IMG-LOGO
Trending Now:
Nasional

Habib yang Menghayati Keindonesiaan

Senin 10 Desember 2018 14:0 WIB
Bagikan:
Habib yang Menghayati Keindonesiaan
Jakarta, NU Online 
Tokoh NU asal Bandung, Jawa Barat Habib Utsman Al-Aydarus (Rais Syuriyah PWNU Jabar 1960-1970) ketika masa muda, berguru kepada kiai-kiai asal Sunda semisal KH Ahmad Syatibi Gentur, Cianjur. Bukan sebentar, tapi sampai 5 tahun. Kemudian setelah menjadi pemuka agama dia berteman dengan kiai-kiai dan warga Sunda.  

Rais ‘Aam Idaroh Aliyah Jam'iyyah Ahlith Thariqah Al Mu'tabarah An Nahdliyyah (JATMAN) Habib Luthfi memiliki seorang kakek yang pernah berguru kepada KH Sholeh Darat (Semarang). 

Hal serupa dialami Habib Anis Sholeh Ba’asyin. Karena ia tinggal di Pati, Jawa Tengah, ia berguru kepada kiai di daerah itu. Sejak kecil ia menghayati kejawaan karena bergaul dengan anak-anak Jawa. 

“Kemampuan menjawa saya, ya karena lahir besar di Jawa bagaimana bisa tidak menjawa?”katanya ketika mampir di Gedung PBNU akhir pekan lalu. 

Lalu, bagaimana ceritanya kalangan yang mengambil jarak dengan penduduk setempat? Menurut Habib Anis, hal itu karena lingkungan keluarga. 

“Saya tadi di kereta ada ada Chinese kecil dan ada orang Jawa Pekalongan, kecil, kecil. Ternyata tanpa sekat mereka bermain-main,” lanjut habib yang tiap bulan mengadakan Suluk Maleman di Rumah Adab Nusantara, Pati, ini. 

Menurut dia, jika suatu saat kedua anak bertemu lagi, setelah mendapatkan pendidikan berbeda dan mendapat sistem nilai yang berlainan, mereka bisa jadi berhadap-hadapan itu. 

“Artinya, sistem nilai akan menciptakan manusia yang berubah berbeda. Itulah yang mempengaruhinya.”  

Lebih lanjut, kata dia, di pati itu, komunitas Arab termasuk yang minor, kecil. “Mau enggak mau, jadi temannya orang Jawa. Ya udah, dari dulu, bal-balan sama orang Jawa. Saya di pesantren, ya di pesantren Jawa banget.” 

Menurut dia, orang yang tinggal di Indonesia, bisa menghayati dan bergaul dengan mayarakat serta kebudayaannya. 

“Harusnya begitu, semuanya, tidak hanya turunan Arab, semuanya,” pungkas habib yang memiliki grup musik Sampak GusUran ini. (Abdullah Alawi)

Bagikan:
Senin 10 Desember 2018 22:30 WIB
Alissa Wahid: Perjuangan Menegakkan Keadilan dan Demokrasi selalu 'Berdarah-darah'
Alissa Wahid: Perjuangan Menegakkan Keadilan dan Demokrasi selalu 'Berdarah-darah'
Alissa Whaid Bersama Presiden Tsai Ing Wen (Taiwan News)
Jakarta, NU Online
Perjuangan Jaringan Gusdurian dalam membela kelompok minoritas mendapat pengakuan tidak hanya di dalam negeri saja, namun kali ini pengakuan datang dari komunitas regional Asia. Jaringan yang dipimpin putri sulung KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini mendapat perhargaan berupa The Asia Democracy and Human Right Award dari The Taiwan Foundation for Democracy (TDF).

Koordinator Jaringan Gusdurian mengatakan bahwa perjalanan menegakkan Hak Azasi Manusia dan demokrasi bukan perjuangan yang mudah. "(Menegakkan) Keadilan dan demokrasi bukan pekerjaan enteng. Perjuangan menegakkannya melalui jalan yang menyakitkan. Namun begitu kita tidak boleh menyerah begitu saja," kata Alissa Wahid seperti dikutip Taiwan News, di Taipe, Senin (10/12). 

Perjuangan penegakan keadilan, HAM dan demokrasi yang dilakoni Alissa Wahid bersama dengan jaringan Gusdurian adalah perjuangan panjang yang dimulai oleh pendahulunya, Gus Dur sejak dahulu. 

Sejak era Orde Baru, Gus Dur sudah masyhur melalui sepak terjangnya dalam memperjuangkan keadilan, demokrasi dan hak kaum yang didiskriminasi, seperti kelompok minoritas agama, suku, gender dan kelompok lain. Sebagai orang yang sangat dekat dengan ayahnya, Alissa tahu betul betapa 'berdarah-darahnya' memperjuangkan demokrasi dan keadilan di bawah rezim Orde Baru dengan kekuatan militernya. 

Perjuangan saat ini pun tak kalah beratnya. Sebab saat ini, nama Tuhan dan agama kerap dikapitalisasi dan 'digunakan' untuk kepentingan politik untuk mendiskriminasi kelompok lain. Dalam konteks demikian, lanjutnya, Jaringan Gusdurian bekerja bersama denga kelompok-kelompok lain yang memiliki kesamaan visi dalam memperjuangkan hak kelompok minoritas.

Dalam kesempatan yang sama, Presiden Republik Tiongkok Tsai Ing Wen mengapresiasi langkah Jaringan Gusdurian dalam melakukan dialog dengan berbagai kelompok agama dan etnis yang berbeda. "Menggelar dialog antara kelompok agama dan etnis yang berbeda selalu menjadi mekanisme terbaik dalam membangun masyarakat yang demokratis," ujarnya. 

Ia menganjurkan pada negara-negara yang memiliki visi yang serupa untuk melakukan kerja sama di bidang penegakan HAM dengan membangun platfrom bersama untuk membangun jaringan dan terus berbagi nilai-nilai kemanusiaan. "Kerja sama internasional adalah cara terbaik untuk memperingati HAM dunia dan mewujudkan ketentuan yang tercantu dalam deklarasi HAM," pungkasnya. (Ahmad Rozali)
Senin 10 Desember 2018 21:54 WIB
Kepada Yenny Wahid, Dubes Saudi: Seseorang Mencoba Merusak Hubungan Saya dengan NU
Kepada Yenny Wahid, Dubes Saudi: Seseorang Mencoba Merusak Hubungan Saya dengan NU
Yenny Wahid saat menghadiri “Forum for Promoting Peace in Muslim Societies”
Jakarta, NU Online
Duta Besar Kerajaan Arab Saudi untuk Indonesia Osamah Muhammad al-Suaibi menyatakan bahwa ada pihak-pihak yang berusaha merusak hubungan antara dirinya dengan NU. Hal itu ia sampaikan kepada Yenny Wahid saat  menghadiri “Forum for Promoting Peace in Muslim Societies”, yang diselenggarakan di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, pada Ahad (9/12).

“Seseorang mencoba menghancurkan hubungan baik antara saya dan Nahdlatul Ulama, antara saya dengan rakyat Indonesia,” katanya melalui rekaman yang diunggah oleh Rais Syuriyah Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Tiongkok Imron Rosyadi Hamid melalui akun Facebooknya pada Senin (10/12).

Sembari bersumpah, Osamah menyatakan kepada putri Gus Dur itu bahwa ia cinta masyarakat Indonesia, menghargai NU, Muhammadiyah, dan organisasi Islam lainnya.

“Demi Allah saya cinta masyarakat Indonesia. Saya juga menghargai NU dan Muhammadiyah, dan semua organisasi Islam,” katanya.

Oleh karena itu, ia menyampaikan salam kepada bangsa Indonesia dan berjanji akan menyelesaikan permasalahan yang menyangkutnya dirinya usai kembali dari negeri asalnya.

“Insyaallah saya akan kembali minggu depan untuk menyelesaikan semuanya,” pungkasnya.

Sebelumnya, Osamah telah melakukan hal yang tidak patut bagi seorang duta besar, yakni turut mencampuri permasalahan negara lain. Ia bahkan menuduh Banser sebagai organisasi sesat melalui twitnya. Hal itu menuai protes keras dari Banser dan NU sebagai organisasi induk. (Syakir NF/Zunus)
Senin 10 Desember 2018 21:15 WIB
Stunting Ancam Bonus Demografi
Stunting Ancam Bonus Demografi
Bogor, NU Online
Indonesia segera menyongsong fase bonus demografi yang diprediksi terjadi pada 2030. Namun bonus demografi terancam sia-sia mengingat angka stunting di Indonesia masih cukup tinggi.

"Stunting menjadi ancaman bonus demografi kalau stunting tidak segera ditanggulangi dan bonus demografi akan sia-sia," kata Pengurus PP Muslimat NU Hj Fauziah M Asih kepada NU Online di tengah-tengah kegiatan Workshop Pencegahan Stunting di Hotel The Rizen Cisarua, Bogor, Senin (10/12).

Berdasarkan Prevalensi Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) angkat stunting di Indonesia pada 2013 sebesar 37,2 persen dan turun sekitar 6,4 persen Pada 2018 menjadi 30, 8 persen.

Angka 30,8 tersebut masih melebihi standar dari World Health Organization (WHO) yakni 20 persen. Artinya, stunting di Indonesia masih menjadi ancaman serius.

Menurut Fauziah, ancaman stunting dalam konteks bonus demografi, berdampak pada ketertinggalan Indonesia dalam segala hal, termasuk ekonmi. Sebab, selain pertumbuhan fisik yang lambat, perkembangan otak penyandang stunting juga tidak berkembang.

"Stunting memengaruhi kecerdasan dan kalau kecerdasaran kita di bawah mereka (negara-negara lain), ya jadi segala-galanya akan kalah," ucap perempuan yang juga doktor kesehatan masyarakat itu.

Namun, dirinya mengaku yakin dengan komitmen pemerintah yang berupaya menanggulangi persoalan stunting dengan menjadikannya sebagai program prioritas. (Husni Sahal/Kendi Setiawan)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG