::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Asal Mula Zindik dan Pemulihan Tasawuf

Jumat, 09 November 2018 22:00 Tasawuf/Akhlak

Bagikan

Asal Mula Zindik dan Pemulihan Tasawuf
Ulil Abshar Abdalla (suara.com)
Jakarta, NU Online
Istilah zindik sudah tak asing lagi di telinga Muslim Indonesia. Bahkan bahasa Indonesia juga sudah menyerapnya menjadi satu lema yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti orang yang tersesat imannya; orang yang murtad.

"Zindik istilah dalam bahasa Persia," kata Ulil Abshar Abdalla, cendekiawan Muslim di Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta, Jumat (9/11).

Sebagaimana kedatangannya di Indonesia, menurutnya, masuknya Islam di wilayah Persia tidak menghapus peradaban Persia yang telah berlangsung ratusan tahun.

Gus Ulil, sapaan akrabnya, menjelaskan bahwa sebelum Islam datang, masyarakat Persia menganut agama Zoroaster, agama yang dibawa Zaratustra.

Agama tersebut, katanya, lebih menekankan pada aspek kebatinan. Hal ini membuat orang Persia yang sudah menganut Islam itu lebih fokus pada tasawuf dan (sedikit) menegasikan fiqih. Orang yang demikian disebut sebagai zindik.

Oleh karena itu, lahirlah adagium, 'Siapa yang berfiqih tanpa bertasawuf, maka fasik dan siapa yang bertasawuf tanpa berfiqih maka zindik'.

Karena orang zindik ini, orang-orang yang bertasawuf terpinggirkan. Mereka mengamalkan lakunya secara sembunyi-sembunyi. Pasalnya, ada tuduhan menyudutkan terhadap pelaku tasawuf sebagai zindik. "Oh, kamu zindik, ya?" kata Dosen Pascasarjana Unusia Jakarta itu menirukan tuduhan orang terhadap pelaku tasawuf.

Tuduhan demikian juga mengandung unsur politik dan etnik. Pasalnya, penguasa saat itu adalah orang Arab sehingga masyarakat demikian dianggapnya tidak loyal terhadap negara.

Memulihkan Tasawuf

Tuduhan demikian menggugah al-Harits al-Muhasibi untuk memulai menyatukan fiqih dan tasawuf. Sebab, kedua kelompok itu saling curiga, katanya. "Merehabilitasi image tasawuf," katanya.

Pemulihan citra tasawuf yang sempat miring itu mengalami puncaknya dengan kelahiran karya monumental Imam al-Ghazali, yakni Ihya Ulumiddin. Setelahnya, tasawuf semakin berkembang dengan adanya tarekat dan dilakukan secara berjamaah, tidak lagi sendiri-sendiri. Bahkan, tasawuf juga menjadi sebuah gerakan sosial.

"Tasawuf sebagai gerakan sosial munculnya setelah al-Ghazali," pungkasnya. (Syakir NF/Muiz)