::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Beben Jazz Bisa Mengenal Allah melalui Musik

Kamis, 01 November 2018 09:00 Halaqoh

Bagikan

Beben Jazz Bisa Mengenal Allah melalui Musik
Foto: harnas.co
Belakangan ada kalangan pemusik yang meninggalkan musik. Bukan karena usianya tua atau tak ada lagi fasilitas, tapi lebih karena pemahaman. Bagi mereka, bermain musik adalah haram. Padahal di kalangan ulama sendiri, musik adalah masalah khilafiyah (perbedaan) pendapat. Ada yang membolehkan, ada pula yang mengharamkan. 

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj misalnya pernah berkomentar bahwa seni, termasuk di dalamnya musik, kalau bisa menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah, dibolehkan. Yang diharamkan adalah musik yang menjadi sarana maksiat. 

Salah seorang pemusik Indonesia pada genre jazz, yaitu Beben Jazz punya penjelasan tersendiri terkait dia, musik dan Sang Pencipta. Menurut dia, ketika bermain musik, justru bisa mendekatkan diri kepada Allah. Dalam penghayatannya, saat bermain musik bisa merasakan keindahan. Tentu, pada hakikatnya keindahan itu diciptakan Yang Maha Indah. 

Pada saat yang sama, rasa syukur juga bisa timbul karena betapa manfaatnya organ tubuh si pemusik. Jika Beben tak punya satu saja jari kelingking, akan sukar sekali memainkan musik jazz. Dengan demikian, betapa pentingnya kelingking itu. Betapa hebat Sang Pencipta kelingking itu. Dialah Allah.

Untuk lebih lengkap bagaimana pengalaman bermain musik dari Beben Jazz, Abdullah Alawi berhasil mewawancarainya selepas Haul Mahbub Djunaidi yang diselenggarakan PMII UNUSIA Jakarta dan komunitas literasi Omah Aksoro itu di Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA), Jumat (19/10). 

Berikut petikannya: 

Kenapa untuk tahun kedua ini, secara berturut-turut datang dan mengisi acara di Haul Mahbub Djunaidi? 


Pertama sih, kalau dari sisi spiritual, pasti tidak  ada yang kebetulan. Kenapa saya ada di sini lagi? Kedatangan kedua ini semacam menegaskan bahwa Pak Mahbub ini jiwanya jazz. 

Bagi saya, yang pertama adalah pertemuan, perkenalan saya dengan PAK mahbub dan coba kita lihat, jazz dan esai, karena Pak Mahbub sudah Jazz. Tapi apakah cukup suka jazz. Pak Mahbub sudah jazz, anaknya ada yang jazz. 

Kalau yang di atas, sang Maha Kekasah, Allah, biasanya kalau kisah dengan ruh, ruh, penasaran itu, secara enggak langsung seakan-seakan menuju ke arah Pak Mahbub itu jiwanya jazz, jazz dalam politik, dalam organisasi, dalam spiritual. Tapi rasanya,  kurang cukup kalau sekali. 

Oh ya, bisa ceritakan tentang musik jazz, terkait agama? 

Kadang-kadang ada orang cuap-cuap agama, mungkin ahli fiqih, mungkin ahli yang lain. Tetapi ada orang-orang "laku", mungkin "laku"-nya, meskipun tidak bicara ayat, tapi lakunya spiritual; jadi, kadang-kadang bisa bentuknya penyampaian bisa bentuknya simbol, tapi kan poinnya satu, jazznya Allah adalah, ternyata orang bisa menjadi baik enggak lewat masjid semua; orang bisa lewat jazz, bisa lewat komputer itu kenal Allah. Segala sesuatu kan ujung-ujungnya, aku harta karun terpendam, aku ingin ditemukan. Saya menemukan Allah lewat jazz. Saya tidak tahu nanti di Padang Mahsyar, musik jazz saya statusnya saya tidak tahu, tapi saya mengenal Allah melalui jazz. Tapi saya juga nurut atas kehendak Allah, kalau 5 tahun nanti saya tidak ngejazz itu lebih baik, saya nurut juga. Tapi saat ini saya kenal Allah melalui jazz. 

Bagaimana penjelasannya mengenal Allah lewat jazz itu? 

Sederhana. Sebetulnya jazz itu hanya simbol. Kita kan bisa merasakan hadirnya Allah itu lewat rasa takut, keindahan dan knowledge (pengetahuan). Sekarang jazzer salah satu amanahnya adalah menghadirkan keindahan dengan laku yang khusuk, bermain karena Allah, yang semata-mata karena Allah. Ketika kita main, orang positif orang merasakan hadirnya Allah di situ. Atau dengan ma’rifat, mendalami jazz.

Kita kan tahu ketika lautan dijadikan tinta dituliskan di buku, tak akan cukup. Tapi merasa tidak keluasan ilmu Allah. Dan kalau mau merasakan, dalami ilmu satu saja. Contohnya jazz. Jazz itu banyak banget. Allah mengajar, Allah itu maha detail, di cord jazz itu, kok cord jazz itu susah-susah, itu untuk detail, untuk menghadirkan keindahan sejati. Bukankah itu Allah mengajarkan detail. Ya kalau kita paham itu, detailnya jazz itu belum seberapa dengan Allah. Tapi kita lewat jazz dulu supaya kita bisa merasakan apa yang dinamakan Allahu akbar lewat jazz. 

Jadi korelasi begini, bukan hanya jazz, bisa di komputer, bisa di mana pun, tapi saya kan jazzer. Dengan mendalami ilmu jazz, nanti yang dinamakan ilmu Allah itu luas terasa banget. Akhirnya apa? Akhirnya saya ketemu cord c7-9. Terus kalau cord c7-9, kalau kelingking gua enggak ada, gua enggak bisa megang cord ini nih. Akhirnya apa, megang megang cord itu saya menjadi zikir. Kelingking aja itu, kok ada ya cord seperti ini. Detail. 

Dengan menyadari bahwa kelingking ini berfungsi, kadang-kadang kita tak bersyukur dengan adanya kelingking ini, padahal ketika dalam konteks pemain jazz demikian sangat berarti banget. 

Banget. 

Fungsi kelingking saja bagi seorang jazzer bisa mengingatkannya kepada Sang Penciptanya.

Betul. Jadi, semua yang saya lakuin di jazz, bagi saya itu dzikir itu semua. Bagi saya itu ibadah.  

Padahal itu hanya dari satu kelingking; mensyukuri ciptaan Allah melalui kelingking. 

Iya. Itu baru hal kecilnya. Jadi, bagi Rumi, sementara kan, kalau dibicarain panjang ya, isu-isu musik halal haram, halal haram, pasti orang punya perjalanan, spiritual journey, spiritual music, sementara saya merasakan hadirnya Allah, merasakan kebesaran Allah lewat jazz, sementara sahabat spiritual saya, yang saya belum pernah ketemu, Jalaluddin Rumi mengatakan, seni adalah keindahan Tuhan yang turun ke bumi. Tapi intinya adalah lewat jazz, saya bisa mengenal Allah.