::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Tauhid Demokrasi

Jumat, 09 November 2018 17:00 Opini

Bagikan

Tauhid Demokrasi
Oleh Fuad Al-Athor

Demokrasi memang bukan diktum agama, tapi bukan berarti ia barang najis atau seperangkat sistem yang akan menghantar kepada kekufuran jika kita menggunakannya. Ia adalah the way to deal yang sejauh sejarah manusia masih menempati posisi yang terbaik di antara yang sistem negara buruk-buruk yang ada. 

Namun begitu, tidak sulit menautkannya dengan ajaran Islam. Jelas di dalam Islam ada prinsip bermusyawarah dalam memutuskan pengaturan hal-hal yang bersifat maslahat, secara syariat itu sudah cukup. Demokrasi adalah bentuk maju atau sistematika dari cara-cara kita untuk bermusyawarah. Ibarat kalau berkendara dulu naik unta sekarang naik mercedes. Apakah pengendara unta atau mercedes yang kufur? Ya bisa kedua-duanya tergantung ia membangun keyakinannya, bukan tergantung ia naik kendaraan apa.

Tidak perlu mencari-cari dan membikin-bikin teori bahwa yang dimandatkan oleh islam adalah sistem negara khilafah. Baru hipotesisnya Taqiyuddin An-Nabhani saja sudah menganggapnya lebih benar dan lebih penting dari rukun iman, sudah dibela-belain bohong sana-sini seperti memperjuangkan rukun islam saja. Ribuan ulama dari zaman Tabi’in hingga sekarang yang tidak menunjuk sistem negara secara pasti lantas hendak kau salahkan semua? Di mana kepalamu?

Sebagai alat demokrasi tidak memberi pengaruh apa-apa pada kemajuan atau kemunduran manusia secara hakikat (spiritual). Sebab hakikat menuntut kita untuk menjalankan diri (suluk), mendekatkan diri (taqorrub), dan kemudian menautkan diri (whushulillah) dalam kondisi bagaimanapun adanya. Baik kita hidup dalam negara monarki, otoriter ataupun demokrasi tetap tidak pengaruh pada kewajiban untuk selalu mendekat dan sambung pada-Nya.

Sejak zaman Mu’awiyyah, Abbasiyah, Utsmaniyah dan demokrasiiyah sekarang ini pun, yang namanya wali Allah itu ya ada. Mereka eksis seesksisnya, bukan hanya dongeng atau hanya ada di makbarah-makbarah saja. Sebab hanya hati mereka yang layak mendapat pandang kasih sayang-Nya. Hati mereka yang telah bersih dari keinginan-keinginan duniawi (keinginan-keinginan yang selain untuk dan bersumber dari-Nya) telah memenuhi syarat untuk menjadi cermin dari Pandang-Nya yang Maha Mulia. Pandang kasih sayang-Nya inilah yang sejauh ini mencegah pandangan-pandangan murka-Nya yang sudah begitu layak dilayangkan jika melihat kapasitas manusia dalam mengindahkan aturan-aturan dan sopan santunya pada Allah. Mereka yang menggaransi secara spiritual pada keberlangsungan kehidupan ini.

Artinya apa? Ya Islam tegak di segala zaman dan di segala lingkungan sistem kenegaraan apa pun. Hanya saja Allah menegakkan dan memuliakan agamanya tersebut melalui hati para kekasih-Nya ini. Coba dipikir! Salah satu Asma-Nya ‘Al-Hafidz,’ Sang Penjaga. Bagaimana Allah menjaga agama dan kemanusiaan sangat terlihat dari tajalli-Nya di hati para ulama-ulama salihin ini. Allah anugerahkan kejernihan hati pada mereka sehingga mereka tidak dengan mudah menuduh, menyalahkan dan menyakiti umatnya dengan cacian dan provokasi yang membangkitkan amarah. Allah mengaruniai mereka keteduhan dalam memberi putusan hukum dan fatwa keagamaan pada hati mereka. Coba jika kita, anak-anak muda ini, yang hatinya bergetar akibat ulah segelintir pengasong simbol Islam diberi ijin untuk bertindak sembrono? Sudah selesai itu kelompok-kelompok kekanak-kanakan secara adat. Kan rusak jadinya.

Allah juga menguatkan hati mereka dengan hikmah yang tinggi, kebijaksanaan yang par exellent, berbasis ilmu makrifat mereka, sehingga tidak sedikit pun kita dengar geming mereka berubah menjadi perintah untuk memberangus gerakan-gerakan konyol islam politik itu dengan cara yang tidak beradab. Padahal siapa yang tidak geram. Mendidih dada ini. Hanya tinggal menunggu titah para alim ulama saja. Semua sudah siaga. Terbukti para alim ulama tidak pernah memberi aba-aba. Padahal mereka sudah dibunuh berkali-kali. Karakter mereka dihabisi dengan tuduhan dan fitnahan yang kejamnya tak terperi. Itulah penjagaan Allah pada agama-Nya. Melalui hati para kekasih-Nya yang sejuk seperti kulkas. Kepala anak muda ini kerap memerlukan untuk masuk ke wilayahnya agar dingin.

Jadi, mereka yang menawarkan keresahan dan api perpecahan ini tidak secuil pun menyiratkan manifestasi-Nya. Sebenar-benarnya dalil mereka sudah salah sejak dari wadahnya. Tegaknya argumentasi mereka di atas pondasi yang jungkir balik. Artinya upaya kita untuk mendiskusikan ajaran dengan mereka tak lebih dari wujud keadaban kita dalam menjalankan ajaran saja, (bahwa kita wajib amar bil ma’ruf!), Siapa tahu dengan washilah kebaikan ini Allah menurunkan kebaikan bagi kita semua. Kalaupun kita melihat Allah dalam tingkah laku mereka itu tampak dengan cara “kita melihat dosa-dosa kita selama ini telah membuat Allah mengizinkan mereka lahir dan menguji kita.”

Kembali ke demokrasi, wahai jamaah sosmediyah yang terhormat. Ternyata demokrasi bukanlah sistem yang sederhana, ia memuat fitur-fitur canggih yang bisa digunakan untuk kemajuan pencapaian kemaslahatan bersama. Salah satunya, ialah bahwa demokrasi selalu menyertakan visi tertinggi kemanusiaan tentang keadaban. Apa yang dianggap paling beradab dalam pergaulan sosial-politik kemanusiaan, bahkan ketika dalam praktik suksesi kekuasaan sekali pun. Inilah yang kemudian menjadi constrain bagi setiap strategi dan taktik dalam pertempuran merebut kuasa. Semakin beradab kontestan dalam mendekati dan merayu pendukung gagasan kepemimpinannya, semakin mungkin untuk menang. Sebaliknya, jika strateginya semakin mengancam keadaban yang ada, maka akan semakin ditinggalkan oleh calon pemilihnya.

Namun hal ini bagi sebagian ahli strategi (konsultan politik) dipahami kebalikannya. Mereka mengambil keuntungan dengan membangun andaian bahwa sisi konservatif manusia, sisi agresif, rasa tertekan, rasa takut manusia lebih mudah dimobilisasi untuk memenangkan pertarungan. Apalagi jika ini di sebuah negara berkembang dengan masyarakat yang belum well-educated secara politik berjumlah lebih banyak. Ini murah bahkan murahan, sekaligus keji di mana sisi gelap manusia ini dieksploitasi dengan pembanjiran informasi, pembingungan dengan hoax-hoax dan pembangkitan kemarahan dengan hate speech. Tentu saja ini sangat tidak beradab. Keadaban yang sejatinya sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari sistem demokrasi yang telah disepakati bersama, kini sedang diuji.

Mana mungkin sistem demokrasi bisa bertahan dengan sendirinya, ia cuma alat. Maka patut diacungi jempol bagi para alim ulama Nusantara ini sekali lagi, yang dengan keluasan hatinya telah membesarkan hati kita untuk turut menjaga dijalankannya sistem demokrasi ini sesuai keadaban yang berstandar tinggi. Sebab pada perjuangan membangun keadaban inilah visi Ketuhanan dan visi kemanusiaan menemukan titik temunya, yakni terwujudnya agama yang rahmatan lil ‘alamin. Lantas, ‘tauhid’ (pengesaan) yang seperti apa lagi yang engkau cari?


Penulis adalah santri Pesantren Kasepuhan Atas Angin, Ciamis