IMG-LOGO
Pustaka

Becermin dengan 'Wawasan Pancasila'

Selasa 11 Desember 2018 19:45 WIB
Bagikan:
Becermin dengan 'Wawasan Pancasila'
Laku koruptif dan sikap diskriminatif masih saja aktif. Tindak radikal dan ujaran kebencian tak pernah pasif. Langkah taktis nan strategis pemerintah sudah represif. Namun, suasana kebangsaan tak kunjung kondusif. Belum lagi diperparah dengan berita-berita fiktif.
 
Lahirnya Wawasan Pancasila dari rahim pemikiran Yudi Latif menjadi oase dan angin segar bagi gersangnya suasana dan panasnya atmosfer politik yang tengah berkecamuk akhir-akhir ini guna mengoreksi atas keindonesiaan pribadi.

Di Papua, terjadi penembakan terhadap para pekerja yang tengah membangun jembatan di Kabupaten Nduga. Sebelumnya, publik juga diramaikan dengan pro kontra perda syariah. Ada lagi tentang pertemuan ribuan orang di Monumen Nasional mengatasnamakan identitas tertentu. Publik seolah terus dibenturkan menjadi dua kelompok, satu kubu setuju dan lainnya yang tak sepakat.
 
Benturan demikian bukan saja membulirkan peluh, tapi juga membuat lingkungan teduh menjadi gaduh. Penyakit demikian dari dulu tak kunjung sembuh. Malah semakin mengaduh akibat sana sini saling misuh. Padahal pengalaman kita jika dihitung tahun sudah berbilang puluh.
 
Keramaian di jagat maya tak menghasilkan buah manis di dunia nyata. Alih-alih memikirkan manfaat bagi masyarakat, kita justru terjebak pada kepentingan sesat dan sesaat. Habis energi, bangsa sendiri yang harus menanggung rugi.
 
Melihat kondisi demikian, perlu kiranya masyarakat menengok kembali ke masa lalu guna refleksi, kilas balik atas perjalanan para pendiri membangun pondasi negeri. Di atas segala perbedaan, baik ras, agama, maupun golongan, mereka telah bersepakat Pancasila sebagai dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Yudi Latif menguraikan perumusan lima poin penting hasil perasan atas berbagai pemikiran yang ada di dunia itu dengan rinci yang terbagi ke dalam tiga fase, yakni fase perintisan, fase perumusan,  dan fase pengesahan.

Pria yang menamatkan studi magister dan doktoralnya di Universitas Nasional Australia (ANU) itu juga membahas Pancasila secara yuridis, filosofis, hingga praktis. Pada sektor pertama, Kang Yudi, sapaan akrabnya, menguraikan Pancasila sebagai dasar konstitusi negara. Selanjutnya, ia menjelaskan makna terdalam yang terkandung dalam lima sila itu dari segi dimensi ontologis, epistimologis hingga aksiologis. Dimensi terakhir, aksiologis, diperluas bukan hanya sebagai laku diri dan karakter pribadi, tetapi juga sebagai benteng atas degenerasi akibat globalisasi yang mencakup ideologi transnasional hingga gempuran pasar internasional.
 
Sebagai suatu diskursus yang sejak mula kelahirannya juga sudah menuai perdebatan, Pancasila tentu saja tidak antikritik. Ia tidaklah sempurna. Namun, ketidaksempurnaan itu tidak menggugurkan posisinya sebagai suatu hasil dari sebuah kesepakatan. Baik buruk dari hasil itu harus ditanggung bersama. Adapun segala kekurangan, sebagaimana yang dikritisi oleh Yudi Latif, seperti eksklusi sosial dalam berketuhanan yang tidak lagi mencerminkan berkebudayaan, itu yang harus dipenuhi oleh kita saat ini. Tidak lagi mempersoalkan redaksi lima sila itu, terlebih mengganti dasar konstitusi tersebut yang sudah sejak dulu menjadi kesepakatan bersama. Karena itu juga, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma'ruf Amin menyebut NKRI sebagai negara kesepakatan (dar al-mitsaq).
 
Oleh karena itu, kehadiran buku dari akademisi yang secara mendalam menekuni diskursus Pancasila ini tentu sangat penting saat ini. Tulisan yang cair memberikan kenikmatan tersendiri bagi pembaca. Meskipun Yudi sulit atau entah sengaja tidak melepaskan diksi-diksi ilmiahnya sehingga bagi awam sesekali perlu sedikit waktu memahaminya atau bahkan hingga membuka kamus.
 
Syakir NF adalah mahasiswa pascasarjana Fakulas Islam Nusantara Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta
 
Identitas Buku
Penulis             : Yudi Latif
Judul               : Wawasan Pancasila, Bintang Penuntun untuk Pembudayaan
Cetakan           : Ke-1, Oktober 2018
Tebal               : VIII+315
Penerbit           : Mizan
ISBN               : 978-602-441-089-6
Bagikan:
Ahad 9 Desember 2018 15:0 WIB
Membaca Asyik, Menggelitik, dan Mendidik
Membaca Asyik, Menggelitik, dan Mendidik
Kelahiran karya sastra tak bisa dilepaskan dari konteksnya. Mengutip Rene Wellek dan Austin Werren, sastra itu wujud ekspresi suatu masyarakat. Hal ini yang tampak dalam cerpen-cerpen Hilmi. Ia mulai dari dunia terdekatnya, yakni pesantren. Santri Kudus ini berkisah tentang kiai, penjual pecel, barokah, Syekh Dinawari, hingga gambaran akhirat, neraka.

Kisah-kisah dalam cerpen tersebut tidak melulu berkisah tentang dunia pesantren yang menjadi lingkungan terdekatnya. Melalui hal itu, ia mampu menyinggung dan menyentil problematika sosial terkini, seperti minimnya literasi, keteladanan, motivasi, hingga relijiusitas masyarakat di era milenium ini.

Kepengrajinan penulis juga sangat kreatif dengan daya imajinasi yang begitu liar. Ia memainkan gaya realisme magis dengan tokoh bulan Sya’ban, seekor kucing, sebuah koran, hingga latar neraka lengkap dengan para penghuninya. Hal terakhir yang disebutkan tercederai dengan epigonitas pengarang terhadap Ali Akbar Navis. Cerita dialog penghuni neraka pernah diceritakan oleh sastrawan Minangkabau itu melalui cerpennya yang berjudul Robohnya Surau Kami. Meskipun demikian, tentu ada hal baru darinya, seperti pintu rahasia dan angka ruangan. 

Terlepas dari pengarang mengetahui atau tidak tentang cerpen tersebut, tetapi cerpen demikian bukanlah hal baru, bahkan cenderung meniru. Memang, tidak ada karya yang murni. Setiap karya pasti menjadi epigon atas karya yang lain. Tetapi bukan berarti hampir persis seperti cerpen berjudul Trik Ahli Neraka dan Robohnya Surau Kami tersebut.

Hal lain yang terlupakan, entah sengaja atau tidak, adalah logika. Ya, seliar-liarnya kita berimajinasi, kita tidak bisa menafikan logika dalam menulis cerita. Berbeda dengan puisi yang memang menembus batas rasionalitas. Ketidaklogisan itu muncul pada cerpen berjudul Kucing Masuk Koran. Koran diceritakan menunjuk orang yang menulisnya. Penunjukan yang dilakukan oleh sebuah koran itu terasa ganjil. Dengan apa koran menunjuk?

Eka Kurniawan bercerita tentang batu dalam cerpennya. Ia sama sekali tidak menggerakkan batu itu karena dirinya sendiri. Sebab, kita tahu batu itu benda mati. Pergerakan batu yang dapat mengubah cerita itu karena tokoh lain, yakni manusia-manusia yang terlibat di dalamnya. Hal serupa juga pernah saya lihat pada cerpen yang ditulis oleh seorang anak madrasah di Cirebon tentang payung. Benda pelindung dari panas dan hujan itu menjadi tokoh utama dari cerpennya. Tetapi, ia hanya memainkan perasaannya saja, sedangkan gerakannya tidak dibuat-buat. Hilmi tidak memainkannya demikian sehingga terkesan janggal.

Keliaran imajinasi itu juga ternyata ia letakkan di akhir cerpennya. Artinya, penulis seperti dengan sengaja membiarkan pembaca berimajinasi bagaimana mengakhiri cerita yang sudah ditulis oleh pengarang. Atau menggantungkan cerita begitu saja. Seakan belum selesai. Misal, dalam cerita Daenuri Ketemu Dinawari, pengarang membiarkan tokoh Daenuri bingung dengan kepulangannya dan selesai di situ begitu saja. Namun, pengarang juga membuat pembaca berpikir ulang untuk kembali ke kronologi cerita sebelumnya, sebagaimana dalam cerpen Sebungkus Es Krim di Musim Dingin, “Sekarang siapa yang aneh?”

Karena hal itu, alur cerita-cerita ini sangat kuat. Keterhubungan cerita dalam cerpen tersebut cukup baik dan tidak terlalu dibuat-buat, baik dengan alur maju dan campuran yang ia gunakan. Hal ini diperkuat dengan humor dan pesannya yang mengena ke pembaca dengan dialognya. Kekuatan dialognya itu terdapat dalam humor dan imajinasinya. Cerpen santri Tebuireng ini, asik mengingat pembaca bisa tergelitik sekaligus terdidik.

Peresensi Syakir NF, penikmat sastra, mahasiswa Pascasarjana Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta

Identitas Buku
Penulis : Hilmi Abedillah
Judul : Trik Ahli Neraka
Tebal : 189 halaman
Cetakan         : Pertama, Maret 2018
Ukuran : 12,5x19,5 cm
Penerbit         : Mitra Karya
ISBN : 9786027460034

Jumat 7 Desember 2018 19:0 WIB
Kisah Inspiratif Jelajah Tanpa Batas
Kisah Inspiratif Jelajah Tanpa Batas
“Kita semua harus menerima kenyataan, tapi menerima kenyataan saja adalah pekerjaan manusia yang tak mampu lagi berkembang. Karena manusia juga bisa membikin kenyataan-kenyataan baru. Kalau tak ada orang mau membikin kenyataan-kenyataan baru, maka ‘kemajuan’ sebagai kata dan makna sepatutnya dihapuskan dari kamus umat manusia.” (Pramoedya Ananta Toer).

Itulah pesan tersirat dalam buku berjudul Jelajah Hidup Tanpa Batas: Jangan Pernah Berhenti Berharap anggitan Budy Sugandi. Buku ini menarik untuk dibaca karena dua alasan. Pertama, buku ini bukan biografi biasa. Namun sebuah catatan perjalanan yang menginspirasi dan menggugah motivasi pembacanya untuk selalu maju dan tanpa lelah mengejar cita-cita.

Dalam bab berjudul  “Beasiswa Master Pemerintah Turki” misalnya Budy Sugandi menceritakan pengalamannya berjuang menembus beasiswa Turki tanpa kenal lelah. Hanya berbekal restu orang tua, usai lulus dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tahun 2010, ia mencari beasiswa ke luar negeri.

Bagi Budy, doa orang tua ibarat air yang menyirami pohon cita-cita setiap manusia. Namun demikian, menumbuhkan pohon cita-cita tidak cukup hanya dengan doa, harus didukung oleh ketekunan dan usaha keras pantang menyerah (hlm 71). Singkat cerita, lewat perjuangan dan ketekunan, pada 13 Oktober 2011, kabar baik akhirnya datang. Budy Sugandi menerima beasiswa dari Pemerintah Turki. Sujud syukur pun ia panjatkan.

Kedua, buku ini tidak sekadar cita-cita perjalanan, namun sebagaimana diungkapkan oleh Direktur Wahid Foundation, Yenny Zannuba Wahid, dalam testimoninya, buku ini juga berisi prinsip, cita-cita intelektual, dan nilai-nilai universal. 

Sebagai contoh, dalam bab “Mengidolakan Habibie Sejak Kecil”, Budy Sugandi mengisahkan perjalanannya di Eropa, saat bertemu orang-orang “pelangi”. Suatu saat, ia hendak menonton pameran IT tahunan tingkat dunia (biasa disebut CeBIT) di Hannover, yakni Ibu kota negara bagian Niedersachen (Jerman adalah negara federasi yang terdiri dari 16 negara bagian). Namun tiket yang dibeli rupanya sudah kedaluwarsa karena berlaku sehari, free one day. 

Di tengah kegalauan itulah, tiba-tiba seorang bule bernama Alessandro menghampirinya dan meminta bantuan dengan meminjam handphone (HP) karena ia kehabisan pulsa. Budy pun meminjaminya. Singkat cerita, keduanya kemudian terlibat perkenalan dan obroran santai. Sampailah pada percakapan tentang cerita Budy yang tidak bisa masuk CeBIT lantaran tiketnya kedaluwarsa. Tanpa pikir panjang, sang bule pun memberikan tiket kepada Budy (hlm 16-20).  

Kisah di atas memberikan pelajaran bahwa nilai-nilai universal dalam pergaulan sesama umat manusia harus didasarkan pada prinsip kemanusiaan. Artinya, apapun latar belakangnya, jika seseorang membutuhkan bantuan kita, sebagai sesama manusia kita harus menolongnya. Dalam tradisi Nahdlatul Ulama (NU), ada tiga jenis persaudaraan, yakni persaudaraan umat Islam (ukhuwah Islamiyah), persaudaraan bangsa (ukhuwah wathaniyah), dan persaudaraan umat manusia (ukhuwah basyariyah).

Buku ini tidak hanya berkisah tentang nilai-nilai universal yang patut diteladani. Lebih dari itu, buku ini memiliki energi positif yang mendorong generasi muda untuk terus bermimpi. Kata novelis Vita Agustina (2018), cita-cita tidak hanya berhenti di batas desa, pulau atau negara. Keberanian untuk melangkah, melaju, melihat dunia lebih luas sangat menginspirasi segenap pecinta ilmu untuk terus maju, berkembang dan kembali mengabdi untuk Indonesia. Kata Imam Syafii, “Orang yang punya intelek dan adab tidak tinggal diam di kampung halaman. Berhijrahlah dan menetaplah di negeri asing!”

Dalam nalar puitik Imam Syafii, mengutip endorsement Zacky Khoirul Umam (PhD Candidate in Islamic Studies and History, BGSMCS Freie Universitat Berlin), di negera asing kita bisa memetik buah manis dari jerih payah, seperti anak panah yang melesat, dinamika karena revolusi bumi mengelilingi matahari, disepuh seperti emas ibriz, mengharumkan diri dan bangsa seperti kayu gaharu. Begitulah hukum alam perjuangan, manusia tak pernah bisa berdiam untuk bergerak, terus menuju pembaruan, menuju “insan kamil”, sebuah metafor dari tradisi Islam.

Karena itu, bagi pelajar ilmu dan pembelajar kehidupan, penting menggali pengalaman dari mereka yang sudah menjelajah tanpa batas, seperti yang terdapat dalam pesan buku Budy Sugandi ini. Budy telah melakukan penjelajahan intelektual tanpa batas, mulai dari Eropa, Turki, Australia, dan lain sebagainya. 

Tak pelak, membaca buku ini mengingatkan saya pada novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata atau novel Negeri 5 Menara karya Ahmad Fuadi. Kedua karya tersebut mengisahkan bagaimana usaha keras para tokoh utamanya untuk bisa diterima kuliah di luar negeri. Tak hanya itu, buku saudara Budy Sugandi ini juga mengingatkan saya pada karya Fachmy Casofa berjudul Habibie: Tak Boleh Lelah dan Kalah (2014). “Hidup adalah perjuangan. Jangan mudah lelah dan kalah!” begitulah kalimat tersirat di dalamnya. 

Akhirnya, seperti dikatakan Yanuardi Syukur (Alumnus Australia-Indonesia Muslim Exchange Program) dalam endorsement-nya, kehadiran buku ini sangat penting di tengah banyaknya pengalaman para penjelajah yang hanya berhenti di memori atau di blog tapi tidak dibukukan. Membaca buku ini akan memperluas cakrawala pengetahuan, kultur, dan diversitas manusia  di dunia yang sangat luas ini.

Peresensi adalah Ali Rif'an, Alumnus Pascasarjana UI. 

Identitas buku
Judul buku    : Jelajah Hidup Tanpa Batas: Jangan Pernah Berhenti Berharap
Penulis         : Budy Sugandi
Penerbit       : PT. Elex Media Komputindo
Cetakan       : I, 2018
Tebal            : xvii + 174 halaman
ISBN            : 978-602047845-6

Rabu 5 Desember 2018 13:30 WIB
Melaju di Jalan Tol Cerpen
Melaju di Jalan Tol Cerpen
Sebagaimana musik, sastra juga merupakan seni. Jika musik memainkan nada, maka sastra bermain kata. Musik nikmat didengar karena ada paduan tinggi rendahnya nada. Pun dengan sastra, sedap dibaca jika ada gelombang kata yang berdampak pada naik turunnya emosi pembaca.

Iya novel, karya sastra yang dapat memainkan hal itu dengan interval yang cukup panjang. Cerpen yang tak perlu waktu banyak untuk membacanya, yang ruang karakternya terbatas, perlu lebih pendek jarak antargelombangnya. Jika tidak, pembaca bisa-bisa kehilangan seleranya.

Gelombang dalam alur cerita ini yang belum terlihat dalam kumpulan cerita pendek berjudul Kucing Makan Koran. Membaca sembilan cerpen ini seakan melaju di sebuah jalan tol, bebas hambatan. Cerpen tersebut tidak menyajikan sebuah lubang besar yang mampu mengagetkan seluruh penumpangnya (baca: pembaca). Kecuali di cerpen yang berjudul Abraham dan Air Mata di Alif Lam Mim.

Itu pun merambat naiknya begitu pelan dan berpuncak pada kekecewaan tokoh Abraham atas laku rekan-rekan barunya di sebuah pesantren. Ia pun meredam api emosi pembaca yang tengah membara itu dengan permaafan antartokoh, dalam hal ini orang pertama memohon maaf pada Abraham. Puncak pendinginan itu terjadi pada permintaan Abraham kepada si aku untuk mengajarkannya shalat.

"Sudahlah saudaraku. Aku sudah memaafkanmu. Lebih baik mulai besok kamu ajari aku bagaimana mengerjakan shalat dengan benar. Yah!"  (h. 68)

Imajinasi penulis sudah sangat baik dengan memainkan tokoh binatang, yakni kucing dan macan. Akan lebih hidup, jika binatang itu menjadi tokoh kunci pada cerita. Mereka tidak hanya menjadi pemain pendukung yang fungsi keberadaannya juga tidak memengaruhi cerita sebagaimana dalam Kucing Makan Koran sendiri. Ada tidaknya kucing di situ, tidak memengaruhi rumah tangga tokoh.

Terkait hewan yang menjadi tokoh utama, bisa kita lihat bagaimana Eka Kurniawan memainkan mereka dalam penceritaannya, baik dalam novel seperti O, maupun dalam cerpen-cerpennya, seperti Kapten Bebek Hijau. Eka berani memainkan mereka menjadi tokoh utama. Cerpen dan novelnya itu bak fabel.

Bahkan, penulis yang meraih berbagai macam penghargaan internasional itu juga pernah membuat cerpen dengan tokoh utamanya adalah batu. Ya, batu, sebuah benda mati itu dimainkan sedemikian rupa sehingga menjadi penentu kisah. Hal demikianlah yang belum terlihat dalam Kucing Makan Koran.

Meskipun demikian, tema-tema yang diangkat dalam kumpulan cerpen tersebut menggambarkan kondisi sosial terkini di tengah komunitas ataupun masyarakat terkini. Konflik agama dan tuduhan sesat, misalnya, yang diangkat dalam salah satu cerpen itu, yakni Abraham dan Air Mata di Alif Lam Mim. Penulis menunjukkan bahwa fenomena takfiri yang juga ternyata sampai di tengah komunitasnya sendiri, yakni pesantren.

Di samping itu, penulis juga ingin memberikan gambaran tentang sebuah kemiskinan yang masih menggelayuti bangsa ini melalui cerpen berjudul Kayu Bakar. Pada cerpen tersebut, ia mengisahkan seorang anak yang terpaksa mencari kayu bakar untuk menghidupkan api dapur yang dikelola oleh orang tuanya. Padahal, masyarakat saat ini sudah beralih ke bahan bakar gas.


Peresensi adalah Syakir NF, penikmat sastra, mahasiswa Pascasarjana Islam Nusantara Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta

Identitas buku
Judul: Kucing Makan Koran
Penulis: Zainuddin Sugendal
Tebal: vii + 100
Tahun: 2018
Penerbit: Diandra Kreatif dan Boenga Ketjil
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG