::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Pengusaha Nahdliyin Soroti Perkembangan Teknologi Blockchain, Apa Itu?

Rabu, 21 November 2018 19:30 Halaqoh

Bagikan

Pengusaha Nahdliyin Soroti Perkembangan Teknologi Blockchain, Apa Itu?
Ketum HPN Abdul Kholik
Perkembangan teknologi tidak bisa dilepaskan dari kehidupan manusia saat ini, termasuk internet, komputer jaringan, dan lain-lain, termasuk perkembangan teknologi blockchain. Teknologi blockchain saat ini banyak dimanfaatkan dunia bisnis, perbankan, dunia usaha, dan lain-lain untuk dapat meningkatkan daya saing bisnis.

Dalam rangka mengembangkan bisnis jaringan bagi para pengusaha, Himpunan Pengusaha Nahdliyin (HPN) menggelar Halaqah Blockchain, Sabtu (3/11/2018) lalu di Kantor PBNU Jakarta. Kegiatan ini menghadirkan sejumlah narasumber kompeten di bidang teknologi dan jaringan komputer.

Blockchain memiliki keunikan yaitu dalam hal tersebarnya basis data, transparansi antar pemilik data, dan enkripsi keamanannya dibandingkan basis data biasa.

Revolusi yang dimungkinkan oleh blockchain akan mempermudah transaksi antara seluruh lapisan masyarakat hingga petani. Bukan hanya transaksi keuangan tapi juga transaksi berbagai data yang akan semakin membanjir dengan masuknya kita ke era internet of things (IoT).

Suatu era yang memungkinkan berbagai objek tertentu punya kemampuan untuk mentransfer data lewat jaringan tanpa memerlukan adanya interaksi dari manusia ke manusia ataupun dari manusia ke perangkat komputer.

Untuk mengetahui lebih spesifik tentang teknologi blockchain ini, Jurnalis NU Online Fathoni Ahmad melakukan wawancara dengan Ketua Umum Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Nahdliyin (HPN) Abdul Kholik sesaat setelah halaqah blockchain sebagai berikut:

Kenapa HPN ini perlu membincangkan teknologi blockchain ini?

Blockchain ini adalah teknologi yang masih dalam tahap awal. Teknologi ini akan menjadi platform baru setelah platform internet. Jadi kalau kita terlibat sejak awal dalam perkembangan teknologi ini, Insyaallah kita akan memperoleh manfaat yang lebih besar.

Para narsumber misalnya Pak Rick Bleszynki (pengusaha teknologi prosesor asal Indonesia, tinggal di Amerika Serikat) misalnya, dia terlibat dalam teknologi prosesor itu kan dari awal dia, dari nol. Karena dari awal dia terlibat dalam teknologi ini, maka dia memperoleh kesempatan yang lebih besar, kemampuannya ikut melonjak, kemampuan teknologinya, kemampuan usahanya.

Terbukti dia sekarang dipakai oleh militer dan intelijen Amerika Serikat untuk menyuplai prosesornya mereka. Itu artinya hebat sekali. Di kalangan NU jika terlibat sejak awal dalam teknologi ini pada saat teknologi ini baru dan sedang dikembangkan, dan seperti apa yang dikatakan pak rick bahwa Blockchain ini akan menjadi the next platform.

Kesempatan untuk mempelajari blockchain ini penting bagi anak-anak muda NU yang saat ini sudah menggeluti teknologi tapi baru sampai level programming dan pembuatan website. Bincang-bincang ini memberikan kesempatan kepada generasi muda yang sudah bergerak di bidang IT agar arah perubahan IT bisa dipahami oleh anak muda NU.

Apalagi teknologi blokchain ini potensial. Mudah-mudahan ini memberikan kesempatan kepada teman-teman untuk memberikan visi untuk memberikan visi. Kalau mereka terlibat lebih awal dalam mengembangkan teknologi ini, maka akan bergerak maju.

Sudah dikembangkan sejauh mana di dunia bisnis secara spesifik?

Kalau sekarang kan yang banyak dipakai contoh bitcoin tapi itu kan salah satu aplikasi dari pemanfaatan blokchain. Blockhain yang powerfaul dalah bagaimana membuat aplikasi kepercayaan kapada semua orang. Dengan sistem tersebut, maka orang lain tidak perlu lagi memverifikasi kita, karena identitas kita semua sudah berada di Blockhain.

Misal bagaimana mentransfer uang ke Indonesia dari London. Dalam itungan detik, sudah bisa diproses. Tidak memerlukan bank. Sebelumnya, para TKI dari Hong Kong, Arab, Taiwan, dan Korsel, dan lain-lain harus lewat bank, biayanya mahal, waktunya lama. Teknologi blockchain bila dikembangkan bisa membantu TKI kita realtime detik ini pun dikirim, detik ini bisa diterima. Apalagi jika di HPN membuat aplikasi tersebut, maka manfaatnya bagi masyarakat tinggi sekali.

Tapi yang perlu kita lihat meskipun indonesia tidak mengizinkan, tidak ada negara satu pun yang bisa menahan teknolgi ini. Seperti bisnis digital seperti ojek online yang dkembangkan seperti sekarang tetapi mendapat protes, tetapi pada akhirnya pemerintah memberikan izin. Jika warga NU terlibat lebih awal akan mendapatkan peluang yang lebih besar.

Bagaimana generasi muda NU melihat teknologi blockchain ini dan selama ini sudah ada yang memanfaatkannya atau belum?

Sebenarnya ada pada level yang berbeda. Ya kita pernah terapkan tiga tahun yang lalu pada waktu kita membangun microfinance. Jika selama ini kita perlu memberikan kredit kepada masyarakat, syaratnya mereka harus memfotokopi identitas lalu semua diproses. Ini sudah berjalan tiga tahun yang lalu memberikan inovasi baru microfinance dengan teknologi baru yang lebih cepat.

Prosesnya kita fotokopi buku tabungannya lalu kita kirim di aplikasi kita. Hal ini tersistem secara otomatis. Kemudian terlihat, layak atau tidak untuk diberikan kredit. Dalam waktu satu atau dua hari selesai dengan menggunakan sistem microfinance. Ini sistem yang berjalan, rumus-rumus itu yang menentukan.

Misal, si fulan sudah memenuhi kredit tersebut. Kalau yang model konvensional, butuh satu minggu, dengan microfinance hanya butuh satu hari, nah dengan blokchain hanya butuh itungan detik. Selain itu, kita bisa membangun database. Database bisa diakses lebih cepat.

Bentuk lain sebagai wadah transaksi, teknisnya kita punya aplikasi sendiri dan harus mempunyai akun?

Teman-teman kita yang bergelut di bidang IT akan mengembangkan teknologi blockchain ini dalam bentuk aplikasi. Tentu saja sebagai pengguna harus punya akun di aplikasi tersebut.

Kalau kita mendaftrkan ke akun, maka transaksi uang kita akan diubah menjadi koin. Tetapi di Indonesia belum bisa ditukarkan menjadi uang karena pemerintah belum mengizinkan transaksi model tersebut.

Nanti kalau misalnya pemerintah sudah menghizinkan akan bisa dilakukan orang yang punya akun di Dompet HPN, misal dia tahu ada transfer dari Singapura, dia bisa ambil dari koperasi, atau ke mesin ATM punyanya NU.

Sekarnag ini yang bisa dilakukan kalau seandainya pengguna aplikasi di Indonesia lebih banyak, kita beli dalam bentuk poin. Seandainya teman-teman sudah masuk ke akun itu sebenarnya kita hanya butuh poin, beli di NU Mart pakainya poin kalau NU Mart punya akun serupa. Indoneaia belum mengizinkan poin diubah menjadi uang.

Negara mana saja yang sudah menerapkan teknologi blockchain?

Amerika, Jepang, China. Sebenarnya yang menginisiasi ide blockchain ini orang Jepang. 

Kenapa Indoensia belum bisa menerapkan teknologi blockchain?

Sebenarnya di beberapa tempat sudah menerapkan, seperti di Bali. Anda bisa bayar hotel memakai koin. Lalu, kita juga bisa melihat sistem poin yang diterapkan perusahaan ojek online. Cuma poin tidak bisa jadi rupiah.

Bagaimana menyosialisasikan teknologi blockchain kepada warga NU secara umum?

Yang diinginkan oleh HPN, kita punya komunitasnya yang bisa mengembangkan teknologi blockchain. Kalau komunitas ada, kita bisa mengadakan silaturahim teknologi. Tapi kita mengikuti strategi, kalau kita mau mengejar ketertinggalan, kita bisa belajar dari akhir, tidak perlu dari awal. Seperti yang dilakukan Habibie, beliau langsung bikin pesawat. Dari produksi tersebut kita bisa belajar.

Kalau kita terlibat dari awal, kita berarti mulai dari akhir sehingga bisa maju. Supaya kita bisa lebih lanjut ke level yang lebih tinggi. Membetuk komunitas yang saling mengasuh dan mengasah. Selama ini, HPN memggumpulkan para pengusaha di bidang-bidang tertentu.

Perkembangan teknologi blockchain dalam ranah akdemik di perguruan tinggi seperti apa?

Di Indonesia sudah banyak potensi dari perkembangan teknologi blockchain ini. Justru teknologi ini memunculkan ketakutan dari pihak perbankan. Jika kita bisa mengembangkan blockchain ini, kita bisa moneyless, kita juga bankless, kita tidak perlu bank. Jika bank tidak mentransformasi diri, bank akan hilang, karena saat ini yang berkembang sistem crypto currency, kita sudah banyak, kita tidak oleh ketinggalan. 

Empat tahun lagi, teknologi blockchain ini merajalela, kita harus bisa mengembangkan sehingga tidak ketinggalan. Tugas HPN memberikan visi ini bahwa ada anak teknologi baru, jangan sampai ketingalan. (*)