::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Keutamaan Niat Dibandingkan Amal

Jumat, 09 November 2018 06:30 Ubudiyah

Bagikan

Keutamaan Niat Dibandingkan Amal
Ilustrasi (Malay Mail)
Meski amal sangat penting, namun niat atau azam (berkeinginan kuat) lebih utama dari pada amal. Hal ini berdasarkan hadits Rasululullah shallahu alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi sebagai berikut:

نِيةُ المُؤْمِنِ خَيْرٌ مِنْ عَمَلِهِ

Artinya: “Niat seorang mukmin lebih utama dari pada amalnya.”

Allamah Sayyid Abdullah bin Alawi Al-Haddad dalam kitabnya berjudul Risâlatul Mu‘âwanah wal Mudzâharah wal Muwâzarah (Dar Al-Hawi, 1994, hal. 27-28), menjelaskan keutamaan niat dibandingkan amal dengan tiga (3) gambaran keadaan sebagai berikut:

الأولى أن يعزم ويعمل. والثاني أن يعزم ولا يعمل مع القدرة على العمل. الثالثة أن يعزم على فعل أمر لا يستطيع فعله

Artinya: “Pertama, seseorang yang berazam kemudian berbuat. Kedua, seseorang yang berazam tetapi tidak berbuat meski ia memiliki kemanpuan untuk itu. Ketiga, seseorang yang berazam untuk melakukan sesuatu yang ia sendiri tidak mampu melakukannya.”

Dari kutipan di atas dapat diuraikan hal-hal sebagai berikut:

Pertama, orang yang berniat melakukan suatu amal kebaikan lalu mengerjakannya, maka kepada orang tersebut diberikan pahala mulai dari 10 kebaikan, 700 kebaikan, hingga berlipat-lipat. Hal ini, sebagaimana dijelaskan Sayyid Abdullah Al-Haddad, dengan mengutip hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim sebagaimana penggalan berikut: 

وان هم بها فعملها كتبها الله عز و جل عنده عشر حسنات إلى سبع مائة ضعف إلى أضعاف كثيرة

Artinya: “Dan apabila seseorang berniat melakukan sesuatu kebaikan lalu mengamalkannya, Allah ‘azza wa jalla akan mencatat pahalnya di sisi-Nya sebagai perbuatan 100 kebaikan sampai 700, bahkan berlipat-lipat ganda banyaknya.”

Kedua, seseorang yang berniat melakukan suatu amal kebaikan dan mampu melakukannya tetapi tidak jadi melakukannya, maka kepada orang tersebut diberikan pahala 1 kebaikan saja. Hal ini, sebagaimana dijelaskan Sayyid Abdullah Al-Haddad, dengan mengutip hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim sebagaimana penggalan berikut: 

فمن هم بحسنة فلم يعملها كتبها الله عنده حسنة كاملة. 

Artinya: “Maka apabila seseorang berniat melakukan sesuatu kebaikan lalu tidak jadi melaksanakannya, Allah akan mencatat pahalanya di sisi-Nya satu kebaikan sempurna.”

Ketiga, seseorang yang berniat melakukan suatu amal kebaikan tetapi ternyata tidak mampu melakukannya, kepada orang tersebut diberikan pahala sebagaimana orang yang mampu melakukannnya. Hal ini sebagaimana penjelasan Allamah Sayyid Abdullah bin Alawi Al-Haddad (halaman 28) sebagai berikut: 

فله نية ما للعامل وعليه ما عليه

Artinya: “Bagi orang seperti itu disediakan pahala seperti yang disediakan bagi si pelaku baik dalam hal kebaikan ataupun kejahatan.”

Dari seluruh uraian diatas dapat diketahui bahwa niat lebih utama dari pada amal. Artinya Allah subhanhu wataála sangat memperhitungkan niat seseorang. Seseorang yang sudah berniat berbuat baik dan betul-betul melaksanakan dia mendapatkan pahala yang berlipat ganda. Seseorang yang sudah berniat berbuat kebaikan tetapi tidak jadi melakukannya, ia tetap mendapatkan pahala. 

Bahkan orang yang sudah berniat melakukan kemaksiatan tetapi tidak jadi melakukannya juga mendapatkan pahala dari Allah karena mengurungkan niatnya. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim sebagaimana penggalan berikut: 

وإن هم بسيئة فلم يعملها كتبها الله عنده حسنة، فان هم بها فعملها كتبها الله عنده سيئة واحدة. 

Artinya: “Dan bila seseorang berniat melakukan suatu kejahatan lalu ia tidak melaksanakan, Allah akan mencatat pahalanya di sisi-Nya sebagai satu kebaikan sempurna, dan bila ia berniat melakukan suatu kejahatan kemudian melaksanakannya pula, maka Allah akan mencatatnya di sisi-Nya sebagai satu kejahatan. ”


Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta.