::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Pertemuan Terakhir Gus Mus Sebelum Gus Dur Wafat

Selasa, 04 Desember 2018 20:45 Nasional

Bagikan

Pertemuan Terakhir Gus Mus Sebelum  Gus Dur Wafat
Gus Mus (tengah peci putih)
Jombang, NU Online
Pengasuh Pesantren Al-Aqobah Desa Kwaron, Kecamatan Diwek, Jombang, Jawa Timur KH Akhmad Kanzul Fikri menceritakan pengalamannya usai bertamu ke rumah KH Mustofa Bisri (Gus Mus) di Leteh, Rembang, Jawa Tengah. 

Menurutnya, Gus Mus mempunyai hubungan khusus dengan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Keterangan ini didapatkannya setelah bercerita panjang lebar dengan Gus Mus.

"Beberapa hari lalu kami sekeluarga bertamu ke rumah Gus Mus, banyak yang diceritakan oleh Gus Mus. Salah satunya yaitu hubungan istimewa antara ia dengan Gus Dur. Bahkan sebelum wafat Gus Dur meminta khusus kepada pihak keluarga untuk bertemu Gus Mus," katanya, Selasa (04/12).

Pria yang akrab disapa Gus Fikri ini menjelaskan ketika dalam keadaan sakit menjelang hari-hari terakhirnya, Gus Dur berkata kepada adiknya dr Umar kalau ia kangen Gus Mus. Saat itu, dokter Umar pun spontan mencegah Gus Dur untuk bepergian karena memang kondisinya yang lemah. Umar merupakan dokter yang menemani Gus Dur sejak sakit hingga wafat.

dr Umar sempat menawarkan akan meminta Gus Mus datang menemui Gus Dur. Namun tawaran itu ditolak oleh Gus Dur dengan alasan yang kangen adalah Gus Dur maka seharusnya dia pula yang datang menemui Gus Mus bukan sebaliknya. Maka pada saat itu juga, Gus Dur diantar menemui Gus Mus walaupun dalam keadaan sakit.

"Menurut cerita Gus Mus, Gus Dur datang bersama dr Umar, istrinya beserta putri-puterinya saat bertandang ke Rembang. Anehnya, saat di Rembang, dua tokoh besar sekaligus sahabat lama ini mengobrol lama hingga larut malam. Jika tidak diingatkan oleh istri Gus Dur, mungkin ngobrolnya bisa lebih lama lagi, sampai subuh," tambah Gus Fikri.

Saat pamitan dari Gus Mus, Gus Dur memberi isyarat jika dirinya ingin ke Jombang karena dipanggil oleh kakeknya KH Hasyim Asy'ari. Benar saja, selang tak berapa lama kemudian Gus Dur wafat. Dan di makamkan di komplek Pesantren Tebuireng, Jombang. Satu lokasi dengan ayahnya KH Wahid Hasyim dan kakehnya, KH Hasyim Asy'ari. Sejak wafat hingga saat ini makam Gus Dur tak pernah sepi pengunjung. Ribuan manusia setiap hari ziarah ke makamnya.

"Gus Dur dan Gus Mus adalah contoh sahabat sejati, hubungan batin di antara keduanya sangat kuat. Terbukti sebelum wafat dalam keadaan sakit Gus Dur masih ingat Gus Mus dan memberikan isyarat tentang kembali ke Jombang," ujarnya.

Gus Fikri menyebutkan, pertemuan antara Gus Mus dan Gus Dur berawal saat keduanya kuliah di Universitas Al-Azhar Mesir. Gus Mus berangkat ke Mesir lewat rekomendasi KH Ali Ma'shum. Walaupun tidak menempuh pendidkan formal, Gus Mus berhasil lolos. Menurut Gus Mus hal itu karena karomahnya Kiai Ali Ma'shum.

Selang 6 bulan di Al-Azhar, Gus Mus bertemu Gus Dur. Uniknya Gus Dur hanya mendaftar saja di Al-Azhar. Tapi tidak pernah masuk kuliah karena merasa semua mata kuliah di jurusan yang dipilih sudah dipelajari di pesantren. Gus Dur justru malah aktif berorganisasi dan membangunan jaringan/network global. Gus Dur aktif mengumpulkan mahasiswa dari berbagai negara seperti Maroko, Prancis, Belanda, dan Mesir untuk saling bertukar ilmu dan pengalaman.

"Usai di Al-Azhar, selanjutnya Gus Dur kuliah di Irak. Setelah itu ia mengajak Gus Mus pindah dan bekerja di Belanda. Di sana Gus Dur hidup dan bekerja dengan uang yang lebih. Bahkan bisa membeli mobil second. Gus dur berjanji ngajak Gus Mus berkeliling Eropa dengan mobilnya. Namun rencana ini gagal karena Gus Mus harus mendampingi Ibunya pergi Haji," beber Gus Fikri.

Lanjut Gus Fikri, persahabatan antara Gus dur dan Gus Mus sempat renggang saat Gus Dur menjadi Presiden Indonesia. Walaupun begitu, sekali-sekali dua karib ini masih sering kabar-kabar dan cerita. Hanya tak seakrab seperti sebelumnya.

Kesamaan antara Gus Mus dan Gus Dur cukup banyak, salah satunya terletak pada kecintaan yang sangat kuat dengan sosok ibunya masing-masing. Gus Mus berkali-kali menolak jabatan penting di negeri ini karena tak dapat izin dari ibunya. Begitu juga Gus Dur, bila dipanggil oleh sang ibu pasti langsung datang. Bahkan saat debat dengan adik-adiknya, Gus Dur tak mau mengalah maka adik-adiknya wadul ke sang ibu. Baru Gus Dur manut dan diam.

"Gus Dur sangat hormat ibunya, wajar jadi tokoh besar. Menurut Gus Mus, ada 2 tokoh Islam yang menjadi primadona ketika itu. Yakni Gus Dur dan Cak Nur (Nurcholish Majid). Keduanya dianggap sebagai sosok yang cendikiawan dan pintar dalam ilmu umum dan ilmu agama. Keduanya juga berasal dari Jombang. Namun Gus Dur lebih unggul sedikit karena memiliki "akar" yang lebih kuat," tandas Gus Fikri.  (Syarif Abdurrahman/Muiz)