::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Kisah Kiai Syamsul Arifin Dilarang Bangun Masjid pada ‘Hari Sial’

Senin, 29 Oktober 2018 12:30 Hikmah

Bagikan

Kisah Kiai Syamsul Arifin Dilarang Bangun Masjid pada ‘Hari Sial’
Suatu hari Almaghfurlah  KHR Syamsul Arifin, pendiri Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo Situbondo Jawa Timur, sebagaimana pernah diceritakan KH Muhyiddin Abdusshomad Jember, sedang mengawasi proses pembangunan masjid di pesantrennya. Tiba-tiba datanglah salah seorang tokoh masyarakat setempat kepada beliau.

"Mengapa Kiai membangun masjid pada hari ini, padahal menurut hitungan ‘nogo dini’ ini adalah hari jelek,” kata si tokoh tersebut bermaksud mengingatkan Kiai Syamsul.

"Ayo semuanya berhenti, karena sekarang adalah hari tidak baik,” perintah Kiai Syamsul kepada para pekerja begitu mendengarkan perkataan atau wejangan tokoh masyarakat tersebut.

Namun setelah sang tokoh masyarakat itu pulang, Kiai Syamsul memerintahkan pekerja agar kembali meneruskan pekerjaannya.

Begitulah etika dalam berhubungan sosial yang dicontohkan Kiai Syamsul Arifin Situbondo dalam menyikapi keyakinan seseorang yang masih memegang teguh tradisi dan adat yang masih berlaku di masyarakat setempat.

Tampaknya, meskipun beliau sendiri tidak memakai atau menggunakan adat sebagaimana yang dipercayai sang tokoh dan memiliki pendirian sendiri terkait soal ini, namun Kiai Syamsul Arifin memerintahkan para pekerja supaya berhenti sementara dengan maksud untuk tetap menghormati pendapat sang tokoh masyarakat itu. Seakan beliau berpesan bahwa perbedaan yang tidak prinsipil tidak sepatutnya diperdebatkan dengan sengit apalagi bukan pada forum yang dikhususkan untuk berdiskusi.

Sebaliknya hubungan pertemanan yang baik dan harmonis menjadi prioritas utama daripada berpolemik atau memilih perdebatan kontraproduktif yang kerap mengakibatkan rengganngnya hubungan persahabatan terutama bagi seseorang yang kepribadiannya belum siap menerapkan metode perdebatan dalam memecahkan sebuah problem. (M. Haromain)