::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Berdakwalah dengan Hikmah, Berprilakulah dengan Akhlakul Karimah

Jumat, 23 November 2018 23:30 Daerah

Bagikan

Berdakwalah dengan Hikmah, Berprilakulah dengan Akhlakul Karimah
Ustadz Jefri Buari, Pesawaran, Lampung
Pringsewu, NU Online
Rasulullah SAW adalah sosok mulia yang harus diteladani oleh seluruh umat Islam di dunia. Ia adalah seorang nabi yang tidak hanya mampu memberikan contoh, namun juga mampu menjadi contoh melalui kemuliaan akhlaknya. Suri tauladan yang dicontohkan Rasulullah SAW di antaranya adalah kemampuannya berdakwah dengan hikmah yang sukses menjadikan umat jahiliyyah menjadi umat yang beradab.

Hal ini diungkapkan oleh dai muda asal Kabupaten Pesawaran, Ustadz Jefri Bu’ari saat menyampaikan ceramahnya pada peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Al Hikmah Kuncup, Pringsewu, Lampung, Jumat (23/11) malam.

“Rasulullah SAW mengemban misi utama yakni memperbaiki akhlak manusia dari peradaban jahiliyah menuju kehidupan yang beradab. Apa zaman jahiliyah itu? Zaman di mana kehidupan manusia tidak dilandasi dengan akhlak. Yang kaya berkuasa, yang kuat menindas yang lemah. Wanita tidak dihormati dan bayi perempuan dibunuh semena-mena. Itulah zaman jahiliyah,” katanya.

Namun sampai sekarang lanjutnya, masih saja ada manusia yang tidak memiliki akhlak baik dengan bertingkah laku seperti zaman jahiliyah. Dekadensi moral meracuni para generasi muda. Pada kehidupan modern saat ini masih ada yang mewarisi budaya jahiliyah dengan tenggelam dalam kemaksiatan.

“Para generasi muda dan mudi bergaul tanpa batas. Aborsi terjadi dengan membuang bayi mereka di tong sampah. Persis seperti zaman jahiliyah,” tegas Ustadz Jefri.

Melihat kondisi ini, ia mengingatkan agar para orang tua harus meyakinkan putra-putrinya terhindar dari tingkah laku jahiliyah. Ini dapat dilakukan dengan menjadi suri tauladan bagi putra-putrinya dan memberikan pendidikan agama yang mendalam.

“Kalau mau putra-putri kita patuh terhadap perintah dan ajakan kita, kita harus memberikah dakwah bil hal (tingkah laku) langsung membeir contoh. Tidak hanya perintah saja namun kita sendiri tidak mengerjakannya,” anjurnya.

Dakwah bil hikmah dan dakwah bil hal inilah yang dilakukan oleh Rasulullah yang kemudian dicontoh oleh para wali dalam menyiarkan Islam di Nusantara ini. Para wali mampu menformulasikan metode yang tepat sehingga dakwahnya mampu diterima oleh bangsa Indonesia.

“Para wali sangat bijak dalam berdakwah dengan memperhatikan budaya dan pola pikir masyarakat yang ada,” jelasnya.

Ia pun memberi contoh para wali yang berdakwah menggunakan wayang sebagai media. Buktinya, metode ini sangat ampuh mengislamkan masyarakat di Nusantara ini. Dengan memasukkan unsur-unsur budaya yang dipadu dengan nilai-nilai agama, media wayang menjadi daya tarik tersendiri dalam berdakwah ala wali songo.

“Banyak makna filosofi yang terkandung dalam wayang seperti gunungan wayang ini,” katanya sambil mengambil gunungan wayang yang selalu menjadi pembuka dan penutup pertunjukan wayang.

Ia menjelaskan bahwa bermacam-macam binatang ada dalam gunungan wayang yang menggambarkan nafsu manusia. Diantaranya adalah Harimau melambangkan nafsu amarah, Banteng  melambangkan nafsu lawwamah, Kera melambangkan nafsu shufiah dan Burung melambangkan nafsu mutmainnah.

Perpaduan inilah tegas Ustadz Jefri, yang mampu diterima oleh masyarakat Nusantara sehingga kenikmatan Islam dapat dirasakan. Bukan hanya pada saat itu saja namun sampai dengan saat ini, manusia modern juga dapat ikut merasakannya.

Oleh karena itu, ia mengajak kepada umat Islam untuk senantiasa bersyukur atas nikmat Islam yang telah dianugerahkan dengan senantiasa berprilaku dengan akhlakul karimah.

“Berdakwahlah dengan hikmah, dan berperilakulah dengan akhlakul karimah seperti Rasulullah,” pungkasnya. (Muhammad Faizin)