::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Belajar Kebijaksanaan Hidup dari Sunan Kalijaga

Selasa, 06 November 2018 07:00 Opini

Bagikan

Belajar Kebijaksanaan Hidup dari Sunan Kalijaga
Ilustrasi (ist)
Oleh M. Naufal Waliyuddin

Seorang tokoh yang dulunya terkenal sebagai “Berandal Lokajaya”, dan kelak dipanggil Sunan Kalijaga, adalah salah satu dari sembilan wali (Wali Songo) yang menyebarkan ajaran Islam di Pulau Jawa secara pesat—bahkan meluas hingga ke penjuru Nusantara. Beliau lahir pada tahun 1450 M sebagai putera dari seorang Bupati Tuban, Tumenggung Wilatikta, dengan nama asli Raden Sahid. 

Namun seiring perjalanan hidup, banyak masyarakat dari daerah yang berbeda yang mengenal Sunan Kalijaga dengan julukan-julukan tertentu. Beberapa di antaranya; Syeikh Melaya, Lokajaya (ketika di Hutan Jatisari), Raden Abdurrahman, Pangeran Tuban, Ki Dalang Sida Brangti (di Pajajaran), Ki Dalang Kumendung (di daerah Purbalingga), Ki Dalang Bengkok (Tegal), dan Ki Unehan (di Majapahit).

Pada mulanya, di usia remaja, Raden Sahid tumbuh menjadi jagoan ilmu silat tetapi semakin nakal. Raden Sahid muda suka melakukan tindak kekerasan semena-mena, bertarung, dan merampok. 

Karena itulah Raden Sahid diusir oleh keluarga, sehingga melanjutkan bertempat tinggal di Hutan Jatisari dan masih merampok kalangan ningrat yang melewati jalur tersebut untuk dibagikan kepada kalangan rakyat jelata. Dari situlah julukan Lokajaya tenar (Yudi Hadinata, Sunan Kalijaga, 2015).

Sampai suatu ketika, Raden Sahid bertemu dengan Sunan Bonang, dan merampas tongkatnya yang berdaun emas. Sunan Bonang justru terharu, sambil menasehati Raden Sahid yang masih muda, tentang tindakannya yang seakan berniat suci, tetapi dilakukan dengan cara yang kotor. “Bagai wudlu’ menggunakan air kencing”, ungkap Sunan Bonang.

Maka sebelum meninggalkan Raden Sahid, dengan sedikit rasa iba Sunan Bonang pun mengubah buah kolang-kaling, yang masih di pohonnya, menjadi emas seluruhnya. Seketika itu juga Raden Sahid mengikuti sosok yang baru dijumpainya tersebut, karena ingin berguru ilmu kesejatian kepadanya.

Dengan bekal ilmu silat dan jiwa yang tangguh, Raden Sahid akhirnya mempelajari banyak ilmu dari Sunan Bonang. Seperti kesenian, kebudayaan masyarakat lokal, yang membuatnya memahami dan menguasai kesusastraan Jawa, pengetahuan falak, serta ilmu pranatamangsa (pembacaan cuaca). Bahkan ilmu-ilmu ruhaniah dalam ajaran Islam juga beliau selami sampai diangkat menjadi wali di Tanah Jawa.

Setelah mendapatkan gelar Sunan Kalijaga, beliau disarankan oleh Sunan Bonang agar pergi haji, mengunjungi Ka’bah di Mekkah. Namun pada perjalanannya, saat tiba di wilayah Malaka, beliau bertemu dengan guru-guru lainnya, yakni Maulana Maghribi dan Nabi Khidir. 

Kemudian Sunan Kalijaga disarankan untuk kembali ke Jawa dan berdakwah di sana. Daripada sekadar melihat Ka’bah bikinan Nabi Ibrahim secara zhahir, yang justru akan rentan menjadi berhala di hati jika terus terbayang-bayang, alangkah baiknya engkau ajarkan ilmumu kepada masyarakat di Tanah Jawa, begitu nasehat dari guru barunya.

Sunan Kalijaga menuruti kembali ke Jawa dan memutuskan untuk mengawali dakwah di daerah Cirebon, tepatnya di desa Kalijaga, untuk mengislamkan penduduk sekitar, termasuk Indramayu dan Pamanukan.

Model dakwah beliau dalam menumbuh-kembangkan nilai-nilai keislaman di Jawa, lebih banyak dilakukan melalui pendekatan seni dan kearifan budaya lokal (local wisdom). Meski tidak hanya itu saja yang dijadikan oleh beliau sebagai media dakwah.

Sunan Kalijaga juga diketahui menyumbangkan banyak ide; seperti perancangan alat-alat pertanian di masyarakat, design corak pakaian, permainan-permainan tradisional untuk anak-anak, pendidikan politik dan sumbangsih bentuk ketatanegaraan yang baik di kalangan elit kerajaan pada masa itu (Agus Sunyoto, Atlas Wali Songo, 2016).

Berbagai kisah dan peninggalan sejarah, baik yang berupa manuskrip naskah (serat), tembang-tembang, gubahan puitis, falsafah, rancangan beserta lakon wayang kulit, formasi alat-alat gamelan, sampai tutur cerita lisan mengenai Sunan Kalijaga, telah tersebar luas dan tidak lekang oleh waktu dari masa ke masa.

Kelanggengan ajaran dan jasa beliau tersebut tidak lain adalah karena ketekunan, keistiqamahan, dan kebijaksanaan Sunan Kalijaga dalam berdakwah dengan cara yang halus, santun, toleran dan tanpa paksaan sama sekali.

Suro Diro Jayaningrat
Lebur Dening Pangastuti

“Segala sifat keras hati, picik, sok kuasa dan angkara murka, 
hanya bisa dileburkan oleh sikap bijak, lembut hati, dan sabar.”

-Falsafah Sunan Kalijaga-

Mengenang masa mudanya sendiri yang berontak terhadap kekuasaan kalangan elit dan kemelaratan suatu kaum, Sunan Kalijaga menyadari sesuatu, bahwa untuk menyebarkan nilai-nilai budi pekerti luhur (akhlaqul karimah) kepada masyarakat Jawa, tidak bisa dilakukan dengan cara kekuatan, apalagi paksaan.

Beliau mempelajari watak dan budaya penduduk sekitar, kalau mereka adalah tatanan masyarakat yang mudah lari jika dipaksa untuk mengikuti sesuatu yang baru bagi mereka. Tetapi mereka suka dengan kesenian, keramahan, dan nilai-nila luhur yang serupa. 

Sunan Kalijaga pun merancang pendekatan yang sesuai dengan penduduk Jawa, yaitu akulturasi budaya. Dengan menyisipkan nilai-nilai Islam ke dalam segi-segi budaya lokal, Sunan Kalijaga berharap mutiara agama Islam dapat hidup menyala terang secara abadi di hati masyarakat selama-lamanya.

Urip Iku Urup: 

“Hidup itu nyala. Hidup itu hendaknya memberi manfaat bagi orang lain di sekitar kita. semakin besar manfaat yang bisa kita berikan, tentu akan lebih baik.”

-Falsafah Sunan Kalijaga-

Sepanjang usianya yang diperkirakan 131 tahun, beliau tidak habis-habisnya berjuang dengan berkeliling ke berbagai daerah demi pengajaran nilai-nilai kemanusiaan—dengan berbagai kelengkapan dimensinya—kepada masyarakat. Dapat kita saksikan betapa cerdas dan bijaknya beliau dalam melakukan pertunjukan wayang keliling yang digemari masyarakat desa, dan tiketnya bukanlah memakai uang atau barter, melainkan dua kalimat syadahat.

Kebijaksanaan, keluhuran budi-pekerti, tawakkal dan kewaskitaan ilmu batin beliau tanamkan melalui hal-hal yang seakan dipandang sepele, tetapi mampu bertahan lama melintasi berbagai zaman. Mulai dari fase akhir kerajaan Majapahit, Demak, Pajang, hingga masa awal Mataram.

Beliau juga merupakan salah satu wali yang memiliki banyak karomah dan keistimewaan. Keistimewaan beliau yang utama adalah keluasan jiwa, toleransi dan tenggang rasa yang tinggi. Dan dengan keistimewaan dan sosok beliau yang multitalenta itulah yang menjadikan Islam hidup dan mengakar di Bumi Nusantara.

Dakwah beliau tidak hanya menyentuh kalangan elit saja, melainkan juga menjangkau masyarakat yang terpinggirkan di pelosok-pelosok. Dari kalangang ningrat hingga rakyat yang melarat. Dewasa maupun kanak-kanak. Tidak pandang mulai dari para bromocorah, preman, berandalan, hingga para bangsawan dan pejabat tinggi pemerintahan. 

Kepada semuanya beliau tetap berlaku sama, egaliter dan toleran. Penuh kasih sayang dan mengayomi. Mendidik dan membimbing secara lemah lembut. Tetap perlahan dan penuh kesabaran. Sunan Kalijaga meneladani itu semua dari sang junjungan, Nabi Muhammad SAW.

Memayu Hayuning Bawono
Ambrasto Dur Hangkoro

“Manusia hidup di dunia harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan di muka bumi (rahmatan lil-‘alamin). 

Serta memberantas angkara murka, serakah, dan tamak dalam dirinya.”

-Falsafah Sunan Kalijaga-


Penulis adalah pemuda asal Mojokerto, alumni CSSMoRA UIN Sunan Gunung Djati prodi Tasawuf Psikoterapi angkatan 2013. Aktif menulis esai dan sastra dengan nama pena “Madno Wanakuncoro”