IMG-LOGO
Risalah Redaksi

Memberi Peran Lebih Generasi Milenial untuk Berdakwah

Ahad 9 Desember 2018 16:0 WIB
Bagikan:
Memberi Peran Lebih Generasi Milenial untuk Berdakwah
Setiap zaman melahirkan generasinya masing-masing. Generasi milenial merupakan generasi baru yang alam pikirnya jauh berbeda dari generasi-generasi sebelumnya. Lompatan teknologi digital telah mengubah banyak hal, menyebabkan ada kesenjangan yang lebar dengan generasi sebelumnya. Strategi dakwah untuk mereka tentu saja harus menyesuaikan diri dengan karakternya. Saatnya mereka pula yang berdakwah untuk generasinya sendiri.

Dalam banyak hal, strategi pemasaran dapat digunakan untuk membantu strategi dakwah. Keduanya membahas masyarakat yang akan menjadi sasaran dakwah atau pasar produk dan jasa. Para ahli pemasaran menggunakan pendekatan segmentasi untuk kelompok sasaran tertentu. Salah satunya adalah dengan pendekatan segmentasi kelompok usia yang masing-masing memiliki ciri kepribadian yang berbeda-beda.  

Para ahli membuat lima kategori generasi dalam seratus tahun belakangan ini. Pendekatan untuk tiap generasi berbeda-beda karena mereka tumbuh dan berkembang dalam suasana dan lingkungan sosial yang berbeda. 

Generasi pertama adalah Tradisionalis (1900-1945). Mereka terlahir dalam masa perang dunia I dan II dengan segala kesulitan hidup yang diakibatkan olehnya. Karena itu, mereka adalah orang-orang yang memiliki patriotisme tinggi, berdedikasi, pekerja keras dan bertanggung jawab. Komunitas dan keluarga merupakan hal yang sangat penting. Tak banyak yang masih bertahan hidup dari generasi ini atau mereka sudah tidak aktif lagi dalam kehidupan sosial. Bagi pemeluk Islam yang taat, mereka memfokuskan diri untuk beribadah guna mempersiapakan diri bagi kehidupan selanjutnya.

Generasi berikutnya disebut Babby Boomers yang terlahir pada 1946-1964. Dalam konteks Indonesia, generasi ini tumbuh setelah perang kemerdekaan. Masa ekonomi yang masih sulit. Perang dingin dan pertentangan ideologi yang menjadi warna dalam kehidupan sosialnya. Mereka yang sukses merupakan orang-orang yang sangat rajin dan bekerja keras. Di lingkungan NU, mereka kini menjadi tokoh-tokoh paling berpengaruh karena kematangan dan pengalaman hidupnya.

Selanjutnya adalah Genarasi X yang lahir pada 1965-1976. Di Indonesia, mereka besar dalam masa Orde Baru yang mengutamakan pembangunan fisik tetapi tertutup dalam kehidupan sosial politik. Mulai banyak di antara mereka yang menempuh pendidikan tinggi dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Karena itu, untuk bisa berhasil, mereka bekerja lebih pintar bukan lebih lama. Dengan usia 41-52, banyak di antara mereka sedang dalam puncak karirnya. Termasuk di antaranya para aktivis NU yang kini menjadi gubernur, bupati, DPR dan jabatan publik lainnya.  

Sesudah itu, muncul Generasi Y, yaitu mereka yang telahir pada 1977-1995. Mereka mulai mengenal teknologi digital dengan segala kemajuannya. Dengan teknologi baru ini, banyak yang berhasil mengembangkan potensinya menjadi prestasi, percaya tinggi, dan toleran mengingat keterbukaan dengan dunia luar. Mereka merupakan orang-orang yang ambisius dan multitasking. Pada aktivis NU, kini mereka sedang menapaki puncak karirnya yang berkembang pesat. 

Terakhir adalah Generasi Z atau generasi Milenial, merupakan generasi yang lahir mulai 1996 sampai sekarang. Mereka sangat terpengaruh teknologi, internet dan media sosial, tumbuh dalam keberagaman dan kebebasan politik di Indonesia. Beberapa karakternya adalah kreaktif, multitasking, narsis, kritis terhadap fenomena sosial. Ada keluhan bahwa generasi ini hidup konsumtif, serba instan, kesopanan dan rasa hormat yang mulai luntur, lebih memperhatikan komentar orang lain dibandingkan orang tua. 

Pengguna internet saat ini sebagian besar adalah generasi Y dan Z. Dan generasi inilah yang akan  menjadi pemimpin dan pengambil keputusan di waktu mendatang. Akan jadi apa Indonesia pada  20-30 tahun mendatang sangat ditentukan  oleh generasi yang tumbuh saat ini. 

Lalu bagaimana bisa menyasar dakwah kepada kelompok usia tersebut dengan efektif? Tentunya adalah orang-orang yang memahami karakteristik mereka. Dan yang paling tahu adalah mereka yang satu generasi. Hal tersebut bisa tercermin dari munculnya ustadz-ustadz muda dengan gaya kekinian. Para ustadz tidak lagi harus terkesan tua dan berwibawa tetapi berjarak dengan jamaahnya. 

Pola keterlibatan anak-anak muda NU dalam ranah dakwah sudah saatnya diperluas dengan menempatkan mereka pada garis depan dakwah. Generasi yang lebih tua, memberikan pengarahan dan bimbingan. Generasi muda yang kini ada di IPNU/IPPNU atau Ansor/Fatayat NU sesungguhnya mampu menjalankan peran yang lebih besar dibandingkan dengan yang mereka jalankan saat ini. 

Generasi  awal para pemimpin NU seperti KH Wahid Hasyim menjadi pemimpin dalam usia sangat muda. Pada usia 26 tahun ia sudah menjadi ketua Mejelis Islam A’la Indonesia (MIAI), federasi organisasi massa dan partai Islam saat itu. Umur 31 sudah menjadi menteri agama. Dan beliau meninggal saat menjadi ketua umum PBNU pada usia 38. Usia-usia ketika banyak anak muda belum mendapatkan peran yang memadai.

Secara kapasitas, lebih berpendidikan dan pintar, dan lebih akrab dengan teknologi. Saatnya mereka  mendapatkan kepercayaan lebih untuk memaksimalkan potensinya. Mendampingi anak-anak muda yang haus belajar agama di internet atau media sosial. Membimbing mereka layaknya sebagai teman sebaya atau dalam hubungan yang lebih setara.  (Achmad Mukafi Niam)

Bagikan:
Ahad 2 Desember 2018 12:0 WIB
Membaca Masa Depan Gerakan Politik Islam
Membaca Masa Depan Gerakan Politik Islam
Perjuangan untuk mengangkat aspirasi umat Islam di Indonesia telah berjalan dalam rentang waktu yang panjang. Sejak sebelum kemerdekaan Indonesia, umat Islam merupakan bagian penting dalam melawan penjajah. Kini dalam sistem demokrasi, upaya memperjuangkan aspirasi umat Islam memiliki ruang yang lebih banyak dan dalam beragam bentuk.
 
Awal kemerdekaan disertai dengan semangat menjadikan Indonesia sebagai negara Islam. Salah satunya dengan Piagam Jakarta. Upaya tersebut mengalami kegagalan. Perjuangan dengan semangat yang sama selanjutnya dalam sidang-sidang Konstituante dengan hasil yang sama pula. Era kini, perjuangannya adalah bagaimana melaksanakan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari karena itu yang sesungguhnya menentukan maju mundurnya sebuah bangsa. 

Era Orde Baru dengan kekuasaan militer menyebabkan beragam aspirasi politik dibungkam. Seluruh partai politik berbasis Islam difusikan dalam PPP sementara kelompok lain dimasukkan dalam PDI. Golkar dengan seluruh perangkat birokrasi dan militernya menguasai mayoritas perolehan suara. Keruntuhan Orde Baru dan kemunculan kebebasan kembali memunculkan cita-cita lama untuk memperjuangkan Piagam Jakarta. Gerakan ini pun hanya sayup-sayup suaranya. Ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah menolak ide tersebut. 

Di kalangan umat Islam sendiri, terdapat berbagai macam kelompok yang masing-masing memiliki perbedaan pandangan bagaimana hubungan antara Islama dan negara. Secara garis besar dapat dibagi dalam dua kelompok, yaitu yang berpandangan perlunya formalisasi aturan Islam dan kedua adalah dengan penerapan prinsip dan nilai-nilai Islam, sekalipun tidak secara formal ditulis dengan merek Islam.

Persoalan lain adalah kepentingan dari masing-masing organisasi atau bahkan antartokoh umat Islam sendiri. Era pascakemerdekaan melahirkan Masyumi yang menjadi wadah seluruh umat Islam untuk perjuangan politiknya. Berbagai perbedaan menyebabkan organisasi tersebut pecah. NU dengan jumlah massa besar merasa kurang diakomodasi dalam komposisi perwakilan di Masyumi, dan akhirnya menyatakan diri keluar. NU kemudian dapat membuktikan diri sebagai partai politik ketiga terbesar dengan perwakilan suara yang jauh lebih tinggi.

Pemaksaan fusi partai-partai Islam dalam PPP era Orde Baru juga tidak membuat partai tersebut menjadi besar. Di luar faktor eksternal berupa kooptasi Golkar sampai ke akar rumput, terdapat pertarungan internal yang keras antara berbagai faksi yang ada. Kelompok kecil tetapi bersuara keras, berusaha mendominasi dan mengendalikan partai. Mereka berusaha meminggirkan NU. Situasi ini menguatkan semangat kembali ke Khittah 1926 yang kemudian terlaksana dalam Muktamar ke-27 NU tahun 1984 di Situbondo, Jawa Timur.

Era Reformasi dengan kebebasan politik memunculkan banyak sekali partai politik baru, termasuk yang mengatasnamakan diri sebagai partai politik Islam atau mengambil ceruk Muslim. Hanya ada beberapa yang bertahan dan mampu mendudukan perwakilannya di parlemen, yaitu PKB, PAN, PPP, dan PKS. Toh, sekalipun sudah menjadi semakin tersegregasi, dari waktu-ke waktu, partai-partai berbasis Islam tetap saja mengalami konflik internal yang menguras energinya.

Hanya pada momen-momen tertentu saja kekuatan umat politik Islam bersatu tapi kemudian bubar dan memperjuangkan kepentingannya masing-masing, salah satunya pembentukan Poros Tengah yang mampu menaikkan Gus Dur dalam kursi presiden RI pada 1999. Tapi kemudian kelompok politik Islam saling bersaing, bahkan meruntuhkan apa yang dibangun dan disepakati bersama.

Demikian pula, gerakan 212 berhasil mengumpulkan massa besar di Monumen Nasional (Monas) Jakarta ketika ada isu bersama berupa kasus “penistaan agama” yang dilakukan oleh Basuki Tjahaja Purnama atau lebih dikenal Ahok. Namun, para tokoh dan inisiator gerakan tersebut kini terpecah dalam berbagai faksi yang satu sama lain saling bersaing meraih tujuan yang berbeda.

Jika dahulu partai politik benar-benar tersegregasi berdasarkan ideologi, kini partai politik menjadi sangat cair, bahkan pragmatis tanpa basis ideologi yang jelas ketika satu politisi dengan mudah loncat dari satu partai ke partai lainnya saat kepentingan politiknya tidak terakomodasi. Namun, apa pun partai politiknya, aspirasi umat Islam menjadi bagian penting mengingat besarnya jumlah pemilih Muslim. Perda-perda syariah yang muncul, bahkan banyak diinisiasi oleh partai-partai sekuler yang ingin meraih simpati pemilih Muslim. Karena itu, klaim sekelompok orang yang menganggap hanya dirinya representasi perjuangan umat Islam, maka klaim tersebut otomatis tertolak. 

Dengan rentang panjang perjalanan bangsa Indonesia, ada beragam situasi sesuai dengan pergerakan zaman. NU merespon situasi tersebut dengan strategi yang berbeda. Salah satunya dengan perubahan bentuk dari partai politik kembali menjadi organisasi massa Islam. Kemampuan menyesuaikan diri dengan situasi inilah yang membuat NU mampu bertahan karena mereka yang mampu bertahan bukanlah yang paling kuat, paling cepat, atau paling besar, melainkan mereka yang mampu menyesuaikan diri dengan situasi terbaru. 

Bagi NU, perjuangan kini adalah bagaimana nilai-nilai Islam dapat diterapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Terkait dengan kepentingan umat Islam secara khusus yang perlu diatur oleh UU, NU turut memperjuangkannya melalui para anggota parlemen yang belatar belakang NU seperti UU Haji, UU Zakat, UU Wakaf, UU Jaminan Produk Halal, dan lainnya. Dan kini sedang diperjuangkan UU Pesantren dan Pendidikan Keagamaan.  

Yang perlu disikapi dengan kritis kini dan di masa depan adalah, di antara berbagai macam gerakan yang mengatasnamakan Islam, jangan sampai hal tersebut hanyalah gerakan politik individu atau kelompok yang mengatasnamakan Islam. Bahkan hanya menjadi sandaran kelompok lain yang menjadikan kekuatan umat Islam sekedar sebagai basis suara kepentingan politiknya. (Achmad Mukafi Niam)

Ahad 25 November 2018 13:0 WIB
Guru dan Tantangan Menghadapi Teknologi Digital
Guru dan Tantangan Menghadapi Teknologi Digital
Teknologi telah memperluas, bahkan menggantikan peran guru. Jika kita ingin belajar sesuatu, tinggal membuka Google atau Youtube. Hampir semua hal yang perlu dipelajari, mulai dari matematika sampai dengan beragam ketrampilan unik bisa dipelajari dengan mudah di internet, baik di web, media sosial atau aplikasi berbasis Android atau Apple iOS. Dan sebagian besar bisa diakses secara gratis. Enaknya lagi, materi bisa diputar ulang kapan saja jika merasa belum paham.

Perluasan peran guru bisa terjadi karena kita bisa belajar secara langsung kepada para pakar kelas dunia yang mengajar di berbagai universitas ternama di dunia yang pengajarannya disampaikan secara daring. Nama-nama besar peraih Nobel, para penemu atau ilmuwan kelas dunia yang dulu hanya kita dengar, kini bisa kita serap ilmunya dari mana saja, selagi kita terhubung dengan internet atau materi tersebut sudah terunduh. Guru, dosen, atau penceramah yang populer memiliki banyak pengikut yang jumlahnya bisa mencapai jutaan akun. 

Peran tradisional guru mengalami ancaman disrupsi oleh teknologi sebagaimana profesi yang lainnya. Google dan McKinsey menegaskan adanya disrupsi ini dengan membuka lowongan kerja yang tidak mensyaratkan ijazah sekolah apapun, yang penting mereka memenuhi kualifikasi keahlian yang dibutuhkan. Para pengajar yang tidak mampu mengembangkan dirinya, akan tertinggal karena para pembelajar memiliki banyak pilihan pembelajaran di internet yang mendukung proses pembelajaran mereka.

Secara keseluruhan, terdapat 3.2 juta penduduk Indonesia yang berprofesi sebagai guru. Ini bukanlah jumlah yang sedikit. Revolusi digital ini mensyaratkan perubahan untuk tetap bisa bertahan atau mereka akan tergilas oleh zaman. Dari jumlah sebanyak itu, kualitas, usia, motivasi, dan lainnya dari para pengajar tersebut sangat beragam. 

Pada guru yang sudah berusia tua, mereka merupakan golongan digital imigrant, yaitu kelompok manusia yang mengenal internet setelah mereka berusia dewasa. Karena itu, mereka merasa asing dengan dunia baru tersebut. Mereka mengalami kesulitan untuk beradaptasi dengan dunia baru ini. Pada generasi milenial yang dari kecil sudah terkoneksi dengan internet, mereka adalah kelompok digital native. Mereka mudah menyesuaikan diri dengan teknologi digital. 

Sementara itu, para peserta didik masa kini merupakan generasi Z yang kehidupan sehari-hari sudah terhubung dengan teknologi digital. Generasi yang menginginkan segala sesuatu dengan cepat, narsis, tapi juga kreatif. Ada kesenjangan generasi antara mereka yang mengajar dan peserta didiknya. Gaya dan cara mengajar kuno sudah tidak sesuai dengan cara anak-anak masa kini belajar.

Situasi inilah yang menjadi tantangan besar dunia pendidikan Indonesia. Para guru harus terus belajar menyesuaikan diri dengan teknologi terkini dan psikologi peserta didik yang sudah banyak berubah. Ilmu yang diajarkan tidak cukup lagi dari apa yang mereka pelajari semasa mereka belajar di perguruan tinggi.

Ada banyak masalah terkait dengan guru dan kemampuan mereka untuk beradaptasi dengan kondisi kekinian. Pada masa lalu, guru digaji kecil sehingga ada pameo guru merupakan pahlawan tanpa tanda jasa. Amandemen UUD 1945 kemudian menegaskan pentingnya dunia pendidikan bagi kemajuan bangsa dengan alokasi anggaran 20 persen. Kesejahteraan guru diperbaiki dengan pemberian sertifikasi guru. 

Sayangnya, banyak pihak belum puas dengan kondisi saat ini sekalipun terdapat peningkatan anggaran pendidikan. Berbagai indikator kualitas pendidikan yang dirilis oleh lembaga-lembaga internasional menunjukkan posisi medioker pada Indonesia. Penambahan tunjangan ternyata tidak secara maksimal meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia. Tambahan tunjangan digunakan untuk hal-hal yang sifatnya konsumtif, bukan untuk peningkatan kapasitas keilmuan. 

Belum lagi, guru-guru yang saat ini masih berposisi sebagai guru honorer atau belum mendapatkan tunjangan sertifikasi. Problem yang mereka alami jauh lebih mendasar dibandingkan dengan mereka yang sudah menjadi PNS dan atau mendapatkan sertifikasi. Pada akhirnya, upaya untuk menyesuaikan diri dengan teknologi digital menjadi semakin berat. 

Di luar peran sebagai pengajar yang kini tergantikan oleh teknologi digital, ada peran yang menjadi semakin penting, yaitu sebagai pendidik yang mengajarkan nilai-nilai agama, moral, dan etika. Posisi ini tidak bisa digantikan oleh teknologi digital. Untuk bisa dipatuhi, guru harus memberikan teladan dari perilaku yang ditunjukkan di hadapan siswa dan dalam kehidupannya sehari-hari. 

Peran ini manjadi semakin strategis karena internet yang tanpa batas telah membawa serta beragam nilai dan ideologi yang dapat  diakses oleh siapa saja yang ingin membukanya. Teladan anak-anak masa kini bukan hanya orang tua, guru, atau orang yang ada di sekitar mereka, tetapi pahlawan super imajinatif atau para pesohor yang memiliki pengaruh luas di internet tetapi secara fisik tidak hadir. Warganet mengikuti media sosialnya atau informasi yang mereka sebarkan di internet. Mereka mempercayai, mendukung, dan membantu menyebarkan pendapat dari tokoh idolanya. 

Jaringan kelompok radikal atau ajaran agama transnasional yang belakangan marak di Indonesia, tumbuh dengan cepat salah satunya melalui kemudahan saluran informasi di internet. Sikap permisif terhadap perilaku menyimpang dengan mengatasnamakan HAM yang sebelumnya hanya berkembang pada budaya-budaya tertentu juga berkembang karena internet. 

Di sinilah peran strategis guru, untuk memberi panduan kepada peserta didik, apa saja yang baik untuk kehidupan mereka di masa mendatang. Saat satu peran mereka tergantikan oleh teknologi digital, peran lain sebagai pemberi keteladanan dalam era kebebasan di internet menjadi penting. Namun, hal ini menuntut para guru untuk terus menjadi pembelajar dan pemberi teladan. (Achmad Mukafi Niam)

Ahad 18 November 2018 14:30 WIB
Mencari Figur Inspiratif Pengubah Zaman ala Rasulullah
Mencari Figur Inspiratif Pengubah Zaman ala Rasulullah
Perubahan-perubahan besar selalu diinisiasi oleh satu atau sekelompok kecil orang yang kemudian berjuang agar visi atau idenya diterima oleh masyarakat luas. Proses itu tidak mudah, karena mengubah kemapanan lama yang sudah dianggap sebagai kebenaran yang berlaku umum. Bahkan, mereka mendapat tantangan dari orang-orang yang dirugikan atas perubahan ini, yang ingin menjaga status quo.

Inilah yang harus kita pikirkan bagaimana kita melahirkan para pengubah zaman dalam momentum Maulid Nabi. Dalam konteks global, nasional atau ruang yang lebih kecil, banyak sekali persoalan yang membutuhkan orang-orang mumpuni untuk menyelesaikan permasalahan yang ada. Sayangnya, kita mengalami defisit orang-orang berintegritas sekalipun surplus orang-orang berpengetahuan dan berketerampilan.

Ruang-ruang penggodokan calon pemimpin, sejauh ini tidak dapat menjalankan fungsinya dengan baik. Partai-partai politik yang seharusnya menjadi Kawah Candradimuka bagi pemimpin nasional, malah melahirkan para koruptor. Sejumlah ketua umum dan elit partai partai politik harus mendekam di penjara karena terbukti melakukan tindakan korupsi.

Hal yang sama terjadi para pemimpin di tingkat daerah, yang seharusnya menjadi calon-calon pemimpin tingkat nasional, tak jauh beda nasibnya. Secara total, lebih dari 100 orang pemimpin daerah harus masuk penjara karena korupsi.
Dengan melakukan refleksi, kita dapat belajar, apa yang sesungguhnya tidak tepat dalam proses mengolahan para calon pemimpin ini. Apa yang sesungguhnya salah sehingga potensi-potensi sumber daya manusia terbaik tersebut tidak maksimal.

Pada masa lalu, dalam kondisi yang sangat sulit, bangsa Indonesia berhasil melahirkan Soekarno, Hatta, Kiai Hasyim Asy’ari, dan para pendiri bangsa lainnya. Mereka tidak dimanja dengan segala macam fasilitas. Berbagai kesulitan yang ada menjadi penempa mereka untuk menjadi lebih matang. Bahkan, mereka bersedia masuk penjara demi menjaga idealisme dan tujuan perjuangannya.

Para politisi dan pejabat negara yang ada saat ini, dimanjakan dengan beragam fasilitas untuk mendukung kerja-kerja mereka dalam melayani rakyat. Toh, yang terjadi, mereka tidak puas dengan segala yang sudah disediakan oleh negara. Secara intelektual, mereka juga jauh lebih berpengetahuan. Keterampilan teknis yang mereka miliki juga sangat memadai, tetapi hal tersebut ternyata tidak mengubah kecenderungan untuk korupsi. Akibatnya, para pemimpin kehilangan kepercayaan karena kasus-kasus yang terjadi. 

Jadi, sesungguhnya apa yang hilang dari bangsa ini sehingga orang-orang yang didik untuk menjadi pemimpin banyak di antaranya terjebak dalam kasus-kasus korupsi atau penyalahgunaan kekuasaan yang mengakibatkan fungsi-fungsi pelayanan kepada rakyat tidak berjalan sebagaimana mestinya. Tentu saja tidak ada faktor tunggal, tetapi ada pemicu dominannya. Salah satunya, mereka mengalami masalah karakter dan mentalitas sebagai orang miskin yang tak puas dengan segala hal yang saat ini sudah berhasil dicapai. Harta menjadi tujuan hidup, bukan sarana untuk mencapai tujuan hidup.

Ada momentum dan proses yang selalu menjadi pemicu lahirnya pemimpin. Kelahiran para pemimpin bangsa didorong oleh politik etis yang memungkinkan anak-anak Indonesia untuk bisa belajar pada tingkat yang lebih tinggi. Soekarno bisa mengenyam pendidikan tinggi ketika sebagian besar rakyat di Nusantara masih buta huruf. Hatta dan beberapa aktivis pergerakan mendapatkan kesempatan istimewa untuk belajar di negeri Belanda. Yang membedakan mereka dengan pada lulusan terdidik Belanda lainnya adalah, mereka tidak bersedia untuk duduk-diam di area nyaman dengan menjadi birokrat pemerintahan kolonial Belanda. Hal yang sama terjadi pula pada pemimpin kemerdekaan bangsa-bangsa lain di dunia seperti Gandhi, Tito, dan lainnya. 

Tentu saja, mereka memiliki visi hidup besar yang melampaui orang-orang sezamannya atau pada umumnya manusia yang sebagian besar hanya menginginkan kekayaan material. Inilah yang membedakan dengan sejumlah pejabat pemerintah saat ini yang mungkin visinya untuk mengumpulkan kekayaan material, bahkan dengan mengorbankan kepentingan rakyat. 

Pada orang-orang normal yang mengikuti arus besar yang sudah ada, yaitu ikut baik ketika sistem baik dan menjadi buruk ketika sistemnya buruk, yang harus dilakukan adalah memperbaiki sistem. Yaitu menyempurnakan sistem agar kehidupan berjalan sesuai dengan arah yang semestinya. Korupsi bisa dicegah dengan membuat mekanisme pencegahan yang baik. Dan tentu saja memberi hukuman yang setimpal pada para pelakunya untuk menumbuhkan efek jera. 

Hal itulah yang dilakukan di negera-negara yang sudah maju. Sistem pemerintahan mereka sudah tertata dengan rapi yang mencegah adanya penyalahgunaan. Pola rekrutmen kepemimpinan pemerintahan tertata rapi yang memungkinkan orang-orang berintegritas yang berada di posisi puncak.

Pada birokrasi pemerintahah, upaya perbaikan sistem terus dilakukan seperti perbaikan renumerasi dan tata kelola. Teknologi banyak membantu mengatur sistem agar lebih transparan dan akuntabel sehingga masyarakat bisa mengontrolnya. Ada sejumlah perbaikan yang dirasakan oleh masyarakat, sekalipun belum sepenuhnya sesuai harapan.

Masalah terbesar muncul pada tataran pejabat publik. Banyaknya pejabat publik yang tersangkut korupsi menunjukkan ada masalah dalam pola rekrutmen. Indonesia menganut sistem demokrasi dengan keyakinan bahwa sistem ini akan memunculkan orang-orang terbaik untuk memimpin. Sayangnya, demokrasi kita adalah demokrasi dengan biaya mahal. Hanya orang-orang dengan modal besar saja yang mampu berkampanye dan mendapatkan kemenangan. Dan mereka akan berusaha mengembalikan modalnya saat berkuasa, dengan cara apa saja. (Achmad Mukafi Niam)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG