::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

HARI SANTRI 2018

Gubernur Jabar: Indonesia Merdeka Atas Peran Santri

Senin, 22 Oktober 2018 17:32 Nasional

Bagikan

Gubernur Jabar: Indonesia Merdeka Atas Peran Santri
Gubernur Jabar Ridwan Kamil
Tasikmalaya, NU Online
Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menyebut bahwa kemerdekaan Indonesia tidak bisa lepas dari peran santri. Sebab, sejarah telah mencatat perannya dalam melawan penjajah dari mulai merebut kemerdekaan hingga mempertahankannya.

"Sejarah telah mencatat perjuangan melawan penjajah, merebut kemerdekaan, menjaga kedaulatan republik negeri ini tidak lepas dari peran ulama dan santri," kata Ridwan Kamil saat menyampaikan sambutan pada acara Peringatan Hari Santri 2018 di Lapangan Dadaha, Senin (22/10).

Gubernur yang karib disapa Kang Emil ini pun mengaku bahwa ada salah satu anggota keluarganya yang menjadi santri dan meninggal pertempuran melawan penjajah.

"Dari pihak keluarga saya pun punya kakek, Haji Muhidin, bertempur melawan penjajah Belanda. Sampai wa saya pun syahid gugur di pertempuran di Ujung Berung, menandakan dari keluarga kami pun sudah berkorban nyawa para santri demi tegaknya NKRI republik Indonesia," ucap Kang Emil.

Selain itu, Kang Emil mengatakan akan memberikan perhatian kepada santri, masjid dan pesantren di Jawa Barat yang jumlahnya sangat banyak agar daerah yang dipimpinnya dapat dibanggakan.

"Provinsi Jawa Barat harus menjadi masyarakat yang juara, kompetitif dan produktif, lahir batin kita harus seimbang, antara pembangunan dunia, pembangunan infrastruktur dengan pembangunan mentalitas," jelasnya.

Untuk mewujudkan itu, pihaknya mengaku tengah menyiapkan beberapa program terkait santri, pesantren, dan masjid. Di antara programnya, ialah membantu infrastruktur pesantren, membangun kemandirian pesantren dengan cara menciptakan satu perusahaan di satu pesantren, dan memberikan keterampilan bahasa Inggris kepada para ustadz agar bisa berdakwah ke luar negeri. (Husni Sahal/Abdullah Alawi)