::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Sambut Bulan Maulid, Ini Tradisi Pesantren Khozinatul Ulum Blora

Rabu, 14 November 2018 13:00 Daerah

Bagikan

Sambut Bulan Maulid, Ini Tradisi Pesantren Khozinatul Ulum Blora
Kegiatan Barzanji sambut bulan maulid di Pesantren Blora
Blora, NU Online
Bulan Maulid atau Rabiul Awal merupakan bulan di mana panutan umat Islam, Nabi Muhammad SAW dilahirkan. Beragam cara dilakukan oleh masyarakat dalam menyambut datangnya bulan kelahiran Nabi akhir zaman ini, salah satunya seperti yang dilakukan oleh Pesantren Khozinatul Ulum Blora ini.

Pesantren yang diasuh oleh KH Muharror Ali ini mempunyai tradisi rutin tahunan. Tradisi itu berupa pelaksanaan maulid selama 12 hari penuh dan tradisi ini telah berjalan rutin di tiap tahunnya. “Selama bulan Maulid ini, seluruh santri secara bergantian akan menampilkan kreativitas shalawatnya selama 12 hari,” jelasnya kepada NU Online pada Selasa (13/11) . “Juga dijadikan ajang lomba antar kamar,” imbuhnya.

Pengurus Pondok Syukron Ma’mun mengatakan, alasan penyelenggaraan kegiatan ini selain memeriahkan maulid nabi adalah menumbuhkan rasa cinta kepada Nabi. 

“Memeriahkan maulid nabi dan sekaligus melatih santri agar suka shalawatan dan cinta nabi. Selain itu sudah jadi agenda rutinan tiap memasuki bulan maulid,” ujarnya.  

Santri asal Rembang ini menjelaskan, keunikan konsep maulidan yang digelar oleh pesantren yang terletak di Desa Kaliwangan Blora ini. Di tiap hari akan nada penampilan grup yang telah dibagi oleh pengurus. Grup ini terdiri dari dua kamar yang menjadi satu grup. 

“Tiap grup membaca maulid Al-Barzanji. Dari grup tersebut akan menampilkan koreo, akan ada juri dari pengurus yang menilai kerapian, kekompakan, dan musik hadrahnya,” jelasnya.

Ia menambahkan setelah diselenggarakan kegiatan ini, akan bermunculan kader-kader yang bisa meneruskan tongkat estafet pesantren dalam seni hadrah. “Harapannya adalah mempunyai kader dalam hal hadrah,” pungkas pria yang nyantri sejak 2007 ini. (Hanan/Muiz)