::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Nabi Muhammad, Sosok yang Tak Pernah Habis Dipelajari

Sabtu, 01 Desember 2018 21:00 Nasional

Bagikan

Nabi Muhammad, Sosok yang Tak Pernah Habis Dipelajari
Foto: KH Muhammad Nur Hayid

Jakarta, NU Online
Saat menjadi pembicara pada peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Majid Raya Baitul Makmur yang dikeloala Pemprov DKI Jakarta, Ahad (1/12), KH Muhammad Nur Hayid (Gus Hayid) mengungkapkan bahwa Rasulullah Muhammad SAW adalah sosok teladan dan panutan yang tak akan pernah habis dikaji dan dipelajari. Ia mengajak umat Islam khususnya para generasi muda untuk menjadikan Rasulullah teladan dan panutan dalam bergaul dan menjalani kehidupan di dunia ini.

"Kalau kita ingin selamat di dunia dan di akhirat serta dicintai Allah dan Kanjeng Nabi, maka ayo kita berkomitmen, berniat menjadikan sang junjungan Muhammad SAW sebagai uswah dan teladan terbaik. Kalau kita bisa, dijamin surga dunia dan akhirat pasti akan ada dalam genggaman," tegas Pengasuh Pesantren Skill Jakarta ini.

Salah satu cara paling mudah untuk bisa meneladani Rasulullah sepenuh hati adalah dengan mengerti dan memahami sosok beliau serta sejarah kehidupan perjuangannya. Oleh karenanya, membaca sejarah dalam sirah nabawiyyah, maupun dan sunah dan hadits beliau serta membaca Al-Qur'an adalah keniscayaan yang harus dilakukan.

"Sebab, kalau ingin tau siapa Rasulullah, bagaimana akhlak Rasulullah, ya kita harus baca Al-Qur'an dan hadits serta sunah-sunah beliau. Maka momentum peringatan Maulid Nabi yang kita gelar tiap tahun ini sejatinya adalah waktu yang pas untuk kita mengecek diri kita sudahkah seiring bertambahnya umur kita menjadi lebih baik dan bisa meneladani Rasulullah?. Artinya kita semakin dekat dengan Allah dan cinta rasul-Nya," terang pengurus Komisi Dakwah MUI pusat ini.

gus Hayid juga menegaskan jika umat Islam bisa memaknai berulangnya peringatan Maulid Nabi dengan komitmen untuk menjadi lebih baik dan lebih taat kepada Allah dan cinta kepada Rasulullah, maka umat Islam akan bisa merasakan indahnya kerinduan kepada sang pujaan Rasulullah SAW.

Namun jika peringatan maulid hanya dijadikan seremonial belaka, maka sangat disayangkan karena pasti hanya akan menambah kegersangan demi kegersangan kegiatan yang kita lakukan.

"Wujud paling sederhana kalau acara maulid punya efek dalam kehidupan kita adalah sudahkah diri kita terus dan selalu memperbanyak bacaan shalawat kepada kanjeng nabi? Lalu diri kita menjadi pribadi yang terus ingin mencontoh dan meneladani kanjeng nabi. Bersikap lemah lembut dan penuh cinta serta menjauhkan diri dari sikap kasar, dzalim, caci-maki dan perilaku hoaks. Kalau kita bisa merasakan efek ini, sungguh kita lah orang yang sedang dirindukan Kanjeng Nabi Muhammad SAW," pungkasnya. (Red: Muhammad Faizin)