::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Gus Dur, Sang Pejuang Pluralisme, Laik Dapat Gelar Pahlawan

Jumat, 09 November 2018 20:30 Nasional

Bagikan

Gus Dur, Sang Pejuang Pluralisme, Laik Dapat Gelar Pahlawan

Jember, NU Online
Desakan masyarakat agar pemerintah menganugerahkan pahlawan nasional kepada  Gus Dur  kembali mencuat. Salah satunya datang dai A’wan PWNU Jawa Timur,  H Babun Suharto. Menurutnya, Gus Dur sebagai guru bangsa yang  pengabdian dan kontribusi pemikirannya bagi kemajuan bangsa begitu besar, sangat laik mendapat  gelar pahlawan nasional.

“Saya kira sangat laik beliau diberi gelar pahlawan nasional,” tuturnya kepada NU Online di Kantor NU Jember, Jumat (9/11).

Dikatakannya, Gus Dur mampu menjadi  sosok  pemersatu  dari berbagai golongan.  Gagasan dan pemikirannya mendunia. Bahkan hingga saat ini pengikut dan penerus perjuangannya masih banyak. Diantaranya tergabung dalam  Gusdurian, yang anggotanya bukan cuma warga NU, tapi non NU bahkan non muslim.

“Itu menandakan bahwa Gus Dur memayungi semua pemeluk agama,” tambahnya.

Hal tersebut diamini oleh Ketua PC Lembaga Kesehahan NU (LKNU) Jember, Akhmad Multazam.  Menurutnya, GusDur memang  laik dianugerahi gelar pahlawan nasional.  Salah satu alasannya adalah perjuangan Gus Dur  dalam membela  keberagaman dan pluralisme, sangat kental.

“Perjuangan kesetaraan manusia dalam berbangsa dan beragama dan kenegarawanannya melampaui  batas kepentingan pribadi,  kelompok (NU) maupun kekuasannya,” jelasnya.

Multazam menambahkan, Gus Dur sangat  menghargai kelompok minoritas. Bahkan dalam kasus tertentu yang menimpa kaum minoritas,  Gus Dur berada di garis terdepan untuk membelanya.  Sebab bagi Gus Dur, kaum minoritas juga mempunyai hak yang sama untuk hidup dan menikmati kehidupan di negeri ini. Sikap Gus Dur tersebut sungguh besar  manfaatnya, sehingga terjalin kerukunan umat beragama, baik di Jawa maupun luar Jawa.

“Kalau di Jawa, kita umat Islam yang mayoritas menghormati  yang minoritas, maka di tempat lain, kita yang minoritas  juga dihargai oleh mereka yang mayoritas (non muslim) ,” tegasnya (Red: Aryudi AR)