::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Enam Pola Penulisan Al-Qur’an yang Berbeda dari Kaidah Arab Konvensional

Selasa, 30 Oktober 2018 10:00 Ilmu Al-Qur'an

Bagikan

Enam Pola Penulisan Al-Qur’an yang Berbeda dari Kaidah Arab Konvensional
Ilustrasi (via Twitter)
Pada dasarnya, penulisan bahasa Arab harus sesuai antara apa yang tertulis dan apa yang diucapkan, tanpa harus ada penambahan dan pengurangan, sesuai kaidah yang berlaku pada penulisan bahasa Arab. Penulisan samacam ini dikenal dengan “rasm imla’î”. Sementara itu, dalam penulisan mushaf Al-Qur’an yang kita ketahui bersama terdapat beberapa penulisan yang berbeda dan tidak sesuai dengan pola penulisan bahasa Arab secara konvensional.

Hal itu lantaran teks Al-Qur’an yang sampai pada kita sekarang menggunakan standar rasm mushaf utsmanî. Secara definitif, rasm mushaf utsmanî adalah penulisan kalimat-kalimat atau huruf-huruf Al-Qur’an yang dilaksanakan dan disahkan oleh khalifah Utsman bin 'Affan radliyallahu ‘anh.

Penulisan mushaf memiliki beberapa kaidah (pola penulisan) baik dalam khat dan rasm-nya. Pola penulisan ini terbagi enam:

Pertama, kaidah hadf (pengurangan huruf). Dalam pola ini ada beberapa pengurangan; alif, ya’, wawu dan lam.

• Pengurangan huruf alif, seperti lafadz: (الرّحمن) (سبحن), penulisan yang baku dalam bahasa Arab seharusnya (الرّحمان) (سبحان).

• Pengurangan huruf ya’ seperti, (غير باغ ), penulisan secara imla’I seharusnya (غير باغي ).

• Pengurangan huruf wawu seperti, (يدع) (يمح الله), penulisan yang baku dalam bahasa Arab seharusnya: (يدعو) (يمحو الله)

• Pengurangan huruf lam, seperti (اليل) (الذي), penulisan bahasa Arab yang benar seharusnya, (الليل) (اللذي). 

Kedua, pola penambahan huruf, yakni alif, wawu dan ya’. 

• Penambahan huruf alif, seperti: (مائة), penulisan yang benar dalam bahasa Arab seharusnya (مئة).

• Penambahan huruf ya’ seperti, (بأييد), penulisan yang benar dalam bahasa Arab seharusnya (بأيد).

• Penambahan huruf wawu seperti, (أولئك) (أولو),penulisan yang benar dalam bahasa Arab seharusnya (أولئك) (أولو). 

Ketiga, pola penulisan hamzah, secara ringkas bahwa hamzah sukun ditulis sesuai huruf harakat sebelumnya, seperti pada lafadz (البأساء) (آؤتمن) (آئذن). Sedangkan hamzah yang berharakat apabila di awal kalimat dan bersambung dengan huruf tambahan, maka ditulis dengan huruf alif, baik berharakat fathah maupun berharakat kasrah, seperti (أيوب) (إذا) (سأنزل). Adapun apabila hamzah berada di tengah-tengah kalimat, maka ia ditulis sesuai dengan jenis harakatnya, seperti (سأل) (سئل) (تقرؤه). Sementara hamzah yang berada di ujung kalimat, maka ditulis sesuai dengan harakat sebelumnya, seperti (سبأ) (شاطئ) (لؤلؤ). 

Keempat, pola pergantian huruf dengan huruf yang lain, seperti pergantian huruf alif dengan huruf wawu pada kalimat berikut ini (الصلوة) (الزكوة) (الحيوة), penulisan yang baku dalam bahasa Arab seharusnya (الصلاة) (الزكاة) (الحياة). 

Kelima, pola persambungan dan pemisahan huruf dengan huruf yang lain atau sebaliknya. 

• Pola persambungan seperti (ألن نجمع عظامه) yang lazimnya ditulis (أن لن نجمع عظامه).

• Pola pemisahan seperti (أنّ ما) yang lazimnya ditulis (أنّما).

Keenam, pola tulisan yang memiliki dua bacaan, yaitu seperti: (مَلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ) (يُخَدِعُوْنَ). kedua contoh tersebut dalam mushaf tidak ditulis huruf alif sebagai tanda panjang namun ada riwayat yang membaca panjang. Seharusnya, secara penulisan imla’I ditulis sebagai berikut: (مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ) (يُخَادِعُوْنَ).

Demikian penjelasan yang disarikan dari kitab Manâhil ‘Irfân fî Ulûmil Qur’ân (Kairo: Maktabah Isa Al-Halabi, tt. h. 369). Perlu diketahui bahwa kaidah penulisan yang telah disebutkan di atas, tidak sepenuhnya berlaku pada penulisan Al-Qur’an, sebab ada banyak lafadz-lafadz dalam Al-Qur’an yang pada suatu ayat ditulis dengan pola tertentu, tetapi pada ayat yang lain—padahal lafadznya sama—ditulis dengan pola lain. Oleh karena itu, pola penulisan Al-Qur’an tidak bisa dijadikan pedoman yang baku, tidak bisa dijadikan qiyas atau standar (خط المصحف لا يقاس عليه).
 
Kaitannya dengan ini, maka tidak boleh seseorang membaca Al-Qur’an hanya berpedoman pada penulisan mushaf tanpa disertai talaqqi atau berguru kepada seorang guru yang mutqin (ahli). 


Moh. Fathurrozi, Pecinta Ilmu Qira’at, Kaprodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir IAI Al Khoziny Buduran Sidoarjo