::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Mengaku Menerima Wahyu Allah

Ahad, 02 Desember 2018 17:00 Humor

Bagikan

Mengaku Menerima Wahyu Allah
Gua Hira, tempat Muhammad menerima wahyu untuk pertama kali. Foto: Screenshoot YouTube
Muhammad diangkat Allah sebagai nabi dan rasul terakhir saat usianya 40 tahun. Kemudian Muhammad ‘mendeklarasikan diri’ di hadapan masyarakat Arab bahwa dirinya adalah seorang yang diutus untuk menyampaikan risalah Allah. Di awal-awal, ada yang percaya dan beriman kepada Muhammad. Tapi lebih banyak yang menentangnya, bahkan memusuhinya.

Alasan mereka yang menolak kerasulan Muhammad pun bervariasi. Mulai dari faktor ekonomi hingga iri hati. Mereka tidak rela kalau yang menjadi pembawa risalah Tuhan adalah Muhammad. Maka kemudian muncul nabi-nabi palsu, orang-orang yang mengaku mendapatkan wahyu dari Allah. Baik pada saat Nabi Muhammad maupun sepeninggalnya.

Salah satunya adalah Mukhtar as-Sakafi. Mukhtar dikenal sebagai seorang yang mencampuradukkan konsep agama untuk tujuan politik. Ia mengklaim bahwa pemikiran-pemikirannya soal agama tersebut berasal dari Allah. 

Cerita soal Mukhtar yang mengaku kalau dirinya menerima wahyu dari Allah ini sampai di telinga Abdullah ibnu Umar, putra Umar bin Khattab. Ibnu Umar merupakan sahabat Nabi Muhammad saw. yang cerdas dan memiliki sikap hati-hati. Ia masuk Islam ketika masih anak-anak, sebelum usia baligh.

Ibnu Umar hanya memberikan respons santai tapi menukik ketika ada seseorang yang melapor kepadanya tentang Mukhtar tersebut. Mula-mula, Ibnu Umar menjawab kalau klaim Mukhtar itu adalah benar. Ibnu Umar lantas mengutip salah satu firman Allah QS. Al-An’am ayat 121 tentang hal itu.

“Klaimnya benar, karena Allah berfirman, ‘Sesungguhnya setan-setan akan membisikkan kepada kawan-kawannya,” jawab Ibnu Umar yang mengibaratkan Mukhtar sebagai teman setan. (Muchlishon)

Kisah ini disadur dari buku Tertawa Bersama Al-Qur’an, Menangis Bersama Al-Qur’an (Hasan Tasdelen, 2014)