Nasional

Apakah Pesantren Masih Melakukan Transformasi Sosial?

Ahad, 3 September 2023 | 12:00 WIB

Apakah Pesantren Masih Melakukan Transformasi Sosial?

Ketua PBNU Syafii Alielha (Savic Ali) (Foto: Dok NU Online)

Jakarta, NU Online
Pesantren adalah subkultur atau komunitas yang mempunyai nilai-nilai tersendiri, yang berbeda dengan di luar pesantren. Seperti nilai sederhana (asketisme), komunal, tirakat, barakah dan lain sebagainya.


Ketua PBNU, Syafii Alielha menyampaikan hal itu saat memantik diskusi Melipatgandakan Daya Pesantren, Rakyat Mau Apa? Santri Bisa Apa?, Senin (28/8/2023) di Pondok Pesantren Ciganjur, Cinganjur, Jagakarsa, Jakarta.


"Kalau di pesantren mempunyai nilai kesederhanaan (asketisme), maka di luar pesantren cenderung orientasinya materialisme atau kedonyan (keduniawian)," kata pria yang akrab disapa Savic Ali itu.


Savic menjelaskan pesantren juga mempunyai misi transformasi sosial. Orang selalu menganggap pesantren kaku atau kolot. Namun seiring zaman, mulai pada era KH Wahid Hasyim pandangan tersebut berubah. Tapi dengan perubahannya, Savic Ali mempertanyakan: Akankah pesantren kehilangan coraknya atau tidak?


"Gus Dur pernah mengatakan bahwa pesantren mampu mentransformasikan masyarakat. Misal dari non-religius menjadi religius," ujarnya.


"Puluhan tahun pesantren mampu membentuk masyarakat Indonesia. Bagaimana sekarang? Apakah sekarang masih mentransformasikan masyarakat? Apakah justru masyarakat luar mempengaruhi pesantren?" imbuhnya.


Independensi pesantren diuji
Akivis yang pernah menjadi Direktur NU Online ini menyebut dengan kucuran dana dari pemerintah, bagaimanapun independensi pesantren diuji. "Akibatnya kurikulum pesantren disesuaikan dengan pemerintah. Alhasil, (santri) pinter baca kitab kuning tidak, dan pinter ilmu umum juga tidak," ujarnya.


"Mungkin lulusan pesantren sudah jutaan, tapi bisakah menjadi agen of change? Bisa membentuk arus atau ikut arus? Kita lihat banyak santri yang justru terbawa arus," tambah alumnus Perguruan Islam Matholi'ul Falah, Kajen, Margoyoso Pati ini.


Savic memaparkan, selama ratusan tahun sejak Wali Songo, santri dapat mengubah masyarakat dari kosmosentris (menyembah benda) menjadi teosentris (menyembah Allah) hingga menjadi religius.

 

"Bagaimana dengan sekarang? Apalagi tantangannya saat ini masyarakatnya modern, industrial dan individualis," terangnya.​​​​​​


Savic menyebut bila pesantren atau Nahdlatul Ulama, saat ini belum terlihat responnya dalam menghadapi masyarakat industrial dan konsumerisme. "Kecuali mendirikan sekolah non-agama. Padahal visi pesantren mengubah masyarakat atau transformasi sosial," kata Savic Ali.

 

Pemateri lain H Syaifullah Amin dari Aswaja TV mengatakan bahwa masyarakat mengenal Islam Indonesia, tidak hanya berkaitan dengan pesantren, tetapi ada lembaga lain seperti madrasah dan masjid.


"Dulu orang di Priok (Tanjuk Priuk Jakarta) rela berdarah-darah demi agama di atas  aktivitas komersialisme tingkat dunia, padahal Priok bukan basis pesantren," ujarnya.