IMG-LOGO
Internasional

Percakapan Terakhir Jamal Khashoggi Sebelum Dibunuh

Senin 10 Desember 2018 23:30 WIB
Bagikan:
Percakapan Terakhir Jamal Khashoggi Sebelum Dibunuh
Foto: Jamali/AP
Washington, NU Online
Jamal Khashoggi sempat memberikan perlawanan sesaat sebelum dihabisi tim khusus Saudi yang beranggotakan 15 orang di gedung Konsulat Saudi di Istanbul pada 2 Oktober lalu. Hal ini diketahui dari transkip rekaman audio bukti pembunuhan jurnalis asal Saudi tersebut.

Sebagaimana dilaporkan media ternama AS, CNN, Senin (10/12), seorang sumber telah mendapatkan informasi tentang pembunuhan Jamal Khashoggi. Sumber tersebut juga menyebutkan soal transkip audio yang menjadi bukti pembunuhan Khashoggi.

Disebutkan bahwa ketika Jamal Khashoggi memasuki gedung Konsulat Saudi, ia langsung mengetahui tentang seseorang yang ada di dalam gedung. Khashoggi kemudian bertanya kepada orang tersebut perihal apa yang dilakukannya di sana.

Setelah itu, suara yang terdengar diduga adalah suara Maher Abdulaziz Mutreb. Ia merupakan seorang pejabat intelijen Saudi. Tentu saja Khashoggi kenal dengan Mutreb. Keduanya pernah bekerja sama ketika mereka bekerja di Kedutaan Besar Saudi di Inggris dulu.

Setelah terjadi beberapa percakapan, Khashoggi memperingatkan Mutreb agar tidak melakukan hal-hal yang ‘membahayakan dirinya.’ Khashoggi menegaskan kepada Mutreb bahwa ia tidak bisa ‘melakukan hal itu’ karena ada tunangannya di luar. 

Memang, pada saat itu Khashoggi ke Konsulat Saudi di Istanbul bersama tunangannya, Hatice Cengiz. Tunangannga menunggu di luar karena tidak diizinkan masuk. Sebelum masuk, Khashoggi sudah berpesan kepada tunangannya itu agar menelepon staf Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan bila terjadi suatu hal yang tidak diinginkan kepada dirinya.

Sumber anomin tersebut kemudian menjelaskan kalau Khashoggi dikeroyok banyak orang. Atas insiden itu, Khashoggi meronta-ronta. Ia bahkan sempat mengatakan kalau dirinya tidak bisa bernafas.

“Aku tidak bisa bernafas,” kata Khashoggi sebanyak tiga kali sebagaimana dituliskan dalam transkip tersebut.

Transkip kemudian menyebut suara yang riuh dan ribut. Meski demikian, ada satu suara yang diidentifikasi sebagai suara Salah Muhammad al-Tubaigy. Ia adalah Kepala Forensik Medis di Kementerian Dalam Negeri Saudi. Pada saat ini, Khashoggi diduga belum meninggal. Kemudian transkip menyebut suara-suara yang terdengar tanpa ada dialog.

Setelah itu, transkip menjelaskan deskripsi pada saat Jamal Khashoggi dimutilasi dengan menggunakan gergaji oleh al-Tubaigy. Pada saat proses mutilasi tersebut, al-Tubaigy –sebagaimana yang tertera dalam transkip tersebut- memberikan saran kepada teman-temannya untuk mendengarkan musik. 

Sementara itu, Mutreb diyakini melakukan tiga panggilan telepon selama proses mutilasi berlangsung.

Tell yours, the thing is done, it's done. (Beri tahu bosmu. Apa yang dia perintahkan sudah selesai. Misi terlaksana,” kata Mutreb. Kata ‘yours’ merujuk kepada ‘bos.’

Terkait berita itu, pihak Saudi –saat dikonfirmasi CNN- mengaku telah mendengar rekaman bukti pembunuhan Khashoggi. Saudi membantah transkip yang ada di atas. Menurut Saudi, dalam rekaman yang didengarnya tidak ada kejadian orang melakukan panggilan telepon.    

“Jika memang ada (bukti baru), kami bakal menerimanya. Sejauh ini kami sudah berulang kali mengirimkan permintaan, namun belum mendapat tanggapan,” jelas Saudi. (Red: Muchlishon)
Bagikan:
Sabtu 8 Desember 2018 22:0 WIB
Sekjen Liga Muslim Dunia: Islam Melindungi Hak-hak Minoritas
Sekjen Liga Muslim Dunia: Islam Melindungi Hak-hak Minoritas
Abu Dhabi, NU Online
Sekretaris Jenderal Liga Muslim Dunia Muhammad bin Abdul Karim Al-Issa menegaskan, nilai-nilai Islam menjamin hak-hak hukum dan kebebasan semua orang. Menurut Al-Issa, Islam juga tidak menerima segala bentuk diskriminasi.

Demikian kata Al-Issa dalam pidatonya pada upacara pembukaan Forum untuk Mempromosikan Perdamaian (Forum for Promoting Peace) yang berlangsung di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA), sebagaimana dilansir laman Arab News, Sabtu (8/12). 

Al-Issa mengatakan bahwa kebencian, kekerasan, dan terorisme dilakukan oleh individu-individu, bukan agama mereka. Di hadapan ratusan peserta, dia meluruskan persepsi yang tidak tepat dan terlanjur berkembang di masyarakat tentang Islam. Baginya, Islam adalah agama yang menjaga hak asasi manusia dan kebebasan bersama, tidak terkecuali.

Tidak hanya itu, Al-Issa juga menjelaskan bahwa Islam sangat terbuka dengan keberadaan agama-agama lainnya. Tidak benar pemahaman atau persepsi yang menyebutkan bahwa Islam berusaha untuk ‘mengakhiri’ eksistensi agama yang lainnya.    

Al-Issa juga menegaskan bahwa menjaga hak-hak minoritas adalah bagian dari nilai-nilai Islam itu sendiri.

Acara ini merupakan acara konferensi tahunan. Ini adalah yang kelima kalinya. Konferensi ini bertujuan untuk mempromosikan perdamaian, toleransi, dan moderasi secara global. Acara ini dihadiri sekitar 800 peserta dari berbagai agama, negara, dan organisasi kemanusiaan internasional di seluruh dunia. (Red: Muchlishon)
Sabtu 8 Desember 2018 17:30 WIB
Ulama Lebanon Sebut Indonesia Negara Islam
Ulama Lebanon Sebut Indonesia Negara Islam
Syekh Zuhair Juaid di Masjid Istiqlal, Sabtu (8/12)
Jakarta, NU Online
Ketua Jabhat Al-A'lam Islamy yang juga ulama asal Lebanon Syekh Zuhair Juaid, menyebut bahwa Indonesia merupakan negara Islam. Hal itu disebabkan dirinya merasa aman dan nyaman saat berada di Indonesia.

"Kita berada di negara yang bersyariah dalam bingkai demokrasi. Inilah dari pemerintahan yang islami," kata Syekh Zuhair pada acara Maulid Akbar Nabi Besar Muhammad SAW di Masjid Istiqlal, Sabtu (8/12).

Oleh karena itu, ia mengingatkan agar umat Islam di Indonesia tetap menjaga negaranya dari berbagai kelompok yang ingin menggantinya dengan bentuk lain, seperti mengubah dengan sistem khilafah.

"Jangan terpercaya, terpecah-belah terhadap rayuan untuk mendirikan negara khilafah atau negara selain dari yang saat ini," ucapnya.

Kecintaan Syekh Zuhair kepada Indonesia diungkapkan dengan permohonannya kepada Allah agar senantiasa melindungi Indonesia. "Mudah-mudahan umat Islam Indonesia tetap aman dan damai," ucapnya.

Namun demikian, ia berharap agar persatuan umat Islam yang terjadi di Indonesia bisa disalurkan lebih luas dengan berperan lebih aktif dalam membebaskan Palestina dari Israel.

"Saya berharap peran umat Islam Indonesia dalam kancah internasional, khususnya dalam membebaskan Masjidil Aqsha," ujarnya.

Sehari sebelumnya, Jumat (7/12) Syekh Zuhair menjadi pembicara pada seminar internasional di Gedung PBNU Kramat Raya, Jakarta Pusat. Kala itu Syekh Zuhair Juaid tak sungkan-sungkan mengungkapkan kekagumannya pada Nahdlatul Ulama. Menurut pandangannya NU mewarisi ajaran Rasulullah SAW yang berdiri di tengah perbedaan berbagai golongan.

"Saya cinta kepada Nahdlatul Ulama karena ada satu hal yang saya lihat; cahaya warasatul Anbiya (pewaris Para Nabi) ada pada mereka, ada pada pengikut jam'iyah Nahdlatul Ulama," katanya.

Menurutnya, Rasulullah tidak mewariskan harta dan jabatan kepada umatnya, melainkan ilmu. Hal itu pula yang ia lihat dari NU yang disebutnya. Warga NU bisa berkumpul dalam jumlah banyak bukan karena harta, melainkan atas dasar kecintaan kepada organisasi yang didirikan pada 1926 ini.

Maulid Nabi di Masjid Istiqlal diadakan oleh Lembaga Dakwah PBNU yang bekerjasama dengan Fatayat NU DKI Jakarta dan Yayasan Lathoif Qalbu. Mengusung tema Kita Tingkatkan Ukhuwah Wathoniyah untuk Mempererat Persatuan dan Kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia, acara juga dihadiri Pengasuh Pesantren Ashhiddiqiyah Jakarta KH Noer Muhammad Iskandar SQ, dan Mursyid Thoriqoh Qadiriyah wan Naqsyabandiyah KH Abdul Ghufron Al-Bantani. (Husni Sahal/Kendi Setiawan)
Jumat 7 Desember 2018 21:30 WIB
Cerita Dubes Tiongkok Bersahabat dengan Muslim
Cerita Dubes Tiongkok Bersahabat dengan Muslim
Dubes Tiongkok Xiao Qian di Pesantren Khas Kempek Cirebon (foto: Fanani)
Jakarta, NU Online
Duta Besar Republik Rakyat Tiongkok untuk Indonesia Xiao Qian menceritakan pengalaman persahabatan masa kecilnya dengan umat Muslim. Cerita itu disampaikannya saat berkunjung ke Pesantren Khas Kempek Cirebon, Jawa Barat, Kamis (6/12).

“Jauh pada abad ketujuh Islam telah masuk ke Tiongkok,” kata Dubes Xiao Qian pada acara yang dihadiri Waketum PBNU H Maksum Mahfoedz, Bendahara Umum PBNU H Bina Suhendra, pengurus LK PBNU, pengasuh dan santri Pesantren Khas Kempek.

Ia juga menceritakan di kampung halamannya ada sebuah masjid kuno yang telah kokoh berdiri sejak lebih dari 1200 tahun. Masjid itu bernama Masjid Taiyuan, di Provinsi Shanxi. “Saya tinggal di samping masjid itu,” kata Xiao Qian.

Saat kecil dan remaja, kata dia, ia sudah bergaul dengan umat Muslim di sekitar masjid. “Kami sekolah sekelas, bermain bersama hingga terjalin persahabatan mendalam,” lanjutnya.

Salah satu hal yang menarik adalah saat ia masih kecil, ia sering melihat kebersamaan dan keakraban umat Islam saat perayaan Idul Adha dan Idul Fitri. Hal itu semakin menambah pengenalannya terhadap agama Islam.

Kerja Sama dengan NU Perkuat Hubungan Indonesia dan Tiongkok
Warga Jabar Terbantu Fasilitas Sanitasi dari LK PBNU
Kiai Musthofa Aqil Tegaskan Persaudaraan Tak Membedakan Etnis

Melihat ramainya orang yang datang ke masjid, ada hal yang membuat Xiao Qian heran. Karena umat Islam saat masuk ke masjid meninggalkan alas kakinya di luar masjid.

“Saat kecil muncul pertanyaan, orang yang akan ke masjid bisa ratusan atau seribuan. Mereka melepas sepatunya di luar. Bagaimana mencari sepatu itu kembali untuk diri sendiri?” tuturnya langsung membuat santri dan hadirin tergelak-gelak.

Dubes Xiao Qian mengaku bertanya kepada imam masjid. “Kata imam masjid, itu ada caranya menaruh sepatu dan mengambilnya lagi,” katanya kembali disambut riuh.

Ia menambahkan hubungan Tiongkok dengan agama Islam bukan hal yang asing. Saat ini ada 23 juta umat Muslim di Tiongkok, 35 ribu masjid dan ada 56 ribu imam.

“Mereka dapat menikmati kebebasan beragama sesuai Undang-undang dan menjalankan ibadah agamanya,” tutup Dubes Xiao Qian.

Selain berdialog dengan para santri, Dubes Xiao Qian juga meresmikan bantuan fasilitas sanitasi untuk warga Jabar, dan memberikan bantuan buku bacaan untuk Pesantren Khas Kempek.

Terkait fasilitas sanitasi, terdapat lima titik yang mendapat bantuan pembangunan fasilitas sanitasi hasil kerja sama LK PBNU dan Kedutaan Besar Rakyat Tiongkok. Kelima titik tersebut adalah Pesantren Khas Kempek, Desa Dadap dan Krangkeng di Indramayu; serta Desa Wanakerta dan Wanasari di Karawang.

Pembangunan fasilitas sanitasi di kelima titik dilakukan sejak awal tahun 2018. Sekretaris LK PBNU, Citra Fitri mengatakan air dan sanitasi merupakan inti dari pembangunan berkelanjutan. Secara keseluruhan penduduk Indonesia yang hidup dengan kondisi sanitasi yang buruk mencapai 72,5 juta jiwa. Akses sanitasi di perdesaan tidak bertambah secara berarti selama 30 tahun terakhir.

Selain itu, Jawa Barat, sering mengalami kekeringan. Data BNPB pada 5 September 2018 mencatat sebanyak 286.802 kepala keluarga terdampak kekurangan air bersih. Selain itu 41.946 lahan mengalami kekeringan.

Pengasuh Pesantren Khas Kempek, KH Musthofa Aqil Siroj mengatakan Islam memegang prinsip bahwa persaudaraan dan persahabatan sesama manusia tanpa melihat perbedaan etnis, suku, agama. Pasalnya semua manusia dimuliakan oleh Allah Swt. 

Kiai Musthofa menyebutkan dengan rakyat dan negara Tiongkok, Indonesia sudah menjalin hubungan baik sejak lama. Demikian juga negara Tiongkok dengan NU dan pesantren. Mengutip hadits Rasulullah Muhammad Saw, Kiai Musthofa menyebutkan sebaik-baik manusia adalah yang dapat membawa manfaat bagi manusia lainnya.

Kiai Musthofa juga berharap kerja sama tersebut dapat mempererat hubungan negara Tiongkok dan Indonesia, hubungan masyarakat kedua negara, dan dunia pendidikan dengan dunia Pendidikan.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum PBNU H Maksum Mahfoedz mengatakan hubungan baik antara negara Tiongkok dan Indonesia yang sudah berjalan sekian lama, semakin dipererat oleh hubungan Tiongkok dengan NU. Hal itu dibuktikan pada pertemuan peringatan lima tahun kerja sama strategi pembangunan lima tahun antara Tiongkok dan Indonesia, NU paling dipercaya oleh Tiongkok untuk dalam pengembangan kerja sama aspek sosial budaya.

Menurut Maksum, pada pertemuan peringatan lima tahun kerja sama tersebut, H Imam Azis, salah satu Ketua PBNU memaparkan kerja sama bidang sosial budaya antara NU dengan Tiongkok. Dalam bidang pendidikan, lanjutnya, saat ini ada belasan dosen Unusia yang tengah meneruskan belajar di sejumlah perguruan tinggi di Tiongkok.

Waketum juga mengatakan NU dengan pesantrennya sangat spesial karena para santri adalah Nahdliyin yang setia dan konsisten menyangga hubungan strategis Indonesia dan Tiongkok. "Karena keberadaan Indonesia juga terletak pada pada konsistensi NU untuk menjaga negara," ujarnya. (Kendi Setiawan)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG