::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Islam Marah-marah?

Senin, 05 November 2018 17:45 Opini

Bagikan

Islam Marah-marah?
Ilustrasi (ist)
Oleh Zastrouw Al-Ngatawi

Judul di atas bukan bermaksud membuat ajaran atau sekte baru dalam Islam. Bukan pula memecah belah Islam yang satu dan tidak bisa pecah-pecah lagi. Atau merusak ajaran Islam yang sudah final dan sempurna sehingga tidak perlu lagi tambahan apapun, sebagaimana tudingan yang dilakukan oleh beberapa orang terhadap Islam Nusantara. Judul di atas hanya refleksi  atas tampilan wajah Islam yang diekspesikan oleh sekelompok orang yang mengaku Islam dan menggunakan simbol-simbol Islam dalam perilaku sosial dan gerakan politik akhir-akhir ini

Secara fatual kita menyaksikan wajah Islam saat ini lebih banyak dipenuhi oleh ekspresi kemarahan dan kebencian. Ekspresi ini tidak hanya terjadi di ranah wacana yang ada di media sosial tapi sudah merambah ke dunia nyata. Seperti terlihat dalam demo atas nama Islam yang isinya hujatan dan kata-kata kebencian. Bahkan masjid dan majelis taklim yang mestinya menjadi tempat beribadah untuk membersihkan hati dan mencari ketenangan sudah teralih fungsi menjadi tempat provokasi, menyebar fitnah dan menyemai kebencian atas nama Tuhan dan Islam.

Banyak orang yang merasa harus marah dan benci pada kompok lain supaya menjadi muslim yang kaffah. Semakin garang, semakin marah dan semakin membenci seolah mereka menjadi muslim yang baik dan shaleh. Perasaan ini kelihatannya bersumber dari ayat: "..... asyiddau alal kuffar wa ruhamau bainahum" (bersikap tegas/keras pada orang kafir dan lemah lembut pada sesama muslim, QS al-Fath: 29).

Yang dipahami secara tekstual kemudian diajarkan secara massif dan provokatif. Dan celakanya, pemahaman kafir pun mengalam pendangkalan dan penyempitan makna. Orang-orang yang berbeda tafsir dan pemahaman terhadap Islam bahkan berbeda pilihan politik dianggap kafir sehingga perlu diperangi dan disikapi secara tegas. Inilah yang menyebabkan mereka mudah marah dan membenci.

Dalam Islam, marah (ghadab) itu diperbolehkan untuk membela diri ketika diserang, membela kehormatan, harta benda, kepentingan umum, menolong orang yang terdzolimi dan mempertahankan agama. Inilah yang disebut dengan marah yang terpuji. 

Meski dalam Islam memperbolehkan marah namun harus dilakukan dengan persyaratan yang ketat dan kendali yang kuat. Ini untuk menjaga agar kemarahan tidak sampai menimbulkan kerusakan dan membuat pelakunya tergelincir dalam dendam dan emosi yang justru bisa menodai niat dan merusak cintra Islam. 

Sikap menjaga niat dalam kemarahan agar tidak terkotori oleh dendam pernah dicontohkan oleh Sayyidina Ali. Ketika beliau berhasil meringkus lawan dan tinggal membunuhnya tiba-tiba lawan tersebut meludahi Sayyidina Ali. Seketika beliau melepas lawan tersebut dan tidak jadi membunuhnya. Orang tersebut terkejut dan heran, kemudian berkata: "Kenapa kau lapas aku dan tidak jadi membunuhku?".

Dengan tegas Sayyidina Ali menjawab: "Aku khawatir membunuhmu bukan karena Allah tapi karena dendam dan kebencianku padamu akibat ulahmu yang telah meludahiku". Kisah Sayyidina Ali ini bisa menjadi cermin bagaimana menjaga hati dan niat dalam kemarahan, lebih-lebih jika kemarahan itu dilakukan demi agama.

Mengendalikan diri dan menjaga niat dalam kondisi marah bukanlah perkara mudah. Karena sulitnya mengendalikan amarah dari jebakan dendam dan tindakan destruktif, maka ketika ada seorang sahabat yang minta nasihat pada Nabi, beliau menjawab agar jangan mudah marah. Dan jawaban itu dilakukan sampai tiga kali.

Para sufi mengajarkan ilmu tasawuf melalui dzikir dan laku suluk untuk menjaga kelembutan hati dan mengolah kepekaan batin agar tidak mudah marah. Melalui laku tasawuf seseorang dilatih menaklukkan diri sendiri, mengendalikan nafsu amarah sehingga mampu bersikap tegas tanpa kekerasan, menaklukkan tanpa kebencian.

Selain itu, para sufi juga menggunakan cara humor untuk menjaga hati agar tidak mudah larut dalam kemarahan. Di dunia sufi, humor tidak saja berfungsi sebagai sarana mentertawakan diri sendiri untuk mengikis kesombongan diri, tetapi juga sarana bercermin dan menanamkan nilai kearifan. Dalam hal ini kita bisa melihat kisah-kisah Nasrudin Hoja, Abu Nawas yang bernuansa humor tapi sarat makna. 

Melalui laku dan nilai-nilai tasawuf ini ajaran Islam bisa diekspresikan secara arif dan penuh kesejukan tanpa kehilangan ketegasan. Tasawuf juga bisa menjaga muatan spritual dalam beragama sehingga tidak mudah terjebak dalam penjara  teks dan berhala simbol. Beragama tanpa spiritual inilah yang memunculkan sikap kering, keras dan kaku yang membuat pemeluk agama menjadi mudah marah, mudah memusuhi dan suka membenci. 

Jika agama diekspresikan dengan kemarahan dan kebencian maka agama akan mengalami distorsi dan disfungsi. Dan inilah pelecehan agama yang nyata. Bisa dikatakan orang-orang yang mengekspresikan agama dengan sikap marah dan membenci, menebar rasa permusuhan terus menerus dan selalu membuat keresahan itulah yang justru menista agama.

Tak ada agama yang baik kecuali yang dijalankan, diekspresikan secara baik oleh pemeluknya sehingga membawa kemaslahatan dalam kehidupan nyata. Sebaik apapun agama jika dijalankan secara culas, jahat, penuh amarah, dan kebencian, maka agama tersebut akan terlihat jahat dan culas. Orang-orang yang mengekspresikan Islam dengan penuh kebencian dan selalu marah inilah yang bisa disebut sebagai Islam marah-marah. 


Penulis adalah Dosen Pascasarjana Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) Jakarta