::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Usai Dilantik, Saefullah Ma’sum Bertekad Bawa JQHNU Makin Maju

Kamis, 18 Oktober 2018 23:27 Nasional

Bagikan

Usai Dilantik, Saefullah Ma’sum Bertekad Bawa JQHNU Makin Maju
Ketua Umum Pimpinan Pusat JQHNU Saefullah Ma'sum
Jakarta, NU Online
Ketua Umum Pimpinan Pusat Jam'iyyatul Qurra Wal Huffazh (JQH) terpilih, Saefullah Ma'sum bertekad membuat organisasi yang dipimpinnya dikenal dan bermanfaat untuk masyarakat luas. 

“Kami bertekad menjadikan JQH populer dan manfaatnya bisa dirasakan masyarakat, terutama masyarakat yang membutuhkan kehadiran Al-Qur’an sebagai sumber bacaan, pemahaman, dan sumber sikap keberagamaan yang baik,” kata Saefullah kepada NU Online di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Kamis (18/10). 

Sebab menurut Ma’sum, selama ini banyak orang yang belum tahu, baik dari sisi nomenklatur maupun kegiatannya. 

“Kalaupun orang tahu, paling kegiatan JQH hanya dianggap MTQ atau MHQ. Padahal kegiatan JQH bukan hanya itu,” ucapnya.  

Cara menghidupkannya, sambung Saefullah, dengan melakukan konsolidasi ke berbagai daerah sehingga, organisasi yang berisi para penghafal Al-Qur’an ini aktif dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. 

“Kami wajib menghidupkan JQH yang tidak aktif. Sebab kalau tidak hidup, kami tidak bisa mengirim program-program dari pusat untuk dilakukan di daerah,” katanya.

Selain itu, Saefullah juga mengaku akan menumbuhkan tradisi keilmuan para huffazh karena di JQH banyak akademisi .  Hal itu untuk membantah orang-orang yang beranggapan bahwa para penghafal Al-Qur’an tidak terampil dan tidak menghidupkan keilmuan.

“Kami ingin menghidupkan kembali  tradisi keilmuan Al-Qur’an di JQH melalui diskusi-diskusi dengan mengambil sumber dari Al-Qur’an yang tidak akan pernah habis untuk dikaji. Mengaktifkan penulisan-penulisan ilmiah melalui berbagai media dan forum, dan buku-buku,” jelasnya. (Husni Sahal/Abdullah Alawi)