::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Peringati Hari Santri dan Haul Pesantren dengan Lailatul Qiraah

Rabu, 31 Oktober 2018 22:00 Daerah

Bagikan

Peringati Hari Santri dan Haul Pesantren dengan Lailatul Qiraah
Blitar, NU Online
Lantunan kalam ilahi mulai dari qiraah sab'ah, asrah dan arba terus menerus bergema dari para qari dan qariah, Selasa (30/10). Mereka adalah santri yunior maupun senior di Pesantren Mambaussholihin, Sumber, Sanankulon, Blitar, Jawa Timur.

Sejak habis Isya hingga pukul 23.00 para qari terus malantunkan kalamullah dengan merdu dan syahdu. Ternyata kegiatan digelar lailatul qiraah yang diselenggarakan pengurus Jamiyatul Qura wal Huffadz Nahdlatul Ulama (JQHNU) Kabupaten Blitar.

"Lailatul qiraah ini sebenarnya acara rutin JQHNU Blitar tiap selapan," ujar Ustadz Taufiq salah seorang panitia dan pengurus JQHNU Blitar.

Menurutnya, kegiatan dilaksanakan setiap Sabtu malam Wage. “Namun karena rutinan bulan ini bersamaan dengan peringatan hari santri, maka waktunya diubah menjadi malam ini,” katanya.

Selain itu, lanjut Taufiq ada permintaan dari Pesantren Mambaussholihin agar kegiatan lailatul qiraah dilaksanakan pas pelaksanaan haul KH Misbahuddin Ahmad, selaku pendiri pesantren.

"Kami sebelumnya sudah ada kesepakatan dengan pimpinan Ponpes KH Muhammad Amin dan mengundang JQHNU dalam rangka mengisi rentetan kegiatan haul ketiga pendiri Pesantren Mambausholihin, almaghfurlah KH Misbahuddin Ahmad," ungkap Taufiq.

Selama ini, kata Taufiq, kegiatan lailaul qiraah berlangsung dari masjid ke masjid di wilayah Blitar. Pengurus JQHNU berharap ke depannya bisa bertempat di lembaga lembaga lain. “Baik lembaga milik pemerintah maupun lainnya. Bisa di Polres, Kodim atau pendapa Kabupaten," harapnya. (Imam Kusnin Ahmad/Ibnu Nawawi)