IMG-LOGO
Nasional
NU PEDULI SULTENG

Bersama Kemendikbud, LPBI NU Latih Fasilitator Psikososial di Sigi

Jumat 14 Desember 2018 21:15 WIB
Bagikan:
Bersama Kemendikbud, LPBI NU Latih Fasilitator Psikososial di Sigi
Sigi, NU Online
Guna meningkatkan khasanah pengetahuan mengenai dukungan psikososial, Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) bekerjasama dengan Kemendibud dan Konsorsium Pendidikan Bencana Indonesia (KPBI) menggelar Pelatihan Fasilitator Dukungan Psikososial bagi Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus di Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah.

Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari, tanggal 11-13 Desember yang diikuti 80 peserta dari 15 Sekolah Menengah Atas Kabupaten Sigi, berlokasi di Gedung MTs Al-Khairat Palu.

Dalam sambutannya, Wakil Kepala MTs Al-Khirat, Jahri Toalu merasa bangga dan sangat berterimakasih kepada LPBI NU yang memberi kepercayaan untuk menjadi tuan tamu dalam kegiatan. "Kepada LPBI NU, atas kepercayaannya untuk jadi tuan rumah. Semoga acara hari ini bermanfaat dan berkah," tuturnya.

Ucapan terima kasih dan bangga juga disampaikan Asrul Ahmad, kepala Bidang Guru dan Lembaga Kependidikan. “Saya sangat mengapresiasi LPBI NU untuk menjadi mitra di bidang psikososial teman-teman, yang diharapkan bisa menjadi contoh dan memberi manfaat kepada satuan dibawahnya," kata Asrul.

Lebih lanjut Asrul mengatakan, Dinas sangat mendukung kegiatan psikososial. Harapannya, ilmu ini bisa di bagi ke teman-teman, minimal untuk diri kita. Karena ketidaksiapan kita, bencana terasa sangat berat. 

Asrul juga memotivasi peserta pelatihan agar bangkit untuk lebih baik. “Kita sudah bangkit diproses pendidikan kita, Jangan sesali apa yang kemarin kita alami, mari pelan-pelan bangkit untuk lebih baik. Sebenarnya guru harus lebih tenang dari murid. Jangan sampai guru yang lebih panik dari murid dalam menghadapi bencana,” pungkasnya. 

Yayah Ruchyati, sekretaris LPBI NU dalam sambutannya menjelaskan bahwa Konsorsium Pendidikan Bencana Indonesia (KPBI) Lahir tahun 2006 yang merupakan gabungan dari lembaga sosial penanggulangan bencana dari berbagai lembaga di Indonesia, termasuk di dalamnya adalah LPBI NU. LPBI NU sendiri singkatan dari Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim, di bawah naungan Nahdlatul Ulama.

“Satu-satunya lembaga di indonesia yang sudah mengawinkan perubahan iklim dan penanggulangan bencana sejauh ini baru LPBI NU,” ungkap Yaya dalam sambutannya. 

Dalam sambutannya, Yayah juga menyampaikan banyak terimakasih kepada MTs Al-Khairaat Pusat sebagai tuan rumah dalam pelaksanaan pelatihan ini. 

Akibat gempa, banyak fasilitas pendidikan rusak. Hal ini sangat mengganggu proses pembelajaran. "Untuk membantu pemulihan guru guru yang terdampak, kegiatan diharapkan mampu mengembalikan psikososial guru sehingga menjadi lebih siap dalam menghadapi bencana," kata Eneng Siti Saadah, mewakili Direktur Pembinaan Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus.  

Siti Saadah berharap, para peserta memiliki konsep yang sama untuk memberikan Bimbingan Teknis Dukungan Psikososial di kemudian hari. Juga bisa menghasilkan silabus untuk di terapkan di Bimtek Dukungan Psikososial nantinya. (Masrukhin/Kendi Setiawan)
Bagikan:
Jumat 14 Desember 2018 23:55 WIB
Kementan Garap Lahan Rawa di Tiga Pulau Besar
Kementan Garap Lahan Rawa di Tiga Pulau Besar

Jakarta, NU Online

Kementerian Pertanian (Kementan) memaksimalkan lahan pertanian dengan memanfaatkan rawa sebagai lahan produktif. Setidaknya ada 34,1 juta hektar yang yang saat ini masuk tahap proses garapan, dengan 9,2 juta hektare di antaranya dimanfaatkan untuk pertanian sawah dan hortikultura.

Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP) Dedi Nursyamsi, mengatakan lahan tersebut saat ini tersebar di tiga pulau besar, yakni Sumatera, Kalimantan, dan Papua.

"Untuk padi atau sawah sudah mencapai 14,2 juta hektar, hortikultura mencapai 3,1 juta hektar dan tanaman tahunan mencapai 1,9 juta hektar," kata Dedi, saat memberikan keterangan pada kegiatan Bincang Asyik Pertanian (BAKPIA) di Kampus Penelitian Cimanggu, Bogor, Jumat (14/12).

Menurut Dedi, sebagian besar lahan ini merupakan lahan potensial yang dulunya berbentuk semak belukar. Namun proses pengerjaan yang cepat mampu menghasilkan 7,5 juta hektar yang terdiri dari 5,1 sawah, 1,5 juta hortikultura dan 0,9 juta ha untuk tanaman tahunan.

"Keunggulan utama lahan rawa adalah airnya tersedia sepanjang tahun. Jadi, disaat wilayah lain kemarau dan kekeringan, lahan rawa justru dapat berproduksi optimal dan panen raya," katanya.

Kendati demikian, pengerjaan lahan rawa bukan tanpa kendala. Awalnya, program ini sulit mengubah sikap atau pola pikir sebagian besar petani yang masih tradisional. Kemudian tantangan berikutnya adalah kelembagaan petani dan kelembagaan ekonomi yang belum sepenuhnya maju, serta masih terbatasnya implementasi teknologi sehingga produktivitasnya rendah.

"Tapi saat ini sudah ada program SERASI (Selamatkan Rawa, Sejahterakan Petani) yang merupakan implementasi dari inovasi teknologi pertanian yang berhasil mengubah dan membudidayakan lahan tandus menjadi produktif. Apalagi sudah terintegrasi dengan peternakan ikan dan itik," katanya.

Program SERASI merupakan inisiasi pemerintah yang lebih luas dari demplot Jejangkit yang dilaksanakan pada lahan rawa pasang surut seluas 550 ribu hektar yang tersebar di enam provinsi. Program ini bersifat sinergi dan lintas sektoral antara Kementan, Kementerian PUPR, Kementerian BUMN, dan Lembaga Keuangan (LK).

Program ini berhasil meningkatkan indeks pertanaman (IP) dari 100 menjadi 200 melalui normalisasi tata air, baik saluran air, pintu air, tanggul, pompa, dan lain-lain. Selain itu, produktivitas padi juga meningkat.

"Tadinya kan produktivitasnya 2 ton per hektar. Sekarang menjadi 6 ton per hektar. Peningkatan ini bisa terjadi karena adanya introduksi varietas unggul dan adaptif, perbaikan sistem budidaya, ameliorasi tanah seperti pemberian dolomit, fosfat alam, dan bahan organik. Lahan ini menjadi subur karena terus dilakukan pemupukan yang berimbang dengan spesifik lokasi," katanya.

Peningkatan produksi pangan, kata Dedi, perlu didorong melalui diversifikasi komoditas serta membangun kelembagaan dan pemberdayaan melalui implementasi pertanian korporasi. Program ini juga penting mempertimbangkan jadwal tanam yang beradaptasi dengan pola curah hujan dan musim kering.

Dedi menambahkan, pelaksanaan program ini wajib didukung koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan stakeholder lainnya. Dukungan dari pemerintah pusat, terutama dari Kementerian Pertanian, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Kementerian PUPR terutama Balai Besar Wilayah Sungai (BWSS), Kementerian Desa PDTT, TNI AD, serta Pemerintah Provinsi dan Kabupaten.

"Selain itu kita juga perlu dukungan stakeholder lainnya seperti dari Persatuan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (Perpadi), perusahaan benih, pupuk dan lain lain," pungkas Dedi. (Red: Ahmad Rozali)

Jumat 14 Desember 2018 22:45 WIB
Mendagri Cabut Instruksi Aturan Pakaian ASN
Mendagri Cabut Instruksi Aturan Pakaian ASN
foto: (pemiluupdate.com)
Jakarta, NU Online
Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo mencabut instruksi peraturan tentang penggunaan pakaian dinas bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Kementerian Dalam Negeri dan Badan Pengelola Perbatasan (BNPP).

“Instruksi Mendagri ini, mulai hari ini telah dicabut dan tidak berlaku lagi,” ujar Hadi Prabowo, Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) di Jakarta, Jumat (14/12), sebagaimana dilansir oleh Antaranews.com.

Instruksi Nomor 225/10770/SJ itu, katanya, dicabut mengingat adanya masukan dari masyarakat.

Hadi menjelaskan bahwa aturan yang berlaku di internal Kemendagri dan BNPP itu bersifat imbauan. Menurutnya, hal itu bukanlah sebuah larangan karena bertujuan untuk menjaga kerapian dan keseragaman berpakaian mengingat ASN merupakan penyelenggara negara.

“Frase kata ‘agar’ dalam Inmendagri tersebut memiliki arti imbauan, bukan merupakan suatu larangan,” jelasnya.

Melalui instruksinya, Mendagri meminta agar ASN laki-laki tidak berambut gondrong dan tidak berwarna-warni, menjaga kerapian kumis, jambang, dan jenggot, serta penggunaan celana panjang hingga mata kaki.

Adapun bagi ASN perempuan, Tjahjo mengimbau agar rambut rapi dan tidak dicat warna-warni, sedang bagi yang berjilbab agar memasukkan jilbabnya ke dalam kerah pakaian dan warnanya disesuaikan dengan warna pakaian dinas. Jilbab yang digunakan juga harus polos, tidak bermotif. (Syakir NF/Muiz)
Jumat 14 Desember 2018 22:30 WIB
Gus Dur dalam Pandangan Ahmad Tohari
Gus Dur dalam Pandangan Ahmad Tohari
Gus Dur
Banyumas, NU Online
KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menurut sastrawan Ahmad Tohari adalah orang yang tidak pernah merasa terhormat dibanding siapapun, Gus Dur juga orang tidak pernah merasa mulia dibanding siapapun. 

Hal itu diungkapkan Ahmad Tohari disela-sela acara kopdar ngaji Ihya' Ulumuddin bersama Ulil Abshar Abdalla (Gus Ulil) Kamis (13/12) malam di kediamannya di Jatilawang Banyumas Jawa Tengah. "Gus Dur adalah orang yang sangat sederhana," katanya. 

Tohari lalu menceritakan, dulu saat Gus Dur masih menjabat sebagai Ketua Umum PBNU, Gus Dur pernah beberapa kali mengunjungi kediamannya di Jatilawang. 

"Saat di sini, Gus Dur tidurnya di lantai dan hanya beralaskan tikar atau karpet," lanjut Tohari. 

Saat itu, lanjut Tohari. Gus Dur datang ke rumah sekitar Senin sore dan pulang hari Rabu pagi. Selama tiga hari itu, Gus Dur hanya mengenakan 1 pakaian saja, tidak ganti. "Mobil yang ia pakai pun hanya mobil yang murahan," tambahnya. 

Penulis ronggeng dukuh paruk itu kemudian menjelaskan saat ini kita sedang mengalami hidup di zaman distrupsi dan kitab Ihya Ulumuddin merupakan solusi untuk menjawab persoalan tersebut. 

Ihya Ulumuddin, seperti hanya artinya adalah menghidupkan ilmu ilmu agama. Ilmu agama jika ditinjau dari sisi kebudayaan menurut Ahmad Tohari adalah suatu ilmu yang berusaha menyeimbangkan antara akherat dan dunia. 

"Memgutamakan kebaikan kehidupan akhirat, namun tidak meninggalkan hak-hak kehidupan di dunia," katanya. 

Masihkah kita seimbang dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Tohari lalu menjelaskan, jika ego manusia semakin berkembang maka kesadaran ketuhanan akan semakin terdesak. 

"Hidup itu bukan hanya soal urusan perut. Tapi soal kejujuran,  soal pengabdian dan kasih sayang derajatnya lebih tinggi dari pada semua itu," tegas Budayawan asal Banyumas itu. (Kifayatul Ahyar/Muiz
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG