::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Yang Waras Jangan Ngalah

Kamis, 06 Desember 2018 15:55 Nasional

Bagikan

Yang Waras Jangan Ngalah
Jakarta, NU Online
Peneliti Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), Dr Adnan Anwar mengatakan bahwa waraga dunia maya tidak boleh diam saja terhadap konten berita hoaks dan ujaran kebencian. Menurutnya, masyarakat dunia maya seharusnya terlibat dalam membatasi peredaran konten seperti itu. 

Ia yakin bahwa jumlah kelompok tidak setuju menggunakan berita hoaks lebih banyak disbanding yang setuju. Namun masalahnya, lanjutnya, kelompok yang tidak setuju ini selama ini lebih memilih diam lalu menjadi mayoritas yang diam atau silent majority.
 
“Ada istilah di masyarakat kita ini mengatakan 'Yang Waras Lebih Baik Ngalah'. Padahal jadi orang baik atau waras itu tidak boleh diam. Yang waras ini ya harus ikut terlibat menangkal secara aktif. Sehingga  penggunaan media sosial akan dipenuhi oleh orang-orang yang baik, sehingga substansi atau kontennya arahnya juga akan baik. Karena kalau tidak  ya akan seperti ini terus,” ujar Adnan Anwar.  

Namun ia memahami alasan yang lebih banyak diam karena malas untuk berdebat atau bertengkar. Mereka beranggapan bahwa berdebat di dunia maya hanyalah aktivitas membuang-buang waktu yang tidak produktif. 
 
Akan tetapi justu karena hal itulah kelompok-kelompok tertentu yang suka menyebarkan ujaran kebencian dan berita hoaks di dunia maya menguasai konten media online dan media sosial secar masif. Parahnya, kata dia, mereka menanggap apa yang mereka lakukan itu adalah dakwah dan jihad.
 
“Bagi kita itu bukan jihad, jihad dari mana? Memecah belah kok bisa dibilang jihad. Itu keliru dan harus dilawan supaya ini jangan terus menerus terjadi. Kalau dibiarkan terus-menerus akhirnya dianggap sebagai kebenaran oleh masyarakat kita yang awam yang terbatas aksesnya terhadap informasi  benar,” ujarnya. (Ahmad Rozali)