::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Menjadi Pahlawan Pemuda Indonesia

Sabtu, 10 November 2018 09:04 Opini

Bagikan

Menjadi Pahlawan Pemuda Indonesia
Ilustrasi (ist)
Oleh M. Rikza Chamami

Hari pahlawan yang diperingati setiap 10 November, bagi bangsa Indonesia memiliki nilai sejarah yang sangat luar biasa. Kegigihan para pahlawan dalam mengusir penjajah, mempertahankan kemerdekaan dan menjadikan NKRI sebagai rumah bersama tidak bisa dilupakan.

Kini, para pemuda Indonesia dapat menikmati jasa para pahlawan pejuang bangsa. Lalu bagaimana pemuda Indonesia menjadi pahlawan zaman now?

Setidaknya memang tidak nampak kasat mata, bahwa bangsa kita sedang dijajah. Bahkan boleh dikata bahwa kini Indonesia sudah benar-benar merdeka dan tidak memiliki musuh.

Semangat untuk melestarikan negeri bebas musuh dan menikmati kemerdekaan itu lebih meriah dengan lahirnya demokratisasi. Benar sekali. Indonesia memang sangat indah dan sangat demokratis. Dan sudah saatnya pemuda mengisi setiap ruang-ruang demokrasi itu.

Tantangan untuk menuju itu sangat butuh waktu dan kedewasaan. Pemuda sangat bisa dan mampu untuk mewujudkan impian negeri Indonesia menjadi negara berdaulat dan berwibawa di mata dunia.

Lalu dimana kepahlawanan pemuda? Ada di diri sendiri dan semangat persatuan pemuda. Kenapa? Sebab 28 Oktober 1928 sudah mulai ada semangat pemuda Indonesia berikrar soal satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa Indonesia.

Problem pemuda Indonesia hari ini ada tiga: egoisme, idealisme dan intelektualisme. Jika tiga hal pokok itu dapat teratasi dengan baik, maka pemuda Indonesia akan menjadi energi positif dalam membangun Indonesia.

Egoisme pemuda terkadang lahir dengan sentimen kepentingan kelompok yang kemudian rentan terjadi perbedaan pendapat. Ujung dari itu semua adalah konflik pemuda, atau bahkan ditarik menjadi konflik organisasi pemuda.

Sementara problem idealisme yang menjadi karakter utama pemuda terkadang masih timpang. Oleh sebab itu, idealisme pemuda tetap perlu dijaga dalam rangka menjadikan ide-ide inovatif-kreatif pemuda itu terus mengalir segar menjadi sumber inspirasi kemajuan bangsa.

Sedangkan semangat intelektualisme ini sangat dibutuhkan dalam rangka mendewasakan para pemuda. Apapun perbedaan yang terjadi di Indonesia harus disikapi secara dewasa dan didekati dengan ilmu pengetahuan. 

Dengan cara demikian maka, perpecahan yang disulut akibat egoisme akan terbendung dengan baik. Termasuk menjaga lahirnya idealisme pemuda yang diimbangi dengan basis pemaknaan realisme sosial.

Melihat tantangan Indonesia yang semakin kompleks, perlu kiranya pemuda Indonesia bangkit dalam mengikrarkan kembali semangan pemuda 1928 itu. Bahwa semangat memperkuat Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 1945 itu tetap tertancap rapi.

Maraknya ideologi transnasional yang ingin merubah sistem negara dan gerakan anti Pancasila juga perlu diselesaikan secara konstitusional. Sebab ini akan menjadi masalah besar dan berpotensi merusak semangat nasionalisme.

Pemuda Indonesia dari lintas agama, lintas suku, lintas profesi sangat paham bahwa kita itu tidak sama dan harus sering mencari titik kesamaan. Pemuda yang sama akan mudah bekerjasama.

Kebangkitan pemuda Indonesia sangat dinanti-nantikan. Para pahlawan yang telah wafat sangat menunggu kiprah nyata para pemuda Indonesia. Bangkitlah bangkit putra pertiwi. Tiada gentar dada ke muka. 


Penulis adalah Wakil Ketua DPD KNPI Jateng dan Wakil Sekretaris GP Ansor Jateng