kamu wiridkan!”

Dia kemudian menyodorkan secarik kertas pemberian Mbah Hasyim. Setelah saya amati, doa itu sebenarnya lebih tepat untuk mengikhlaskan apa-apa yang hilang atau lepas dari kita.

“Gimana?” tanya Fulan.

“Sudah, nggak usah tanya apa pun. Tuhan punya banyak cara untuk mengabulkan permintaan hambanya,” jawab saya untuk melegakan Fulan.

Kami pun kemudian merayakan kegembiraan itu di sebuah warung kopi. Dalam hati, saya tak henti-hentinya mengagumi dua solusi cerdas itu. Meski berbeda arah, kedua solusi itu seperti memiliki benang merah yang menghubungkan antara ikhtiar dan tawakal yang kami lakukan. Lahumal Fatihah. (Ade Ahmad)