IMG-LOGO
Pendidikan Islam

Program Tahfidz Pesantren Durrotu Aswaja Semarang Diminati Mahasiswa

Ahad 9 Desember 2018 21:15 WIB
Bagikan:
Program Tahfidz Pesantren Durrotu Aswaja Semarang Diminati Mahasiswa
null
Semarang, NU Online
Keinginan seseorang untuk menjadi santri sekaligus mahasiswa semakin meningkat, terlebih dengan adanya ketertarikan para santri untuk mengambil program tahfidz al-Qur'an. Hal ini terjadi di Pondok Pesantren Durrotu Aswaja (PPDA) Banaran, Gunungpati, Kota Semarang, Jawa Tengah hingga harus terus menambah ruang kamar.

"Saat ini kami sedang membangun lantai empat," kata Kiai Agus Romadhon saat ditemui di kediamannya, Ahad (9/12).

Menurutnya, santri PPDA berjumlah sekitar 500 orang. Jumlah tersebut mencatatkan pesantren ini sebagai sebagai santri mahasiswa terbesar di Jateng. Pesantren lain di Jawa Tengah, khususnya Kota Semarang banyak yang memiliki jumlah santri lebih dari 500, tapi tidak seluruhnya berlatar belakang sebagai mahasiswa.

Kiai Agus menuturkan, sejak pendiriannya pembangunan pesantren dilakukan secara bertahap dengan pendanaan secara mandiri, bantuan dari santri yakni infaq pembangunan santri masuk, alumni, dan usaha pesantren atau koperasi. 

“Sejauh ini pesantren tidak pernah mengajukan proposal bantuan maupun menerima bantuan pemerintah,” ungkapnya. Dalam kegiatan keuangan, PPDA bisa menerima maupun mengajukan bantuan tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR)  untuk kegiatan tertentu dan selain pembangunan.

 “Minat para mahasiswa untuk terus di pesantren dapat dilihat dari jumlah santri keluar yang lebih sedikit dibandingkan dengan santri yang masuk di tiap tahunnya,” kata lurah pondok putra, Mohammad Fika Al Muzabbib. Jumlah santri putra secara keseluruhan sekitar 200, lanjut mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Asing di Unnes ini.

Menurut santri asal Kudus ini, kenaikan jumlah santri putra dalam waktu tiga tahun terakhir ini diperkirakan dua puluh persen. “Dengan santri yang masuk hampir 150 orang dan 15 hingga 20 orang santri keluar di tiap tahunnya,” urainya. 

Yang masuk hampir 150 orang, sementara yang keluar cuma 15 sampai 20 orang. "Umumnya yang masih bertahan di pesantren melanjutkan program tahfidz, kalau yang lanjut S2 tahun ini baru 1 orang, 3 lainnya yang Kuliah pasca santri baru," imbuhnya.

Kondisi tersebut juga karena faktor minat santri dalam menghafal al- Qur'an sejak masuk dan adanya kebijakan untuk menyelesaikan hafalan sebelum pulang.

"Karena santri sini ada yang baru menghafal waktu semester tiga bahkan ada yang sudah semester lima baru mulai menghafal,” jelasnya. Santri yang hafalan itu tidak diperbolehkan boyong sebelum menyelesaikan hafalannya sampai 30 juz, lanjutnya.

Pesantren menerima masukan santri yang umumnya merasakan kurangnya fasilitas. Di antaranya kamar mandi sangat terbatas, kekurangan air bersih, dan kamar tidur yang mulai sesak. “Sementara untuk tidur para santri banyak memanfaatkan ruang aula,” katanya.

Kondisi serupa juga dialami santri putri sebagaimana diungkapkan lurah pondok putri, Novela Nur Jannah. Mahasisiwi jurusan psikologi ini menyatakan sekitar setengah dari santri masuk yang keluar setelah lulus kuliah.

"Untuk saat ini jumlah keseluruhan santri kurang lebih 300 santri," ungkapnya, Tapi dalam setahun, jumlah santri yang masuk ada pada kisaran 100, sementara yang keluar 50an, lanjut santri asal Pakis, Tayu, Kabupaten Pati ini.

Masalah lain, jumlah kamar mandi dirasa belum mencukupi, terlebih di saat pagi. “Para santri harus mengantri untuk mandi sebelum berangkat kuliah,” tandasnya. (Rifqi/Ibnu Nawawi)

Bagikan:
Kamis 3 Desember 2015 1:1 WIB
MADRASAH QUDSIYYAH
Madrasah Tertua di Kudus dengan Sederet Prestasi
Madrasah Tertua di Kudus dengan Sederet Prestasi

Sebagai salah satu madrasah tertua di kota Kudus, Jawa Tengah, Madrasah Qudsiyyah memiliki sejarah panjang. Di ‘Kota Kretek’ ini ia tidak serta-merta lahir dan menjadi besar, melainkan mengalami proses jatuh bangun dan lika-liku yang cukup melelahkan. Mengingat posisi strategisnya yang berada di dekat makam Sunan Kudus, Qudsiyyah kini menjelma madrasah yang menyejarah.<>

Sebelum organisasi Budi Utomo menggelorakan Kebangkitan Nasional pada 1920, Madrasah Qudsiyyah telah berdiri tegak mengembangkan sayap-sayap pendidikan agama yang anti penjajah. Sejak 1917, kegiatan belajar mengajar telah dimulai kendati saat itu belum memiliki nama dan tempat belajar yang pasti.

Dua tahun kemudian, tepatnya pada 1919 (1337 H), KH Raden Asnawi secara resmi mendirikan Madrasah Qudsiyyah. Sejarah mencatat, Mbah Asnawi, panggilan akrab salah satu pendiri NU ini, adalah keturunan ke XIV Sunan Kudus sekaligus keturunan Syeikh Ahmad Mutamakkin, seorang wali kelahiran Pati yang hidup pada zaman Sultan Agung Hanyokrokusumo.

Karena itu, wajar jika terdapat keselarasan garis perjuangan Mbah Asnawi dengan para leluhurnya baik dalam pola pendidikan maupun dimensi penegakan reputasi agama Islam. Tegasnya, ada benang merah yang bisa diteladani dari KH Raden Asnawi dan Syeikh Ahmad Mutamakkin.

Nama Qudsiyyah, diambil dari kata Quds yang berarti suci sekaligus nama kota tempat kelahiran madrasah tersebut. Maksud penggunaan nama itu agar apa yang diajarkan serta diamalkan di madrasah menjadi benar-benar suci dan murni, tidak dicampuradukkan dengan hal yang tidak baik.

Hingga tahun 1929, Madrasah Qudsiyyah dipimpin langsung KH R Asnawi selaku kepala sekolah didampingi KH Shofwan Durri. Setelah itu, hingga tahun 1935 Qudsiyyah dipimpin Kiai Tamyis lantaran Mbah Asnawi sendiri sibuk di pesantren yang didirikannya sejak 1927, yakni Pesantren Raudlatuth Thalibin, Bendan-Kerjasan-Kudus. Masa menjelang kemerdekaan (1943-1950) disebut-sebut sebagai era kemunduran Qudsiyyah.

Namun, setelah tahun 1950 Madrasah Qudsiyyah kembali bangkit. Itulah salah satu alasan Mbah Asnawi tidak menyebut Qudsiyyah sebagai pesantren karena telah mendirikan pesantren tersebut. “Meski sudah ada pesantren, namun madrasahnya lebih terkenal karena lebih dahulu lahir. Kami para alumni ingin mempertahankan tradisi Qudsiyyah itu,” kata Ketua Ikatan Alumni Qudsiyyah (IKAQ) Dr H Muhammad Ihsan kepada NU Online beberapa waktu lalu.

Santri Berprestasi

Menurut Muhammad Ihsan, Qudsiyyah merupakan lembaga pendidikan Islam yang masih konsisten mempertahankan nilai-nilai salafiyah sekaligus merespon perkembangan masa kini secara proporsional. Baik pada sisi kelembagaan maupun sisi kurikulumnya. Itulah sebabnya, para wali santri bangga mengirimkan anaknya ke Qudsiyyah.

Menurut dosen STAIN Kudus yang juga Wakil PCNU Kudus ini, madrasahnya memiliki segmentasi “pasar” tersendiri. Kendati tanpa promo melalui spanduk, selebaran, atau yang lain, pendaftar di Qudsiyyah pada tiap tahun ajaran baru tetap standar.

Bagi Ihsan, prestasi Qudsiyyah yang masih tetap dan terus bertahan adalah kemampuannya mempertahankan, melestarikan, sekaligus menanamkan nilai-nilai salafiyah kepada santri. “Dalam waktu bersamaan sekaligus membekali santri dengan ilmu-ilmu umum. Ini icon khusus Qudsiyyah,” tegasnya.

“Qudsiyyah ora gumunan lan ora kagetan. Dinamika yang ada selalu kita respon dengan positive thinking. Tetapi sekaligus benar-benar kita pertimbangkan manfaat dan mudaratnya ke depan. Terutama terkait dengan eksistensi Qudsiyyah sebagai lembaga pendidikan yang konsen terhadap pendidikan salafiyahnya,” tandas Ihsan.

Disinggung detail prestasi santri, Ihsan mencontohkan, untuk Karya Tulis Ilmiah, bahtsul kutub, atau pidato bahasa Arab-Inggris, santri Qudsiyyah memiliki prestasi di bidang itu. Baru-baru ini mereka bahkan menjuarai pembuatan film dokumenter tingkat nasional.

Prestasi madrasah Qudsiyyah tak hanya berkutat pada keilmuan salafiyah, prestasi pada Ujian Nasional (UN) pun tak kalah. Torehan prestasi UN Madrasah Tsanawiyyah (MTs) Qudsiyyah Kudus beberapa tahun terakhir bahkan cukup membanggakan. Selain lulus  seratus persen, UN tahun 2011 MTs Qudsiyyah meraih peringkat ke-2 se-Kudus.  Dari 139 SMP dan MTs se-Kudus, baik Negeri maupun Swasta, MTs Qudsiyyah meraih posisi kedua.

Dari empat mata pelajaran UN yang diujikan, MTs Qudsiyyah meraih posisi pertama untuk mapel Bahasa Inggris dan Matematika se-Kudus. Dari sisi nilai, mapel Matematika meraih nilai paling tinggi. Dari 214 siswa, sebanyak 82 anak (38 persen) memperoleh nilai 8.00-8.99, 89 anak (41,59 persen) meraih nilai di atas sembilan, dan tiga anak (1,4 persen) meraih nilai sempurna, yakni 10.00. Untuk Bahasa Inggris, sebanyak 119 siswa (55.6 persen) dari total 214 siswa yang mengikuti ujian mendapatkan nilai 8.00-8.99 dan 70 siswa (32,71 persen) meraih nilai di atas sembilan.

Untuk kegiatan ekstrakurikuler, misalnya, Ambalan KHR Asnawi Madrasah Qudsiyyah Kudus berhasil menorehkan prestasi di Yogyakarta. Dalam Temu Karya Pramuka Penegak IV Jateng-DIY beberapa waktu lalu, tim Pramuka MA Qudsiyyah tersebut sukses meraih juara III. Juara pertama diraih oleh MAN 3 Yogyakarta (putra), dan posisi kedua ditempati MAN 1 Klaten.

Selain satu tropy juara III, tim beranggotakan sembilan orang tersebut sukses menyabet sejumlah piala dalam perkemahan yang digelar di Buper Rama Shinta Klompleks Prambanan, Sleman, Yogyakarta. Prestasi tersebut disumbangkan melalui seni kaligrafi, pentas seni drama, kreasi masakan, pidato bahasa Jawa, dan Lomba Tulis Karya Ilmiah (LKTI).

Sementara itu, Ketua Umum Mutakhorrijin Qudsiyyah di Semarang (MAQDIS) M Rikza Chamami menyebut Qudsiyyah sebagai madrasah yang unik. Pasalnya, hingga kini masih mempertahankan nilai-nilai salaf. "Hingga hari ini Aliyah Qudsiyyah belum akreditasi. Kalau Tsanawiyah dan Ibtidaiyah malah sudah. Keduanya dapat nilai A," kata Rikza.

Hal ini terjadi lantaran KH Sya'roni Ahmadi selaku pembina yayasan memberi arahan agar Qudsiyyah tetap seperti dulu, tidak mengikuti pemerintah dalam kebijakan internal sebagaimana adanya akreditasi dan lain-lain. Hal tersebut ditempuh demi kehati-hatian semata.

Ditanya tentang organisasi MAQDIS, Rikza menyebut itu merupakan buah karya Prof Abdurrahman Mas'ud PhD (alumnus Qudsiyyah 1980) ketika menjadi Direktur Program Pascasarjana IAIN Walisongo Semarang.

Dikonfirmasi terpisah, Abdurrahman Mas’ud yang kini menjabat Kepala Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama memberi testimoni bahwa Madrasah Qudsiyyah telah melahirkan dai-dai panggung yang dicintai masyarakat. Sebut saja Almarhum KH Mukhlisin, KH Subur, KH Kustur.

Menurut doktor jebolan Universitas California AS ini, pengasuh Qudsiyyah merupakan para kiai yang sakti seperti KH Sya’roni Ahmadi, salah satu Mustasyar PBNU, yang ceramahnya sangat digandrungi berbagai kalangan, baik kaum intelektual maupun masyarakat awam. Beberapa guru utama antara lain Kiai Yahya Arief dan Kiai Ma’ruf Irsyad. Keunikan lain di Qudsiyyah adalah adanya pelajaran Falak yang sangat mengesankan.

Saat Presiden KH Abdurrahman Wahid berkunjung ke Kudus, KH Sya’roni Ahmadi melontarkan joke kepada Gus Dur, bahwa Qudsiyyah juga melahirkan “Abdurrahman Wahid”, tapi jadi dua. “Satu, Abdurrahman (Mas’ud) yang sedang di Amerika saat ini. Kedua, Wahid (Nusron) yang saat ini ada di sini,” tutur Abdurrahman Mas’ud menirukan Mbah Sya’roni.

Sholawat Asnawiyah

Madrasah Qudsiyyah mewarisi satu karya legendaris, yakni Sholawat Asnawiyah. Sholawat gubahan sang pendiri, KH Raden Asnawi, ini tergolong unik dan menarik. Pasalnya, dalam liriknya menggambarkan kecintaan dan nasionalisme yang tinggi bagi republik ini. Dalam teks sholawat tersebut, Mbah Asnawi berharap Indonesia selalu aman, damai, dan masyarakatnya sejahtera, sehingga menjadi negeri yang baldatun thoyyibatun warabbun ghafur.

Qudsiyyah berupaya terus melestarikan ajaran-ajaran sang pendiri. Salah satu yang terus digencarkan adalah memopulerkan sholawat tersebut. Selain di ranah kesenian melalui Grup Rebana Al-Mubarok Qudsiyyah yang selalu menyenandungkan sholawat tersebut, Qudsiyyah juga berupaya mengenalkan sholawat kebangsaan ini di kancah nasional. Salah satunya melalui pameran pada Muktamar ke-33 NU, yang dihelat di Jombang, 1-5 Agustus 2015, silam.

Inilah selengkapnya Sholawat Asnawiyah:

Yaa rabbi shalli ‘ala rasuul # li muhammadin sirril ‘ulaa

Wal anbiyaa’ wal mursaliin # al ghurri khatman awwalaa

Yaa rabbi nawwir qalbanaa binuri quraanin jala

Waftah lanaa bidarsin aw #  qiraatin turattalaa

Warzuq bifahmil anbiyaa # lanaa wa ayya mantalaa

Tsabbit bihi iimananaa # dunya wa ukhran kamila

Aman aman aman aman # Indonesia Raya aman

Amin amain amin amin # Yaa rabbi rabbal ‘alamin

Amin amin amin amin # wayaa mujiibassailiin               (Musthofa Asrori)

Rabu 2 Desember 2015 20:2 WIB
PESANTREN AL-FIRDAUS
Komitmen Bentengi Moral Santri
Komitmen Bentengi Moral Santri

Kabupaten Probolinggo termasuk daerah dengan jumlah pondok pesantren (ponpes) yang cukup banyak. Diantara yang banyak itu, ada Pondok Pesantren Al-Firdaus yang konsentrasinya membina anak usia 6-15 tahun. Komitmen pesantren adalah membentengi moral para santri dengan ilmu agama.
<>
Pesantren yang berada di Dusun Randulimo RT 03 RW 01 Desa Randuputih Kecamatan Dringu Kabupaten Probolinggo ini tidak pernah menampung santri berusia dewasa. “Pembinaan kepada santri yang usianya muda, lebih mudah jika dibandingkan dengan usia yang sudah dewasa,” ungkap Pengasuh Pesantren Al-Firdaus, Ustadz Sugianto.

Kecamatan Dringu secara geografis bisa disebut berada di kawasan perkotaan. Ia berpandangan, kondisi sosial masyarakatnya berbeda dengan perkampungan. “Arus pergaulan lebih berbahaya. Karenanya, sejak kecil anak sekitar sini harus lebih di bentengi ilmu agama,” jelasnya.

Pesantren ini memang didirikan untuk berkhidmat kepada masyarakat sekitar. Sehingga santri yang belajar di pesantren, hanya warga sekitar Desa Randuputih dan desa terdekat. Jumlahnya lumayan banyak, terdiri dari 35 santriwan dan 45 santriwati.

Sistem yang diterapkan juga tidak sama dengan kebanyakan pesantren. “Santri kami bisa pulang tiap hari. Mereka hanya mukim tiap Kamis malam Jumat dan Sabtu malam Minggu,” terangnya.

Sistem ini sengaja dipilih karena pesantren ini belum memiliki pendidikan formal. Sehingga santri hanya belajar salaf saja. “Efektif waktu belajar setelah Dhuhur,” jelas ayah empat anak ini.

Kegiatan di pesantren ini dimulai usai salat Dhuhur di Madrasah Diniyah (Madin). Ini khusus santri usia 7-15 tahun. Sementara untuk santri yang berumur 5-6 tahun, masuk Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ). “Dibagi sesuai jenjangnya,” katanya. 

Santri yang belum pernah masuk pendidikan TPQ, tidak diperbolehkan masuk di Madin. “Syarat untuk masuk madin, harus lulus TPQ dulu,” imbuhnya.

Di TPQ, santri diajari menulis dan membaca Al Qur’an. Sementara pada jenjang pendidikan Madrasah Diniyah (Madin), materi pendidikan yakni belajar kitab kuning, ilmu Fiqh dan hadits. “Kalau belum bisa baca Al Qur’an, juga belum boleh masuk Madin. Karena materi di Madin jauh lebih sulit,” ungkapnya.

Pengajaran di TPQ dan Madin itu selesai pada pukul 17.00. Para santri kemudian bersiap jamaah Salat Maghrib yang dilanjutkan dengan pengajian Al Qur’an sampai tiba waktu Sholat Isya.

Usai Sholat Isya, masih ada pengajian kitab kuning hingga pukul 20.00. “Setelah itu santri bisa pulang. Tapi kalau mereka mau bermalam, kamar sudah kami sediakan. Tak jarang ada yang menginap. Mereka baru pulang usai Salat Subuh untuk persiapan berangkat sekolah,” katanya.

Sugianto sendiri punya keinginan untuk mendirikan pendidikan formal. Namun, karena pesantren ini baru berdiri pada 2002, dana yang dimiliki masih belum memadai. “Madin hanya punya dua ruang kelas, mushala juga digunakan untuk ruang belajar. Nanti bertahap saja pembangunannya,” terangnya

Pendidikan Gratis, Guru Tak Digaji
Ada 5 guru yang mengajar di pesantren ini. Tak satu pun dari mereka yang digaji atau tidak diberi honor. “Mereka secara sukarela menjadi asatidz (para ustadz) di sini,” kata Pengasuh Pesantren Al Firdaus Ustadz Sugianto.

Di luar itu, sampai saat ini, tiap tahun pesantren selalu mendapatkan bantuan operasional senilai Rp 2 juta dari Pemkab Probolinggo. “Dana itu juga kami gunakan untuk kebutuhan sehari-hari pesantren,” jelasnya.

Para santri yang menempuh ilmu di pesantren ini digratiskan dari biaya pendidikan. Tidak ada iuran sepeser pun kepada santri. Sugianto menerangkan, yang gratis adalah biaya pendidikan dan mukim pesantren. Sementara untuk biaya kebutuhan santri menjadi tanggung jawab masing-masing orang tua. “Santri bisa beli makan di warung sekitar pesantren. Di sini banyak warung,” terangnya.

Alumnus Pesantren Nurul Jadid Kecamatan Paiton ini sengaja menggratiskan biaya karena komitmen keluarga. “Para ustadz di sini semuanya masih berstatus keluarga. Jadi saat awal-awal pembentukan pesantren, kami sepakat menggratiskan biaya mondok dan pendidikan,” ungkap suami dari Siti Hanifah ini. 

Untuk menunjang kebutuhan operasional, para guru menyisihkan penghasilan masing-masing. Setiap guru mengeluarkan uang pribadi sebesar Rp 100-200 ribu per bulan. Dana itu digunakan untuk membayar listrik pesantren, ATK (alat tulis kantor) dan kebutuhan lainnya.

“Alhamdulillah kami (keluarga) sampai saat ini tetap solid menjaga komitmen. Kami akan terus berkhidmat untuk pesantren dan masyarakat,” pungkasnya.

Jamin Santri Bisa Ngaji Kitab
Meski hanya membuka TPQ dan Madrasah Diniyah (Madin), Sugianto menjamin alumnus pesantrennya bisa mengaji kitab kuning. Paling tidak santri sudah bisa membaca kitab Sulam Safinah. “Setidaknya kitab itu bisa menjadi bekal untuk melanjutkan pendidikan lebih tinggi,” katanya.

Saat ini, pihaknya tengah membangun dua lokal bangunan yang dananya berasal dari swadaya masyarakat. Wali murid juga memberikan bantuan secara sukarela. “Ada yang membantu uang dan ada pula yang menyumbang material gedung,” kata Sugianto.

Saat ini pengerjaan masih 75 persen, Sugianto menargetkan pembangunannya bisa selesai akhir tahun ini. “Sekarang masih mengumpulkan dana tambahan. Semoga saja rencana itu bisa direalisasikan. Mohon sambungan doanya,” harapnya. (Syamsul Akbar)


Foto : Musholla Raudlatul Firdaus merupakan pusat kegiatan para santri yang menimba ilmu di Pondok Pesantren Al Firdaus di Desa Randuputih Kecamatan Dringu Kabupaten Probolinggo.

Rabu 2 Desember 2015 18:5 WIB
Kemenag Kirim 42 Guru PAI Kursus Singkat ke Australia
Kemenag Kirim 42 Guru PAI Kursus Singkat ke Australia

Jakarta, NU Online
Kementerian Agama melalui Direktorat Pendidikan Agama Islam (PAI) mengirimkan 42 orang yang terdiri atas Guru Pendidikan Agama Islam (GPAI) dan pengawas PAI untuk kursus singkat (short course) ke Australia. Selama 15 hari di Australia, peserta kursus singkat belajar di Universitas Adelaide dan berkunjung ke beberapa sekolah yang ada di Adelaide, Melbourne, dan Sydney.
<>
Direktur PAI Amin Haedari menuturkan bahwa pengiriman para GPAI dan pengawas ke Australia itu dimaksudkan untuk membekali mereka tentang metodologi pembelajaran dan multikulturalisme.

“Mereka kita kirim ke Australia bukan untuk belajar konten PAI, tapi metodologi dan multikulturalisme,” terang Amin di Jakarta.

Selama di Australia, para guru PAI dan pengawas ini terbagi ke dalam dua waktu. 10 hari pertama mereka belajar di Universitas Adelaide, dan 5 hari berikutnya rombongan dibagi menjadi dua kelompok. Satu kelompok ke Melbourne dan satu kelompok lagi ke Sydney.

Di Adelaide mereka belajar di kampus dan juga berkunjung ke beberapa sekolah di wilayah setempat. Di Melbourne dan Sydney mereka hanya melakukan kunjungan ke sekolah-sekolah.

“Mereka sengaja kita kirim ke sekolah-sekolah yang ada di Melbourne atau Sydney agar bisa melihat langsung proses pembelajaran di sana. Biar mereka juga bisa bertukar pendapat dengan para tenaga pendidik dan siswa, dan mengamati pembelajaran di kelas. Sekaligus bagaimana pengelolaan pendidikan di sana,” terang Amin.

Hasil dari kursus singkat di Australia ini menurut Amin akan dirumuskan, dibukukan, dan diimplementasikan untuk semua guru PAI yang ada di Indonesia mulai tahun 2016 mendatang. (Red Alhafiz K)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG