::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Kemendesa PDTT: DIY Potensi Jadi Trendsetter Inovasi Desa

Jumat, 09 November 2018 16:30 Nasional

Bagikan

Kemendesa PDTT: DIY Potensi Jadi Trendsetter Inovasi Desa
foto (istimewa)
Yogyakarta, NU Onine
Anggota Tim Advisor Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendesa PDTT) Hayono Suyono mengatakan, kawasan perdesaan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) telah melahirkan berbagai inovasi yang berkontribusi pada kesejahteraan warga desa. 

Gerakan inovasi tersebut muncul di berbagai bidang mulai dari pariwisata, pertanian, hingga berbagai produk kerajinan. 

Hal tersebut disampaikan  saat membuka Bursa Inovasi Desa (BID) Kabupaten Bantul, di Desa Trimulyo, Kecamatan Jetis, Bantul, DIY, Kamis (8/11).

"Berbagai inovasi yang dimunculkan desa-desa di DIY ini bisa menjadi role model bagi desa-desa lain di Indonesia. Harus kita akui inovasi-inovasi dari berbagai desa di DIY telah berkontribusi secara nyata bagi peningkatan kesejahteraan warga desa setempat,” ujarnya. 
 
Dikutip dari laman kemendesa.go.id, Hayono menjelaskan, maraknya berbagai inovasi desa di DIY tidak terlepas dari tingginya tingkat partisipasi masyarakat terhadap proses pembangunan di desa masing-masing. 

"Tingginya kesadaran warga desa tersebut merupakan karakter khas dari penduduk DIY yang selalu responsif terhadap berbagai kebijakan pemerintah. Selain itu, kondisi sosial politik yang relatif stabil menciptakan iklim kondusif bagi munculnya berbagai inovasi di skala desa," Jelas Hayono. 

Menurutnya, DIY relatif adem ayem dari hiruk pikuk politik karena adanya keistimewaan penunjukkan gubernur dan wakil gubernur sehingga berbagai program pemerintah bisa dilaksanakan dalam jangka panjang.
 
Mantan Menko Kesra di era Orde Baru ini mengatakan DIY sebagai daerah wisata juga ikut mendorong lahirnya berbagai inovasi desa. Menurutnya tingginya jumlah wisatawan ke DIY memunculkan inisiatif bagi warga untuk menawarkan berbagai produk mereka seperti objek wisata baru, penginapan, kuliner, hingga handycraf. 

“Saat ini telah muncul berbagai varian wisata yang muncul dari inisiatif lokal desa baik di daerah Gunung Kidul, Sleman, maupun Bantul. Inovasi-inovasi ini layak ditularkan sebagai role model bagi desa-desa lain di pelosok nusantara,” katanya.
 
Kendati demikian, Hayono meminta bagi pemangku kepentingan (Stake holder) di DIY tidak cepat berpuas diri dengan capaian yang sudah ada. Menurutnya saat ini persaingan dalam memunculkan inovasi terus berlangsung di berbagai belahan dunia sehingga dibutuhkan pola pikir kreatif agar tidak tertinggal. 

“Pola pikir kreatif ini penting misalnya kegiatan inovasi desa saat ini harus mempertimbangkan konsep “Pembangunan tanpa Sampah” sehingga dapat dipastikan tidak ada sampah yang terbuang sia-sia, tapi bisa menjadi peluang inovasi baru. Selain itu, terbentuk proses yang berkelanjutan dan ramah lingkungan,” katanya.
 
Kunjungan para advisor Kemendes PDTT ke Bursa Inovasi Desa Bantul, merupakan rangkaian kegiatan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk Pengelolaan Keuangan Desa yang Transparan dan Akuntabel 7-9 November 2018. 

Selain Hayono Suyono, advisor lain yang hadir dalam kegiatan tersebut adalah Guru Besar Universitas Padjajaran Ilya Avianti, Mantan Komisioner KPK Bibit Samad Rianto, dan Rektor IPMI Jimmy Gani. FGD ini diikuti oleh para pendamping desa, kepala desa, dan pejabat dinas pemberdayaan masyarakat desa.(Red: Muiz)