::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Rasulullah dan Badui yang Tidak Mau Mengakui Anaknya

Jumat, 07 Desember 2018 20:00 Hikmah

Bagikan

Rasulullah dan Badui yang Tidak Mau Mengakui Anaknya
Rasulullah merupakan sumber kebenaran karena ia menerima wahyu langsung dari Allah. Apapun yang dilakukannya adalah suri teladan yang harus diikuti, kecuali hal-hal tertentu yang memang dikhususkan untuk Rasulullah. Apapun yang diucapkannya adalah wahyu yang mengandung kesahihan. 

Rasulullah merupakan sumber ilmu. Sehingga jika para sahabatnya menemukan suatu hal yang janggal maka mereka akan mengadukannya kepada Rasulullah untuk meminta solusi. Tidak hanya soal keagamaan, Mereka juga bertanya tentang hal-hal lainnya. Permasalahan rumah tangga misalnya.  

Dalam buku Kisah-kisah Romantis Rasulullah (Ahmad Rofi’ Usmani, 2017), dikisahkan bahwa suatu ketika seorang Badui dari Bani Fazarah mendatangi Rasulullah. Ia mengadu tentang istrinya yang baru saja melahirkan seorang bayi yang berkulit hitam. Seorang Badui tersebut tidak terima.  Ia tidak mau mengakui anak itu karena kulitnya tidak sama dengan dirinya –yang tidak hitam.

“Anak itu jelas bukan anakku,” tegasnya.

Rasulullah tidak langsung meresponsnya. Ia diam sejenak. Setelah amarah di Badui tersebut dikira sudah stabil, Rasulullah baru menjawabnya. Menariknya Rasulullah tidak langsung menjawab kalau anak itu adalah anak si Badui atau tidak. Akan tetapi Rasulullah menyampaikan perumpamaan kepada si Badui dalam menyelesaikan kasus tersebut.

Mula-mula Rasulullah bertanya kepada si Badui apakah ia memiliki unta. Punya, kata si Badui. Rasulullah kemudian bertanya perihal warna dari unta si Badui. Warnanya merah wahai Rasulullah, sambung si Badui. Lagi-lagi Rasulullah kembali bertanya, ‘apakah anak-anak dari untamu itu ada yang berwana abu-abu?’ Si Badui menjawab bahwa anak dari untanya ada yang berwarna abu-abu sebagaimana yang ditanyakan Rasulullah.

“Dari mana asalnya anaknya yang berwarna abu-abu itu?” kata Rasulullah kembali mengajukan pertanyaan kepada si Badui.

Si Badui menjawab dengan sekenanya kalau anak untanya yang berwarna abu-abu itu –sementara untanya sendiri berwarna merah- bisa saja berasal dari asal keturunannya. Dari sini kemudian Rasulullah mengumpamakan anak Badui yang hitam itu. Dengan nada yang santun Rasulullah mengatakan kalau anak Badui yang berkulit hitam itu bisa saja ‘turunan’ dari nenek moyangnya, sebagaimana untanya tersebut.

“Sahabatku, anakmu pun begitu. Mungkin nenek moyangnya ada yang berkulit hitam,” kata Rasulullah. Setelah mendengar penjelasan Rasulullah, si Badui akhirnya mau menerima anaknya yang kulitnya tidak sama dengan dirinya itu. 

Demikian Rasulullah menjawab persoalan dari umatnya. Kalau saat ini mungkin gampang saja. Tinggal dites DNA-nya. Namun saat itu ilmu pengetahuan belum berkembang secanggih seperti saat ini. Jadi Rasulullah menggunakan perumpamaan-perumpamaan yang relevan dan mudah dicerna umatnya. (A Muchlishon Rochmat)