IMG-LOGO
Pustaka

Mengenal Rasulullah dari Imam At-Tirmidzi

Jumat 14 Desember 2018 21:30 WIB
Bagikan:
Mengenal Rasulullah dari Imam At-Tirmidzi
Bagi Anda yang tengah gundah-gulanah mencari referensi sosok manusia paling Agung, Nabi Muhammad SAW saya sarankan untuk membaca buku, Mengenal Rasulullah Lebih Dekat, sebuah karya dari Imam Tirmidzi, yang kualitas keilmuannya sudah tak diragukan lagi, apalagi ihwal hadits nabi yang diriwayatkan olehnya.

Buku yang sudah dialih bahasakan dari Arab ke Indonesia ini, memuat secara spesifik tentang keadaan Rasulullah SAW dari fisik hingga busur panah. Dari bentuk cincin hingga baju besi yang dipakainya dalam peperangan. Yang kesemuanya membuat kita akan lebih karib lagi mengenal sosok pembawa syafaat tersebut. 

Sejalan dengan ironi hari ini, saat saya ditanya, siapa sosok idaman kamu? Maka, dengan sangat trengginas saya katakan: Radtya dhika, Tora sudiro, Syahrini dan sederet nama artis lainnya. Tanpa secuil pun menyebut nama Rasulullah. Sebaliknya, lebih mencintai tokoh perfilman dan manusia-manusia yang kerap mengumbar dagelan di media sosial dan channel-channel youtube. Alamak! 

Nasib generasi muda Muslim pun tak kalah tragis, mereka masih harus meraba identitasnya. Mencari-cari nilai spiritual yang paling sesuai dan gampang bagi mereka. Yang pada akhirnya, menuntun mereka tak bisa lebih detail lagi mencerna dan mendalami karakter Islam yang sebenarnya.

Walhasil, youtube dan anteknya menjadi surau untuk mengkhidmat ilmu agama, menuai pemahaman singkat yang kadang mengkerdilkan keluasan Islam itu sendiri. Dan parahnya, melahirkan sinisme akut kepada yang berbeda pandangan dengan dirinya. 

Sebab itu, membaca kembali literatur keislaman yang penuh nilai dan teladan harus digalakan sebagai gerakan semesta. Lantaran, dari catatan dan karya para ulamalah kita bisa menemukan gairah keislaman yang sebenarnya. 

Mendapati sosok-sosok kharismatik yang dengan peluh keringatnya menebarkan Islam sebagai rahmatan lil 'alamin.
Salah satunya menziarahi Imam Tirmidzi lewat karyanya, buku yang berasal dari kitab Syamail Muhammadiyah ini mencakup semua tentang nabi Muhammad sebagai teladan paling luhur dan satu-satunya yang patut ditiru. 

Kita akan menemukan kearifan beliau dalam segala bidang; akhlak, ibadah dan muamalah. Semua dikupas tuntas di buku yang diterbitkan Keira Publishing ini. Inilah salah satu trik para ulama dulu untuk mengenalkan Nabinya kepada generasi baru. Membeberkan betapa beliau adalah sumur teladan yang airnya tak pernah habis untuk ditimba. Menyegarkan dada dan kepala.

Seperti, apa yang diriwayatkan oleh Amru bin Ash, “Rasulullah selalu menghadapkan wajah dan bersikap ramah, bahkan kepada orang-orang yang berperilaku paling buruk” (hal. 189). Salah satu upaya Imam Tirmidzi agar generasi Muslim ke depan tak tercerabut akar rumputnya dalam meneladani sosok Rasulullah sebagai contoh paling riil.

Lagi-lagi dalam kehidupan bersosial Rasulullah adalah penuai akhlak paling luhur. Beliau tak pernah marah, kesal apalagi memukul tanpa dasar yang menguatkan. “Rasulullah Saw selalu ceria, berakhlak sederhana, bersikap lemah lembut, tidak kurang ajar, dan tidak pula kasar. Beliau tidak suka berbuat gaduh, tidak berlebihan dalam ucapan, tidak pernah berkata kotor, tidak suka mencela, serta tidak kikir” (hal.190) hadits ini disampaikan oleh sahabat Ali.

Gambaran-gambaran diri Rasulullah yang dapat kita temukan dengan sangat gamblang. Seperti disinggung di atas, buku ini memuat semua apa dan bagaimana diri Rasulullah dengan terang benderang. Seperti bentuk rambut beliau, dikatakan Anas bin Malik, “panjang rambut Rasulullah Saw sampai di setengah telinga beliau” (hal.16).

Atau apa yang diucapkan Hani binti Abu Thalib, “Saya melihat rambut Rasulullah diikat menjadi empat bagian.” (hal.18). Perbedaan pandangan tersebut tak serta merta dihilangkan oleh Imam Tirmidzi, justeru dimasukan agar umat muslim tak monoton dalam memahami pribadi Rasul yang agung.

Tak hanya fisik dan ibadah Rasulullah yang diutarakan dalam buku ini, melainkan pakaian dan busur panah beliau pun disinggung. Dalam hal pakaian, Ummu Salamah meriwayatkan bahwa, “Pakaian yang paling disukai Rasulullah Saw adalah pakaian gamis.”

Disamping itu, ternyata Rasulullah juga menyukai pakaian dari daerah lain. Semisal apa yang diriwayatkan Anas bin Malik, “Pakaian yang paling disukai Rasulullah Saw adalah hibarah (jenis pakaian yang berasal dari negara Yaman). Itulah Rasulullah tidak pernah kaku dalam menentukan segala sesuatu, termasuk fashion.

Imam Tirmidzi telah hadir sebagai salah satu perawi dan juga penulis handal, utamanya hal-hal yang berkaitan dengan diri Rasulullah, telah dipaparkanya sebagai jalan mulia dan pembelajaran Muslim mendatang.

Dari karya ini jualah berhasil menarik beberapa ulama dan imam besar lainnya untuk men-syarahi bahkan membuat tandingannya. Seperti apa yang dilakukan oleh Imam Ibnu katsir, yang menulis Syamail Rasul.

Apapun itu, membaca buku Mengenal Rasul lebih dekat adalah upaya terbaru dalam memberantas amnesia terhadap Rasulullah SAW memamah setiap lekuk dan ritus Nabi SAW menjadi hal yang tak bisa dielakan begitu saja.

Lantaran, mempelajari dan membaca literatur nabawiyyah akan membuat kita semakin bijak dan bestari. Ditambah, gambar riil dari benda-benda juga peninggalan Rasulullah terdapat dalam buku ini. Semakin khidmat dalam membacanya. Yang jelas, buku ini sangat layak menjadi cermin motivasi kehidupan kita.

Identitas buku:
Judul: Mengenal Rasulullah Lebih Dekat
Penulis: Imam At-Tirmidzi
Penerbit: Keira Publishing
Peresensi: Alif Noerul
Tags:
Bagikan:
Rabu 12 Desember 2018 20:0 WIB
Masih Banyak Tokoh NU yang Terlupakan
Masih Banyak Tokoh NU yang Terlupakan
Sebagai organisasi terbesar di Indonesia, bahkan dunia, banyak tokoh yang terlibat dalam membesarkan Nahdlatul Ulama. Secara bersamaan, tokoh-tokoh tersebut terlibat pula dalam pergerakan kebangsaan seperti Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari dan KH Wahab Hasbullah.  Perjuangan tokoh-tokoh itu dilanjutkan generasi NU berikutnya dengan cara dan dalam bentuk berbeda karena yang dihadapi pun berlainan. 

Kini NU berusia hampir seratus tahun. Tokoh-tokohnya, bersama anak bangsa dari elemen lain, telah turut menorehkan perjuangannya untuk umat Islam dan bangsa Indonesia. Tentu saja, jangkauan perjuangan seorang tokoh berbeda dengan tokoh lain. Ada yang fokus di daerahnya masing-masing, ada yang tarafnya nasional dan internasional. Bidangnya pun berbeda-beda. Begitu juga durasinya. 

Selama hampir seratus tahun itu ada perjuangan tokoh NU yang ditulis, tapi justru lebih banyak yang tidak terdokumentasikan. Di dalam buku Membuka Ingatan; Memoar Tokoh NU yang Terlupakan, orang sekaliber Mahbub Djunaidi dan Subchan ZE saja, dianggap terlupakan. Lalu bagaimana tokoh lain seperti Raden Mas Sugeng Yudadiwirya, Sunaryo, dan lain-lain? 

Bukti nya, ketika Kiai Syam’un ditetapkan sebagai pahlawan nasional, warga dan tokoh NU seperti terkaget dengan pertanyaan, apakah kiai tersebut pernah aktif di NU? Kalau iya, bagaimana kiprahnya? Tentu banyak yang tidak tahu karena memang belum ada yang menuliskannya secara utuh.   

Setelah ditelusuri di data-data lama milik PBNU, yaitu di perpustakaan, ternyata dia pernah aktif di NU Serang sebagai seorang yang duduk di syuriyah. Setidaknya, berdasarkan penelusuran catatan absensi muktamar ke muktamar NU, dia pernah mengikuti muktamar NU di Pekalongan 1930 dan Muktamar NU kesebelas di Banjarmasin 1936. 

Selain berjasa dalam perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, KH Syam’un pernah berhasil membangun NU Serang dalam bidang kesehatan. Pada laporan perwakilan NU dari Serang di Muktamar kesebelas itu, NU Serang menyatakan memiliki dua klinik yang berjalan dua tahun. 

Data seperti ini jelas tenggelam, tak diketahui lagi warga NU, apalagi khalayak umum. Sungguh sangat disayangkan. Dan tentu saja, kiai atau tokoh NU yang di daerah lebih banyak lagi yang terlupakan. Dan tentu saja sebagaimana judul buku tersebut, kita harus membuka ingatan untuk tokoh-tokoh yang terlupakan. 

Enam Tokoh NU yang Terlupakan
Buku ini mengupas enam tokoh NU yaitu Fahmi Djafar Saifuddinm, Asmah Sjahruni, Mohammad Zamroni, KH Tolchah Mansoer, H. M. Subchan Z. E., H. Mahbub Djunaidi. Keenam tokoh ini bukan main jasanya, dan sangat dikenal pada masanya, tapi karena tidak banyak dituliskan, dianggap terlupakan. 

Dari keenam tokoh tersebut, sebetulnya Mahbub Djunaidi masih dikenal. Sebagai ketua umum pertama Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), ia setidaknya sering disebut di acara penerimaan anggota baru. Namanya diabadikan di ruangan kantor pengurus besar. 

Tak hanya itu, esai dan segala macam jenis tulisannya, mulai dari mars, puisi, terjemahan, novel, dan terutama kolom-kolomnya. Serta pergaulannya yang luas, ia masih diingat di lintas kalangan, terutama kalangan jurnalis senior.    

Pengasuh pondok pesantren Tebuireng KH Salahudin Wahid dalam pengantar buku tersebut mengatakan, tujuan penerbitan buku ini adalan menumbuhkan kembali ingatan warga NU akan adanya tokoh NU yang terlupakan, bahkan mungkin sudah tidak banyak ingat lagi yang ingat nama mereka. 

“Tokoh-tokoh di buku ini masing-masing memiliki profesi yang berbeda dan karakter yang berbeda, tapi mereka mempunya hal yang sama, semangat pengabdian untuk Indonesia, Islam, dan NU,” katanya. (Pengantar, halaman XII).

Dengan demikian, upaya yang dilakukan Pesantren Tebuireng ini harus didukung dengan cara melakukan hal serupa oleh pesantren lain. 

Peresensi, Abdullah Alawi
 
Identitas Buku
Penulis             : Tim Pustaka Tebuireng
Judul               : Membuka Ingatan; Memoar Tokoh NU yang Terlupakan
Cetakan           : Ke-1, Maret 2017
Tebal               : XIII+497
Penerbit           : Pustaka Tebuireng
ISBN               : 978-602-8805-47-6
 


Selasa 11 Desember 2018 19:45 WIB
Becermin dengan 'Wawasan Pancasila'
Becermin dengan 'Wawasan Pancasila'
Laku koruptif dan sikap diskriminatif masih saja aktif. Tindak radikal dan ujaran kebencian tak pernah pasif. Langkah taktis nan strategis pemerintah sudah represif. Namun, suasana kebangsaan tak kunjung kondusif. Belum lagi diperparah dengan berita-berita fiktif.
 
Lahirnya Wawasan Pancasila dari rahim pemikiran Yudi Latif menjadi oase dan angin segar bagi gersangnya suasana dan panasnya atmosfer politik yang tengah berkecamuk akhir-akhir ini guna mengoreksi atas keindonesiaan pribadi.

Di Papua, terjadi penembakan terhadap para pekerja yang tengah membangun jembatan di Kabupaten Nduga. Sebelumnya, publik juga diramaikan dengan pro kontra perda syariah. Ada lagi tentang pertemuan ribuan orang di Monumen Nasional mengatasnamakan identitas tertentu. Publik seolah terus dibenturkan menjadi dua kelompok, satu kubu setuju dan lainnya yang tak sepakat.
 
Benturan demikian bukan saja membulirkan peluh, tapi juga membuat lingkungan teduh menjadi gaduh. Penyakit demikian dari dulu tak kunjung sembuh. Malah semakin mengaduh akibat sana sini saling misuh. Padahal pengalaman kita jika dihitung tahun sudah berbilang puluh.
 
Keramaian di jagat maya tak menghasilkan buah manis di dunia nyata. Alih-alih memikirkan manfaat bagi masyarakat, kita justru terjebak pada kepentingan sesat dan sesaat. Habis energi, bangsa sendiri yang harus menanggung rugi.
 
Melihat kondisi demikian, perlu kiranya masyarakat menengok kembali ke masa lalu guna refleksi, kilas balik atas perjalanan para pendiri membangun pondasi negeri. Di atas segala perbedaan, baik ras, agama, maupun golongan, mereka telah bersepakat Pancasila sebagai dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Yudi Latif menguraikan perumusan lima poin penting hasil perasan atas berbagai pemikiran yang ada di dunia itu dengan rinci yang terbagi ke dalam tiga fase, yakni fase perintisan, fase perumusan,  dan fase pengesahan.

Pria yang menamatkan studi magister dan doktoralnya di Universitas Nasional Australia (ANU) itu juga membahas Pancasila secara yuridis, filosofis, hingga praktis. Pada sektor pertama, Kang Yudi, sapaan akrabnya, menguraikan Pancasila sebagai dasar konstitusi negara. Selanjutnya, ia menjelaskan makna terdalam yang terkandung dalam lima sila itu dari segi dimensi ontologis, epistimologis hingga aksiologis. Dimensi terakhir, aksiologis, diperluas bukan hanya sebagai laku diri dan karakter pribadi, tetapi juga sebagai benteng atas degenerasi akibat globalisasi yang mencakup ideologi transnasional hingga gempuran pasar internasional.
 
Sebagai suatu diskursus yang sejak mula kelahirannya juga sudah menuai perdebatan, Pancasila tentu saja tidak antikritik. Ia tidaklah sempurna. Namun, ketidaksempurnaan itu tidak menggugurkan posisinya sebagai suatu hasil dari sebuah kesepakatan. Baik buruk dari hasil itu harus ditanggung bersama. Adapun segala kekurangan, sebagaimana yang dikritisi oleh Yudi Latif, seperti eksklusi sosial dalam berketuhanan yang tidak lagi mencerminkan berkebudayaan, itu yang harus dipenuhi oleh kita saat ini. Tidak lagi mempersoalkan redaksi lima sila itu, terlebih mengganti dasar konstitusi tersebut yang sudah sejak dulu menjadi kesepakatan bersama. Karena itu juga, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma'ruf Amin menyebut NKRI sebagai negara kesepakatan (dar al-mitsaq).
 
Oleh karena itu, kehadiran buku dari akademisi yang secara mendalam menekuni diskursus Pancasila ini tentu sangat penting saat ini. Tulisan yang cair memberikan kenikmatan tersendiri bagi pembaca. Meskipun Yudi sulit atau entah sengaja tidak melepaskan diksi-diksi ilmiahnya sehingga bagi awam sesekali perlu sedikit waktu memahaminya atau bahkan hingga membuka kamus.
 
Syakir NF adalah mahasiswa pascasarjana Fakulas Islam Nusantara Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta
 
Identitas Buku
Penulis             : Yudi Latif
Judul               : Wawasan Pancasila, Bintang Penuntun untuk Pembudayaan
Cetakan           : Ke-1, Oktober 2018
Tebal               : VIII+315
Penerbit           : Mizan
ISBN               : 978-602-441-089-6
Ahad 9 Desember 2018 15:0 WIB
Membaca Asyik, Menggelitik, dan Mendidik
Membaca Asyik, Menggelitik, dan Mendidik
Kelahiran karya sastra tak bisa dilepaskan dari konteksnya. Mengutip Rene Wellek dan Austin Werren, sastra itu wujud ekspresi suatu masyarakat. Hal ini yang tampak dalam cerpen-cerpen Hilmi. Ia mulai dari dunia terdekatnya, yakni pesantren. Santri Kudus ini berkisah tentang kiai, penjual pecel, barokah, Syekh Dinawari, hingga gambaran akhirat, neraka.

Kisah-kisah dalam cerpen tersebut tidak melulu berkisah tentang dunia pesantren yang menjadi lingkungan terdekatnya. Melalui hal itu, ia mampu menyinggung dan menyentil problematika sosial terkini, seperti minimnya literasi, keteladanan, motivasi, hingga relijiusitas masyarakat di era milenium ini.

Kepengrajinan penulis juga sangat kreatif dengan daya imajinasi yang begitu liar. Ia memainkan gaya realisme magis dengan tokoh bulan Sya’ban, seekor kucing, sebuah koran, hingga latar neraka lengkap dengan para penghuninya. Hal terakhir yang disebutkan tercederai dengan epigonitas pengarang terhadap Ali Akbar Navis. Cerita dialog penghuni neraka pernah diceritakan oleh sastrawan Minangkabau itu melalui cerpennya yang berjudul Robohnya Surau Kami. Meskipun demikian, tentu ada hal baru darinya, seperti pintu rahasia dan angka ruangan. 

Terlepas dari pengarang mengetahui atau tidak tentang cerpen tersebut, tetapi cerpen demikian bukanlah hal baru, bahkan cenderung meniru. Memang, tidak ada karya yang murni. Setiap karya pasti menjadi epigon atas karya yang lain. Tetapi bukan berarti hampir persis seperti cerpen berjudul Trik Ahli Neraka dan Robohnya Surau Kami tersebut.

Hal lain yang terlupakan, entah sengaja atau tidak, adalah logika. Ya, seliar-liarnya kita berimajinasi, kita tidak bisa menafikan logika dalam menulis cerita. Berbeda dengan puisi yang memang menembus batas rasionalitas. Ketidaklogisan itu muncul pada cerpen berjudul Kucing Masuk Koran. Koran diceritakan menunjuk orang yang menulisnya. Penunjukan yang dilakukan oleh sebuah koran itu terasa ganjil. Dengan apa koran menunjuk?

Eka Kurniawan bercerita tentang batu dalam cerpennya. Ia sama sekali tidak menggerakkan batu itu karena dirinya sendiri. Sebab, kita tahu batu itu benda mati. Pergerakan batu yang dapat mengubah cerita itu karena tokoh lain, yakni manusia-manusia yang terlibat di dalamnya. Hal serupa juga pernah saya lihat pada cerpen yang ditulis oleh seorang anak madrasah di Cirebon tentang payung. Benda pelindung dari panas dan hujan itu menjadi tokoh utama dari cerpennya. Tetapi, ia hanya memainkan perasaannya saja, sedangkan gerakannya tidak dibuat-buat. Hilmi tidak memainkannya demikian sehingga terkesan janggal.

Keliaran imajinasi itu juga ternyata ia letakkan di akhir cerpennya. Artinya, penulis seperti dengan sengaja membiarkan pembaca berimajinasi bagaimana mengakhiri cerita yang sudah ditulis oleh pengarang. Atau menggantungkan cerita begitu saja. Seakan belum selesai. Misal, dalam cerita Daenuri Ketemu Dinawari, pengarang membiarkan tokoh Daenuri bingung dengan kepulangannya dan selesai di situ begitu saja. Namun, pengarang juga membuat pembaca berpikir ulang untuk kembali ke kronologi cerita sebelumnya, sebagaimana dalam cerpen Sebungkus Es Krim di Musim Dingin, “Sekarang siapa yang aneh?”

Karena hal itu, alur cerita-cerita ini sangat kuat. Keterhubungan cerita dalam cerpen tersebut cukup baik dan tidak terlalu dibuat-buat, baik dengan alur maju dan campuran yang ia gunakan. Hal ini diperkuat dengan humor dan pesannya yang mengena ke pembaca dengan dialognya. Kekuatan dialognya itu terdapat dalam humor dan imajinasinya. Cerpen santri Tebuireng ini, asik mengingat pembaca bisa tergelitik sekaligus terdidik.

Peresensi Syakir NF, penikmat sastra, mahasiswa Pascasarjana Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta

Identitas Buku
Penulis : Hilmi Abedillah
Judul : Trik Ahli Neraka
Tebal : 189 halaman
Cetakan         : Pertama, Maret 2018
Ukuran : 12,5x19,5 cm
Penerbit         : Mitra Karya
ISBN : 9786027460034

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG