::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Adab-adab Pelajar kepada Guru Menurut KH Hasyim Asy’ari (III-Habis)

Senin, 05 November 2018 11:30 Ubudiyah

Bagikan

Adab-adab Pelajar kepada Guru Menurut KH Hasyim Asy’ari (III-Habis)
Ilustrasi (Tebuireng Online)
Sembilan adab yang dipaparkan sebelumnya telah berbicara banyak tentang sikap-sikap etis yang mesti dilakukan murid terhadap guru. Mulai dari selektif menentukan guru, menaati, memuliakan, sabar, hingga tindak-tanduk ketika berada dalam satu majelis bersama guru. Berikut ini akan dijelaskan tentang tiga adab lain yang menggenapi pembahasan tentang 12 adab seorang santri kepada gurunya sebagaimana dipaparkan Hadratussyekh Muhammad Hasyim Asy’ari dalam kitabnya Adab al-Alim wa al-Muta’allim.

Baca juga:
Adab-adab Pelajar kepada Guru Menurut KH Hasyim Asy’ari (I)
Adab-adab Pelajar kepada Guru Menurut KH Hasyim Asy’ari (II)
Kesepuluh, mendengarkan dengan seksama penjelasan guru.

Ketika guru menyampaikan presentasinya, hendaknya didengarkan dengan penuh khidmat, meski pelajar sudah hapal atau mendengar penjelasan gurunya. Sebaiknya mendengar layaknya orang yang baru mengetahui, dengan riang gembira dan penuh antusias. Tidak justru mengabaikan atau menganggap maklum. 

KH. Hasyim Asy’ari memberi contoh keteladanan pada diri Imam Atha’, salah satu pakar fiqih dan hadits di masanya. Imam Atha’ menanggalkan segala atribut kebesarannya setiap kali mendengarkan hadits dari siapapun, beliau senantiasa menyimaknya dengan sungguh-sungguh, seolah beliau baru pertama kali mengetahui, meski mendengar dari para pemula. Padahal beliau sudah hafal di luar kepala, bahkan mengetahui detail-detail sanad dan para perawinya. 

Imam Atha’ mengatakan:

إني لأسمع الحديث من الرجل وأنا أعلم به منه فأريه من نفسي أني لا أحسن منه شيأ

“Sungguh aku mendengar hadits dari seseorang yang aku lebih mengetahui dari pada dia, kemudian aku yakinkan pada diriku, bahwa aku sama sekali tidak mengetahui hadits tersebut.”

Diriwayatkan juga dari Imam Atha’ beliau mengatakan:

إن بعض الشبان ليتحدث بحديث فأستمع له كأني لم أسمعه ولقد سمعته قبل أن يولد

“Sesungguhnya sebagian pemuda berbicara tentang hadits lalu aku mendengarkannya seakan aku belum pernah mendengarnya, sesungguhnya aku telah mendengarnya sebelum mereka lahir.”

Pendapat KH. Hasyim Asy’ari ini senada dengan pemaparan Syekh al-Zarnuji dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim. Menurut al-Zarnuji, pelajar yang baik dan ahli ilmu adalah ia yang selalu antusias mendengarkan ilmu, meski berulang-ulang ia dengar. Al-Zarnuji menegaskan:

وينبغى لطالب العلم أن يستمع العلم والحكمة بالتعظيم والحرمة، وإن سمع مسألة واحدة أو حكمة واحدة ألف مرة. وقيل من لم يكن تعظيمه بعد ألف مرة كتعظيمه فى أول مرة فليس بأهل العلم

“Seyogyanga bagi pencari ilmu mendengarkan ilmu dan kalam hikmah dengan menaggungkan dan memuliakan, meski ia telah mendengar satu permasalahan sebanyak seribu kali. Diucapkan, orang yang mengagungkannya setelah yang ke seribu kali tidak seperti saat ia baru pertama mendengar, maka bukan ahli ilmu.” (al-Zarnuji, Ta’lim al-Muta’allim, hal. 30).

Ketika gurunya bertanya apakah murid sudah pernah mendengar penjelasan yang hendak disampaikan guru, tidak pantas bagi pelajar untuk menjawab iya atau tidak. Tidak layak menjawab iya, karena mengesankan ketidakbutuhan kepada penjelasan guru. Pun demikian dengan jawaban tidak, kesalahannya karena ia telah berbohong. Jawaban yang tepat adalah dengan meminta gurunya tetap menjelaskan tanpa harus berbohong atau menyinggung perasaan gurunya, misalkan dengan berucap “aku sangat senang mendengarnya dari engkau.”

Kesebelas, tidak mendahului keterangan guru.

Saat berada dalam sebuah forum bersama guru, hendaknya murid tidak mendahului atau membarengi guru untuk menjelaskan permasalahan atau menjawab sebuah pertanyaan. Pelajar juga tidak boleh memotong pembicaraan guru dengan perkataan apapun, ia harus bersabar sampai guru menyelesaikan perkataannya. Saat guru memberikan arahan, tidak baik untuk berbicara sendiri. Konsentrasi murid harus tercurahkan dengan baik saat mendengarkan perintah, nasehat atau pertanyaan gurunya, jangan sampai gagal fokus, usahakan guru tak perlu lagi mengulangi perkataannya.

Keduabelas, menjaga etika saat menerima atau memberi sesuatu dari guru.

Ketika guru memberinya tugas, hendaknya menerima dengan tangan kanan. Bila berupa lembaran, maka dibaca dengan memegangnya, jika terdapat asma’-asma’ yang dimuliakan, hendaknya diangkat dengan penuh etika. Saat menghaturkannya kembali kepada guru, jangan dikembalikan dalam kondisi terlipat, harus rapih dan tertata, kecuali yakin atau menduga gurunya menghendaki demikian.

Saat menghaturkan buku atau kitab yang hendak dibacakan guru, hendaknya diserahkan dalam keadaan siap saji, sudah diberi batas baca sehingga guru tidak perlu mencari halaman yang hendak dibaca. Demikian pula saat sang guru bertanya batas pelajaran, hendaknya murid menunjukan dengan jelas, membuka kitabnya dengan menunjukan batas pelajaran yang dimaksud. Murid juga dianjurkan untuk tidak menghapus sedikitpun keterangan guru yang ia tulis di kertas atau kitabnya. Demikian pula saat memberikan alat tulis kepada guru, misalkan wadah mangsi, hendaknya tutupnya sudah dibuka dan dipersiapkan, guru tinggal menulis tanpa perlu membukanya.

Dalam memberikan sesuatu yang dibutuhkan guru, hendaknya tidak merepotkan beliau, misalkan menghaturkan buku, hendaknya murid berdiri mendekat gurunya, jangan sampai guru beranjak dari tempat duduknya. Demikian pula ketika menerima alat tulis dari guru, pelajar hendaknya mengulurkan tangannya terlebih dahulu sebelum guru memberikan alat tulis kepadanya.

Posisi duduk dengan guru sebaiknya tidak terlampau dekat sehingga menunjukan etika yang buruk. Saat menerima tugas, usahakan tangan, kaki atau anggota tubuh lainnya tidak melakukan kontak fisik dengan baju, bantal, sajadah atau alas lantainya guru.

Saat menghaturkan pisau, jangan mengarahkan bagian yang tajam, juga tidak dengan menghaturkan bagian rangka pisau dengan menggenggam bagian ujungnya. Etika yang baik adalah diberikan dengan cara memiringkan pisau, bagian tajam pisau mengarah kepada murid, memegangi ujung rangka (bagian tengah yang berdekatan dengan pisau) dan menjadikan rangka di sebelah kanan guru yang hendak menerima pisau tersebut.

Ketika menghaturkan sajadah untuk shalat, hendaknya dibentangkan terlebih dahulu, lalu mempersilahkan guru shalat di atasnya. Etika ini juga berlaku setiap kali murid mengetahui gurunya hendak melakukan shalat. Hendaknya tidak duduk di hadapan guru di atas sajadah atau shalat di atasnya kecuali karena faktor tempatnya tidak suci atau ada udzur yang menuntut mengenakan sajadah. Saat guru beranjak dari tempat shalat, sebaiknya murid bergegas mengambilkan sajadahnya dan memperisapkan sandalnya, yang demikian itu dilakukan untuk mecari ridlo Allah dan guru.

Menurut Hadlratus Syekh, ada empat hal yang diperhatikan orang mulia meski ia sudah menjadi raja. Pertama, berdiri dari tempat duduk untuk menghormati ayah. Kedua, melayani cendekia yang mengajarkannya. Ketiga, bertanya hal-hal yang tidak diketahui. Keempat, memuliakan tamu.

Prinsip Etika kepada Guru

Pada prinsipnya seorang pelajar ditekankan untuk menjaga etika dengan gurunya, baik dalam perilaku, ucapan dan perbuatan. Pelajar juga dituntut untuk khidmah kepada gurunya, memberikan kenyamanan dan pelayanan yang sempurna kepadanya. 

Saat berjalan bersama guru, hendaknya berada di depan saat malam hari dan berada di belakangnya di siang hari, kecuali bila situasi menuntut sebaliknya, misalkan karena berdesakan atau lainnya. Di tempat-tempat yang becek misalnya, pelajar harus menjadi yang terdepan untuk melindungi gurunya, jangan sampai percikan air mengotori baju sang guru. Saat berada dalam situasi berdesakan, hendaknya menjaga guru dengan tangannya, bisa dari arah belakang atau depan.

Saat berjalan di depan guru, sesekali memantau ke arah belakang untuk mengetahui keadaan dan kenyamanan beliau. Saat gurunya mengajak bicara di tengah perjalanan, sebaiknya berada di sebelah kanan guru, ada pula yang menganjurkan sebelah kiri, dengan posisi sedikit lebih maju dan menengok ke arah guru.

Tidak baik berjalan di samping guru kecuali ada hajat atau diperintahkan guru. Sebaiknya menghindari berdesakan dengan pundak guru atau kontak fisik dengan baju guru, usahakan agak jauh, menjaga jarak.

Saat cuaca panas, gurunya diberikan tempat yang rindang, saat cuaca dingin diberi tempat yang hangat, namun tidak sampai terkena sorotan sinar matahari yang mencolok sehingga mengganggu kenyamanan guru. Hendaknya tidak berjalan di antara guru dan orang yang sedang berbincang dengan beliau, yang baik adalah mengambil posisi mundur atau maju, tidak mendekat, tidak menengok serta tidak menguping pembicaraan mereka. Bila pelajar dipersilahkan masuk mengikuti perbincangan sebaiknya masuk dari arah yang berbeda.

Saat bertemu guru di jalan, mulailah berucap salam kepadanya bila jaraknya dekat. Bila jauh, maka tidak perlu berteriak atau memanggilnya, cukup bersiap diri untuk menyampaikan salam. Tidak baik mengucapkan salam dari tempat yang jauh atau dari balik tirai, yang tepat adalah mendekat kepada guru baru mengucapkan salam. 

Tidak layak mengambil rute perjalanan tanpa dimusyawarahkan atau meminta izin terlebih dahulu kepada guru. Saat pelajar sampai di kediaman guru, jangan berdiri di depan pintu, khawatir berpasasan dengan keluarga atau penghuni rumah yang tidak disukai guru dilihat oleh orang lain. Saat gurunya turun dari kendaraan, hendaknya pelajar mendahului, berjaga-jaga bila sang guru terpeleset, bisa berpijak di pundaknya. 

Murid boleh saja tidak sama dengan hasil pemikiran gurunya, bila menurut pelajar pendapat guru kurang tepat, hendaknya tidak menyalahkan atau merendahkan. Misal berucap “ini salah”, “ini bukan pendapat yang benar.” Namun sebaiknya dengan bahasa yang sopan dan santun, misalkan berucap “pendapat yang jelas adalah mashlahatnya menuntut demikian”, tidak baik menyampaikan dengan bahasa yang membanggakan pendapatnya sendiri, misalkan “menurutku yang benar demikian” atau ucapan-ucapan yang sejenis.

Demikianlah adab-adab pelajar kepada guru dalam pandangan KH. Hasyim Asy’ari, bila etika-etika tersebut dijalankan dengan baik, maka sangat besar peluang murid untuk mendapatkan keberkahan dan ilmu yang bermanfaat. Dengan adab-adab tersebut para ulama bisa sukses dalam belajar. Semoga kita sedikit-sedikit bisa meneladaninya. Amin. Wallahu a’lam. (M. Mubasysyarum Bih)