::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Dua Kumpulan Cerpen Santri Jombang Dibedah di PBNU

Kamis, 06 Desember 2018 18:34 Nasional

Bagikan

Dua Kumpulan Cerpen Santri Jombang Dibedah di PBNU
Jakarta, NU Online 
Dua buku kumpulan cerpen karya santri Jombang, Jawa Timur dibedah di Gedung PBNU, Jakarta, Kamis (6/12). Dua kumpulan cerpen tersebut adalah Kucing Makan Koran (Boenga Ketjil bekerja sama dengan Diandra Kreatif, Jombang, 2018) karya Zainuddin Sugendal dan Trik Ahli Neraka (Penerbit Mitra Karya, Tuban, 2018) karya Hilmi Abedillah.

Bedah buku bertema Menggerakkan Sastra Nahdliyin yang diupayakan NU Online, Omah Aksoro, dan Lesbumi PBNU tersebut menghadirkan pengamat sastra, Hudori Husnan. Hudori menelisik kedua buku tersebut setelah dua penulisnya bercerita proses kreatif mereka dalam berkarya.

“Bagaimana Zainuddin Sugendal dan Hilmi Abedillah lebih memilih jalan ‘mengambang’  dari pada  menulis cerpen sesuai selera  kebanyakan pembaca cerpen? Persoalan ini menarik untuk didalami,” tanya Hodori dalam diskusi itu. 

Menurutnya, cerpen-cerpen Zainuddin Sugendal dan Hilmi Abedillah diikat oleh benang merah, sama-sama menjadikan khazanah pesantren NU, sebagai titik pemberangkatan. 

Cerpen Hilmi Abedillah, kata dia, Daenuri Ketemu Dinawari yang berkisah tentang ambisi Daenuri berziarah ke makam Syekh Dinawari di Baghdad, pekat dengan istilah-istilah khas pesantren termasuk kitab Jurumiyah, Rihlah Ibnu Bathuthah dan seterusnya. 

“Istilah-istilah khas pesantren juga banyak dijumpai di cerpen lain termasuk cerpen Sya’ban yang penokohannya memakai nama-nama bulan dalam penanggalan Hhijriyah, serta cerpen Barokah,” katanya.  

Sama seperti cerpen-cerpen Hilmi Abedilah, cerpen-cerpen Zainuddin Sugendal juga banyak memakai istilah-istilah pesantren misalnya pada cerpen Ziarah dan Abraham dan Air Mata di Alif Lam Mim yang berkisah tentang kecurigaan santri senior terhadap santri mualaf yang diduga penganut aliran sesat. 

Tak seperti Hilmi, kata dia, Zainuddin Sugendal mulai memasuki tema-tema berbalut teka-teki  seperti terdapat di cerpen Angsana dan Sebelas Macan Tuan Hasan yang memasukan unsur-unsur mitologi dan jampi-jampi. 

“Sudah barang tentu Hilmi Abedilah dan Zainuddin Sugendal bukan yang pertama menjadikan tema-tema pesantren sebagai sudut pandang. Gus Mus, salah satunya, pernah menulis cerpen tentang Gus Jakfar,” jelasnya. “Lebih jauh lagi, kata dia, ada nama Djamil Suherman sastrawan angkatan 60-an dan 70-an yang banyak mengangkat kehidupan pesantren,” lanjutnya. 

Bedanya, tema-tema pesantren lebih dijadikan inspirasi dan bukan sebagai intensitas apalagi sebagai kesadaran untuk merontokkan dominasi kebahasaan yang datang dari luar  bahasa pesantren. 

Kegiatan tersebut diawali dengan pembacaan dua cerpen dari masing-masing buku oleh Abdullah Wong yang diawali dengan kidung Ki Ardhi yang diiringi petikan gitar Sastro Adi. Diskusi tersebut juga menghadirkan narasumber lain yaitu dosen linguistik Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) Faris Alniezar, dan penyair Abdullah Wong. (Abdullah Alawi)