IMG-LOGO
Opini

Perlunya Fatwa Produk Tembakau Alternatif

Ahad 16 Desember 2018 13:0 WIB
Bagikan:
Perlunya Fatwa Produk Tembakau Alternatif
Ilustrasi (via steemkr.com)
Oleh Sumanto Al Qurtuby

Selama ini para ulama, fuqaha, dan lembaga keislaman, baik di Indonesia maupun mancanegara, sudah banyak mengeluarkan pendapat dan fatwa tentang status hukum merokok “rokok konvensional”. Tetapi nyaris belum ada yang memberi komentar dan pandangan, membahas secara komprehensif-akademik dari sudut pandang hukum Islam (fiqih), apalagi mengeluarkan fatwa tentang “produk tembakau alternatif” (di luar rokok konvensional). 

Kalaupun ada, meskipun sangat terbatas, masih sebatas produk tembakau alternatif jenis vape (“rokok elektrik” atau e-cigs) atau jenis nikotin tempel dan snus, belum yang jenis heat-not-burn (HNB), yakni produk tembakau yang dipanaskan bukan dibakar. NU misalnya pernah sedikit menyinggung sambil lalu tentang status “rokok elektrik” yang status hukumnya disamakan dengan “rokok konvensional”, yakni kalau mengonsumsi jenis vape maka hukumnya di antara mubah dan makruh, tergantung dari tingkat manfaat dan mudaratnya.

Di luar Indonesia, sejumlah lembaga keulamaan juga pernah mengeluarkan fatwa tentang “rokok elektrik”. Lembaga Ulama Malaysia misalnya mendeklarasikan “haram” terhadap “rokok elektrik”. Ketua National Fatwa Council, Malaysia, Dr. Abdul Shukor Husin, mengatakan bahwa keputusan itu didasarkan pada pertimbangan matang terhadap implikasi kesehatan atau dampak buruk/negatif dari produk rokok elektrik atau vaping. Menurutnya, Islam melarang pengikutnya memakai barang-barang membahayakan, baik secara langsung maupun tidak, baik tiba-tiba maupun gradual, yang bisa mengantarkan pada kematian, kerusakan tubuh, menyebabkan penyakit berbahaya, atau merusak pikiran. 

Di sejumlah negara di Timur Tengah juga mengharamkan rokok elektrik (e-cigs) karena dianggap sama bahayanya dengan rokok biasa yang mengandung zat adiktif nikotin tinggi. Qatar misalnya melarang keras menjual, mendistribusikan, mempromosikan rokok elektrik di farmasi, selain larangan mengimpor jenis rokok ini. Kementerian Kesehatan di negara-negara di Arab Teluk (termasuk Arab Saudi, Oman, Bahrain, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Qatar) memang melarang penjualan dan memasarkan “rokok elektrik”. Uni Emirat Arab bahkan juga melarang menggunakannya. 

***

Fakta bahwa nikotin masih dijadikan sebagai dasar utama pengharaman “rokok elektrik” menunjukkan bahwa banyak pihak, termasuk para ulama dan fuqaha itu sendiri, masih belum memahami betul tentang “produk tembakau alternatif” maupun hal-ikhwal yang berkaitan dengan “dunia rokok” secara umum. Padahal, yang membahayakan dari rokok konvensional itu, seperti dikemukakan oleh sejumlah ahli medis dan ilmuwan seperti nanti saya jelaskan secara detail, bukan zat nikotin, melainkan zat tar yang dihasilkan melalui proses pembakaran tembakau. 

Selain masalah informasi yang tidak valid dan data yang tidak akurat mengenai rokok dan produk tembakau, para ulama juga belum mengenal, mengerti, dan memahami betul produk tembakau alternatif mutakhir jenis heat-not-burn (HNB) yang berbeda secara substansial dan fundamental dengan “rokok elektrik” apalagi “rokok konvensional” sehingga sampai detik ini belum ada yang berpendapat, membahas, apalagi mengeluarkan fatwa tentang produk HNB. 

Produk tembakau HNB ini berkembang cukup pesat dan populer di sejumlah negara maju seperti Jepang, Inggris, Amerika Serikat, dlsb, dan rencananya konon hendak diperkenalkan dan dipasarkan juga di Indonesia. Saat ini, setidaknya ada tiga produk tembakau alternatif model HNB yang dikenal di pasar global, yaitu 3T (diproduksi oleh Vapor Tobacco Manufacturing), Glo (diproduksi oleh British American Tobacco, dan iQos (diproduksi oleh Phillips Morris International). 

Ada perbedaan mendasar antara HNB dengan “rokok elektrik”. Produk HNB mengandung komposisi daun tembakau yang diolah sedemikian rupa agar kompatibel dengan alat pemanas yang dijadikan sebagai medium untuk memanaskan sebatang rokok (hal ini yang membuat produk ini cenderung lebih menyerupai “rokok konvensional”). Sedangkan kandungan nikotin pada cairan “rokok elektrik” diperoleh dari ekstraksi daun tembakau secara sintetis. Lalu, cara penggunaannya, “rokok elektrik” memanaskan dan menguapkan cairan liquid, sementara jenis HNB memanaskan daun tembakau. Dengan kata lain, produk HNB ini tetap menggunakan tembakau sebagai komponen utamanya. 

Di sejumah negara, munculnya produk tembakau HNB ini yang merupakan “generasi baru” produk tembakau alternatif, disambut dengan antusias oleh berbagai pihak, termasuk pemerintah, kelompok medis, aktivis lingkungan, maupun konsumen produk tembakau, termasuk orang-orang yang berniat berhenti merokok tetapi kesulitan untuk menghentikan aktivitas merokok. Produk HNB ini, antara lain, berfungsi membantu “masa transisi” para pecandu rokok yang ingin berhenti merokok secara total. 

Menurut sebuah sumber, sekarang ada sekitar 5,6 juta konsumen rokok yang sudah pindah dari “rokok konvensional” ke iQos karena dianggap mampu menjawab kebutuhan para konsumen rokok atau mampu menjadi solusi alternatif dari “kebuntuan” persoalan di dunia rokok, yakni bagaimana orang (tentu saja komunitas perokok dan pro-rokok) tetap bisa merokok di satu sisi tetapi tetap sehat serta bisa merasakan aroma tembakau di pihak lain.Itu baru data tentang iQos, belum yang “hijrah” ke produk HNB lain, yaitu Glo maupun 3T. Memang tidak seperti iQosyang masih bisa merasakan rasa dan aroma tembakau,“rokok elektrik” dan lainnya (snus atau nikotin tempel) dianggap tidak mampu menggantikan aroma tembakau “rokok konvensional”. 

Selain sejumlah faktor di atas, dan ini yang lebih penting, HNB juga terbukti jauh lebih sehat ketimbang produk rokok konvensional. Oleh sejumlah ahli dan ilmuwan, produk tembakau HNB dinilai jauh lebih rendah bahaya dan risikonya ketimbang “rokok konvensional” karena tidak adanya proses pembakaran yang bisa memproduksi karbon monoksida (Carbon Monoxide = CO) dan zat tar yang membahayakan kesehatan tubuh.

Demikianlahkesimpulan hasil riset dari sejumlah lembaga ternama dan otoritatif seperti Public Health England (Inggris), Food and Drug Administration (Amerika Serikat), dan Federal Institute for Risk Assessment (Jerman). Public Health England, sebuah badan kesehatan independen di bawah Kementerian Kesehatan Inggris, misalnya, dalam laporan risetnya menyatakan bahwa “produk tembakau alternatif” yang dipanaskan (bukan dibakar) mampu menekan atau menurunkan risiko kesehatan hingga 95 persen (lihat juga artikel ilmiah yang ditulis oleh Edward Anselm, “Tobacco Harm Reduction Potential ‘Heat Not Burn” yang dimuat di R Street Policy Study No. 85). 

Kenapa tar jauh lebih berbahaya ketimbang nikotin? Menurut Profesor Achmad Syawqie, Ketua Koalisi Indonesia Bebas Tar (KABAR) yang didirikan oleh sejumlah organisasi pemerhati kesehatan di Indonesia, tar dianggap jauh lebih berbahaya karena ia mengandung zat-zat kimia karsinogenik yang dihasilkan melalui proses pembakaran rokok itu yang bisa menyebabkan atau memicu anaka penyakit terutama kanker (karsinogen). Dr. Ardini Raksanagara, anggota Dewan Penasehat Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat di Indonesia, juga mengemukakan hal serupa bahwa yang lebih berbahaya bukan zat nikotin yang terkandung dalam tembakau, melainkan zat tar. 

Nikotin, menurutnya, hanya menimbulkan efek kecanduan kalau dikonsumsi dalam dosis tinggi, dan zat nikotin ini bukan hanya ada pada tembakau saja tetapi juga pada komoditas lain seperti kopi, kentang, tomat, terong, dlsb.Sebetulnya bukan hanya pembakaran dari produk tembakau saja, komoditas atau pembakaran benda apapun (kayu, gas, bensin, dlsb), menurut para ahli kesehatan, bisa menghasilkan tar yang menyelinap di balik gumpalan-gumpalan asap. Oleh karena itu, produk nikotin (tembakau) yang tidak dibakar (misalnya yang dipanaskan seperti di HNB) dianggap memiliki potensi risiko kesehatan yang jauh lebih rendah. 

Tentu saja produk tembakau HNB ini merupakan sebuah terobosan dan kemajuan teknologi yang patut diapresiasi oleh semua pihak, termasuk umara dan ulama, apalagi mereka selama ini getol membatasi, melarang, dan mengharamkan “rokok konvensional” dengan alasan kesehatan. Memang selama ini kritik yang sering dilontarkan pada “rokok konvensional”(baik dilakukan oleh otoritas politik, otoritas agama, maupun komunitas anti-rokok) adalah bahwa rokok jenis ini (baik yang kretek maupun non-kretek) dianggap tidak sehat, berpotensi menimbulkan sejumlah penyakit (seperti paru-paru, kanker, jantung, impotensi, dlsb), dan karena itu membahayakan kesehatan tubuh dan keselamatan jiwa para perokok, baik perokok aktif maupun pasif.Selain masalah kesehatan, para kritikus rokok juga menyoroti masalah dampak negatif lingkungan yang diakibatkan oleh–atau ditimbulkan dari–asap rokok maupun puntung rokok. 

Nah, produk tembakau alternatif jenis HNB ini bisa dikatakan bebas dari semua itu: lebih minim risikonya bagi kesehatan tubuh karena diproses dengan cara dipanaskan bukan dibakar dan juga ramah lingkungan karena produk ini bebas asap (free-smoke products). HNB juga tetap tidak merugikan kepentingan para petani tembakau karena bahan dasarnya tetap tembakau. 

Karena produk tembakau alternatif, baik yang jenis HNB maupun bukan, dipandang lebih menyehatkan atau minim risiko dan bahaya bagi kesehatan tubuh inilah maka sebuah studi dari Georgetown University Medical Center di Amerika Serikat (diterbitkan di jurnal ilmiah Tobacco Control, sebuah jurnal yang memuat isu-isu berkaitan dengan dampak kesehatan penggunaan tembakau juga usaha-usaha untuk mengurangi penggunaan tembakau melalui pendidikan dan kebijakan) menyatakan bahwa kalau komunitas perokok di Amerika Serikat beralih ke produk tembakau alternatif, maka sekitar 6,6 juta orang berpotensi terhindar dari kematian dini. 

Jika angka ini diterjemahkan ke Indonesia yang memiliki jumlah pengonsumsi rokok jauh lebih besar ketimbang Amerika Serikat, maka bisa dibayangkan akan semakin banyak nyawa yang bisa diselamatkan dari kematian dini ini apabila para pengguna “rokok konvensional” bersedia atau berkeinginan pindah haluan ke produk tembakau alternatif tadi. Jumlah perokok Indonesia jauh lebih besar dari Amerika Serikat. WHO (World Health Organization) merilis jumlah perokok di Indonesia berada di peringkat tiga besar dunia setelah Cina dan India. Menurut The Tobacco Atlas, Indonesia berada di urutan pertama di ASEAN (sekitar 46,16% dari seluruh penduduk di negara-negara ASEAN) dalam hal pengguna rokok ini. Data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2017 menunjukkan jumlah perokok aktif di Indonesia mencapai sekitar 30%. 

***

Berdasarkan deskripsi, pemaparan, analisis, dan data ilmiah di atas, maka jelaslah bahwa produk tembakau alternatif, apalagi yang jenis HNB, memiliki sejumlah sisi positif dan manfaat buat publik masyarakat dan lingkungan hidup, selain meminimalisir risiko, bahaya, atau dampak negatif lainnya yang ditimbulkan dari proses pembakaran produk tembakau seperti di rokok konvensional. Oleh karena itu tidak ada salahnya jika otoritas politik (pemerintah) maupun otoritas agama (lembaga keulamaan) seperti MUI, Muhammadiyah, NU dan lainnya ikut membahas secara intensif mengenai produk tembakau alternatif ini agar bisa memberi pendidikan publik dan mengeluarkan fatwa secara secara akurat dan valid mengenai hal ini.   

Lebih khusus lagi, mengingat pentingnya perkembangan produk tembakau alternatif jenis HNB ini yang berbeda secara substansial dengan rokok konvensional maupun rokok elektrik, maka tidak ada salahnya jika LBM PBNU kelak mengagendakan masalah ini untuk dibahas secara serius di Munas (Musyawarah Nasional) Alim-Ulama NU maupun di forum-forum bahtsul masa’il lain, serta dicarikan landasan fiqih atau hukum Islam-nya dengan mengacu dan mempertimbangkan berbagai aspek dan alasan secara komprehensif-menyeluruh seperti yang saya paparkan diatas. Semoga bermanfaat. 


Penulis adalah antropolog di King Fahd University of Petroleum and Minerals, Arab Saudi; Direktur Nusantara Institute; dan Penulis buku Polemik Rokok Konvensional dan Potensi Produk Tembakau Alternatif di Indonesia


Bagikan:
Jumat 14 Desember 2018 11:30 WIB
Pendidikan Bina Damai untuk Keamanan Umat Manusia
Pendidikan Bina Damai untuk Keamanan Umat Manusia
Ilustrasi damai (via Selasar)
Oleh A. Rifqi Amin

Penggunaan istilah human security baru dipopulerkan sekitar awal 1990-an. Lebih tepatnya pasca berakhirnya Perang Dingin. Salah satu fungsinya saat itu untuk menjamin “keamanan” umat manusia pada berbagai isu sosial, ekonomi, politik, dan kemanusian. Dengan nilai tersebut, diharapkan dapat meringankan penderitaan manusia secara global. Terbebas dari penyakit, kemiskinan, kelaparan, peperangan, dan lain-lain. Terutama yang berada di negara berkembang. Kemudian pada sekarang ini pemahaman terkait human security mulai dipersempit hanya pada bidang perdamaian (nirkekerasan atau bina damai).

Human security merupakan paradigma baru yang dibangun untuk menjamin keamanan yang tidak hanya dalam sekup wilayah tertentu atau negara, tetapi hingga pada level tiap individu. Artinya, cara pandang tersebut berfokus untuk menjamin hak-hak individu serta menjunjung nilai perdamaian sehingga pada puncaknya tercipta keamanan global. Konsep ini lebih menekankan pada proses tindakan yang cerdas, kreatif, dan damai (nirkekerasan) dalam penyelesaian masalah. Dari sini ditemukanlah pembeda antara human security dengan human devolepment.

Intinya, apa pun itu yang bisa berpotensi merusak perdamaian seperti kekerasan biasa hingga kekerasan ekstrim seperti terorisme bisa diredakan menggunakan pendekatan human security maupun melalui pendidikan bina damai (peace education). Dengan demikian, sudah seharusnya konsep tersebut dijadikan norma (nilai) bersama sehingga menjadi moral luhur yang dijunjung tinggi.  Dengan penerapan etika itu maka setiap individu diharapkan akan terbebas dari rasa takut, ancaman, hingga tindak kekerasan. Baik kekerasan verbal maupun nonverbal. Baik kekerasan yang dilakukan untuk memenuhi faktor kebutuhan biologis hingga faktor ideologis-psikologis.

Manusia dan Kekerasan

Wacana tentang pengembangan human security maupun pendidikan bina damai akan selalu relevan sampai kapan pun. Sebab hubungan manusia dengan kekerasan adalah suatu yang tidak bisa dilepaskan. Dalam perjalanan hidup manusia dari masa prasejarah hingga sekarang ini masalah kekerasan selalu menghiasi. Adapun pembedanya dari masa ke masa terletak pada tingkat besar kecilnya dan pola kekerasan yang dilakukan. Oleh sebab itu, sampai kapan pun permasalahan human security dan pendidikan bina damai sangat penting untuk dikembangkan.

Klaim manusia sebagai makluk berperadaban, berbudi, dan memiliki konstruk cita-cita mulia masih layak dipertanyakan. Alasannya, masih ada manusia yang tidak berbudi, tidak beradab, dan tidak punya visi misi mulia. Tidak sulit dijumpai individu yang berlabel manusia sadis, perusak, dan tak beradab. Bisa dikatakan mereka dapat disebut individu anti-human security. Yakni, manusia mekanis-pragmatis yang hanya fokus pada kepentingan diri. Tanpa peduli terhadap kemanan dan hak damai yang dimiliki manusia lainnya.

Hubungan manusia dan kekerasan dalam sejarah memiliki kenyataan yang tak terhindarkan. Pada zaman dulu kekerasan (memberi ancaman, menyiksa, dan membunuh) digunakan untuk memuaskan hasrat biologisnya. Mereka bersedia melakukan kekerasan atas nama demi memenuhi hasrat seks dan mendapat makan atau minum yang cukup. Tentu kekerasan dilakukan juga demi menjaga wilayah kekuasaan atau bahkan untuk mendominasi manusia lainnya yang lemah. Waktu itu bentuk kekeresan masih didominasi oleh motif alamiah.

Sekarang, kekerasan yang dilakukan manusia telah berevolusi (bergeser). Kekerasan yang dilakukan tidak lagi terkait masalah ragawi semata. Juga tidak untuk mempertahankan maupun merebut kekuasaan dari pihak lain. Kekerasan dan terorisme dewasa ini dilakukan demi mendapat kepuasan batin hingga sebagai bentuk penyucian diri di hadapan Tuhan. Akibatnya, potensi ancaman seperti itu tidak akan pernah reda bila hanya dengan cara memenuhi kebutuhan fisik pelakunya. Masih diperlukan cara lain dengan pendekatan spiritualis, psikologis, idiologis, dan batiniah melalui pendidikan bina damai. 

Ancaman dan Tawaran Solusi

Aksi kekerasan maupun terorisme sebagai musuh dari human security dan lawan bagi pendidikan bina damai telah mengkhawatirkan keamanan bangsa. Meski beberapa bulan terakhir terjadi penurunan, tapi peluang muncul kembali masih besar. Cuma menunggu situasi dan waktu yang tepat maka bukan mustahil akan meledak di kemudian hari.

Tentu potensi itu tidak hanya pada sumber daya finansial maupun peralatan. Namun, yang patut dikhawatirkan adalah kekuatan doktrin ideologis dan psikologis yang sulit untuk dilacak maupun dihapus. Apalagi bila orangnya tertutup dan bibit radikal terlanjur tumbuh mekar.

Masih banyak ditemui kasus berbagai kalangan yang tak acuh terhadap keselamatan dan keamanan manusia lain. Mereka cenderung peduli hanya pada manusia yang ada di dalam kelompoknya. Konsep human security masih diaplikasikan pada sesama kelompok (dilokalisir). Semangat primodial dan hegemoni simbolis menyebabkan mereka menafikkan komunitas lain. Akibatnya, untuk menunjukkan keunggulan kelompok dengan ringan mereka memberi cap salah, kafir, dan sesat (bidah) pada pihak lain. Bahkan mereka membawa nama Tuhan hingga ancaman masuk neraka untuk menabur keresahan. Tentu tak peduli kondisi psikologis dan sosiologis individu lain.

Dalam menghadapai masalah di atas, salah satu solusi yang bisa ditawarkan adalah melalui media pendidikan. Tepatnya pendidikan bina damai yang bermuatan nilai-nilai human security. Bisa dikatakan pendidikan bina damai menjadi salah satu cara memperkokoh paradigma human security tersebut. Terlebih, semakin elok bila peserta didik sejak dini dibiasakan menggunakan bakat yang dimilikinya untuk menciptakan dan membangun keamanan hidup bagi sesama.

Diharapkan kemudian hari saat menjadi aktivis LSM, aktivis mahasiswa, aktivis kemanusian, dan lain-lain tidak akan melakukan aksinya dengan tindak kekerasan. Misalnya membakar ban bekas, memblokir jalan raya, melempari polisi, mencaci maki pihak lain, atau perbuatan radikal yang semacamnya.

Aksi-aksi ganjil di atas dapat mengganggu keamaan orang lain secara langsung maupun tidak. Menimbulkan kepanikan, kesusahan, dan kecemasan bagi orang lain. Akan jauh lebih baik bila aksi atas nama Tuhan maupun atas nama kemanusiaan dilakukan dengan cara damai, elegan, cerdas, dan kreatif. Misalnya dengan menampilkan wajah agama dengan menggunakan narasi yang positif. Bisa juga dengan berkampanye atau menyalurkan aspirasi melalui media online.

Contoh saja seperti membuat tulisan di blog, meme (tulisan bergambar), video pendek, serangan hastag bersamaan di medsos dan lain-lain. Usaha tersebut akan jauh lebih menarik dan menimbulkan simpati masyarakat. Pada akhirnya tujuan dan pesan perdamaian (human security) yang ingin disampaikan akan mudah diterima masyarakat.

Gampangnya, sebuah kearifankah tatkala ingin memperjuangkan harkat kemanusiaan secara umum tapi di sisi beda malah mengorbankan keamanan manusia lain? Seharusnya ketika seseorang hendak menjunjung nilai kemanusian maka tuntaskan masalah pada diri sendiri terlebih dulu. Apakah ia sudah menerapkan nilai-nilai human security atau belum.

Sebab, ibaratnya melawan api dengan api dengan tujuan menyita perhatian semua pihak maka sebenarnya masalah baru akan muncul. Alih-alih perjuangannya akan mendapat simpati malah sebaliknya akan menjadi blunder. Bukannya membantu membangun peradaban malah merusaknya dalam tempo singkat.

Internalisasi Nilai Human Security

Dalam upaya pencegahan aksi kekerasan hingga terorisme, konsep human security sangat berguna. Bagaimana tidak, dengan nilai-nilai tersebut manusia akan peduli hingga ikut menjaga keamanan manusia lainnya. Artinya, di dalamnya terdapat saling memiliki, mengasihi, percaya, dan terjadi dialog antar sesama manusia. Semua didudukan setara, sederajat, dan tanpa sekat dalam penyelesaian permasalahan kehidupan bersama. Di sinilah akan terjadi saling mengisi. Tidak ada yang merasa terpojok, tertekan, serta tidak ada yang merasa jadi korban akibat kerakusan manusia lainnya.

Harus diakui bahwa para pelaku kekerasan hingga terorisme mayoritas adalah remaja usia sekolah dan kuliah. Dari kenyataan itu wajar bila ada pertanyaan besar apa yang salah dengan pola pendidikan kita? Mengapa sistem pendidikan secara luas gagal dalam mengkader generasinya sehingga tidak sensitif lagi terhadap penerapan konsep human security? Internalisasi nilai apa saja yang sejauh ini ditanamkan dan dibiasakan pada peserta didik? Tentu masalah ini tidak hanya terjadi pada pendidikan formal tapi juga di ranah pendidikan informal hingga nonformal.

Bisa disimpulkan, bahwa internalisasi nilai human security mampu dilakukan melalui pendidikan dalam arti luas. Di mana, pendidikan bina damai yang bermuatan human security tersebut diajarkan sikap peduli (empati) terhadap perbedaan antar manusia lain, menghormati hak asasinya, menghargai keamanan fisik hingga psikologi mereka, serta bisa berdialog maupun bekerja sama secara produktif dengan siapa pun. Dengan itu para peserta didik bisa menjadi manusia yang terbuka (inklusif) baik secara pemikiran maupun dalam pergaulan.

Selain hal di atas, dalam pendidikan bina damai para peserta didik juga diajarkan passing over. Yakni, melompat batas (sekat) pemisah untuk mengenali dan memahami pihak di luar kelompoknya. Bersamaan itu, diharapkan akan tumbuh empati terhadap sesama manusia yang punya perbedaan. Dengan tumbuhnya empati maka nilai luhur dan kebijaksanaan akan bersemi. Konsep itu sesuai dengan tujuan akhir pendidikan secara umum yaitu tercapainya kebijaksanaan. Pada pencapaian tahap ini manusia akan menjadi jauh lebih berderajat tinggi.


Penulis adalah Dosen STAI Hasanuddin Pare, Kediri, Jawa Timur
Kamis 13 Desember 2018 6:0 WIB
Anak dan Moderasi Beragama
Anak dan Moderasi Beragama
Ilustrasi anak (via Telegraph)
Oleh M. Nur Ghufron

Aksi reuni akbar 212 yang berlangsung pada Ahad, 2 Desember 2018 lalu masih menyisakan catatan dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) yang menyayangkan ketika aksi tersebut mengikutsertakan anak-anak. KPAI menghimbau kepada semua pihak untuk tetap memperhatikan hak dan kepentingan terbaik bagi anak secara komprehensif, menghindari mengikutsertakan anak dalam berbagai aksi bahkan dalam pusaran pro dan kontra.

Kekhawatiran KPAI bisa dimaklumi, mengingat bila berbicara tentang perilaku anak baik di masa sekarang maupun di masa mendatang sangat tergantung kepada perilaku orangtua dan lingkungan sekitar. Fakta di lapangan menunjukkan keterlibatan anak dalam berbagai aksi cukup memprihatinkan. Seperti aksi terorisme berupa serangan bom di Sarinah Thamrin pada bulan Januari tahun 2016 melibatkan seorang anak.
 
Kasus pelibatan anak-anak juga terjadi pada bulan Agustus 2016 ketika terjadi serangan terhadap seorang pendeta di Gereja Santo Yosef di Medan yang melibatkan seorang anak berusia 16 tahun. Perakit bom asal Sukabumi yang telah terpapar radikalisme melalui media sosial juga anak yang berusia 16 tahun.

Pada bulan Mei tahun 2018 dikejutkan pula aksi terorisme di tiga gereja di Surabaya yang melibatkan 7 anak. Ketiga anak itu terdiri dari 3 (tiga) tersangka anak-anak teroris di Wonocolo Sidoarjo, 3 (tiga) tersangka anak-anak teroris yang ditangkap di jalan Sikatan dan 1 (satu) anak yang terkait dengan bom di depan kantor Polrestabes Surabaya.

Anak adalah masa depan suatu bangsa,penerus penguasa, pemimpin dan pembuat kebijakan negara serta masyarakat masa depan. Jika mereka tumbuh dengan lingkungan yang harmonis, toleran, damai dan situasi yang menggembirakan, mereka dapat mengembangkan pikiran, sikap dan perilaku mereka dengan sehat dan bijaksana.

Begitu pula sebaiknya, jika anak tumbuh dengan lingkungan yang penuh kebencian, permusuhan dan kekerasan, mereka mengembangkan pula permusuhan, kebencian dan kekerasan itu pada kehidupannya selanjutnya. 

Anak memiliki peranan penting dalam menjaga dan merawat  keberlangsungan negara dan bangsa. Anak memiliki peranan penting dalam merawat moderasi beragama,  kedamaian dan persatuan negara. Sekiranya di negara ini kedamaian pada anak adalah fakta. Bahwa anak menjalani kehidupan dirinya dan masa keemasannya dalam kedamaian, moderasi beragama dan kegembiraan niscaya masa depan bangsa bisa diperkirakan secara damai dan bahagia pula.

Lewat Imitasi

Pada dasarnya, perkembangan kehidupan dunia anak dilakukan dengan cara meniru atauyang dalam istilah psikologi lebih dikenal dengan istilahimitasi atau tiruan. Dalam proses peniruanini, anak akan melihat orang tuanya sebagai tokoh utama yang layak disalin, di-copy atau ditiru selain orang-orang dekat sekitar anak.

Dalam kehidupan nyata, peniruan ini terkait dengan kehidupan sosial, jadi tidak juga berlebihan jika dikatakan bahwa seluruh kehidupan sosial terinternalisasi pada anak-anak berdasarkan faktor imitasi. Jadi, secara umum meniru adalah proses atau tindakan sosial oleh seorang anak untuk meniru orang lain melalui sikap, penampilan gaya hidup, bahkan apa yang dimiliki oleh orang lain.

Albert Bandura adalah pencetus teori tentang imitasi. Salah satu eksperimen sangat terkenal yang dilakukannya adalah mengenai eksperimen Bobo Doll yang ditelitinya pada tahun 1961 dan 1963. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa Anak-anak mengamati karakter di televisi contohnya, dan mengulangi lagi apa yang didengar atau dilihat.

Jadi mereka tidak perlu melakukan sendiri beragam perilaku secara acak dan berharap mengetahui mana yang akan dihargai mana yang tidak. Hasil penelitiannya ini menegaskan bahwa anak- anak meniru apapun yang ada di sekitarnya dengan luar biasa seperti perilaku agresif dari orang dewasa di sekitarnya.

Imitasi adalah perilaku yang sangat penting untuk anak-anak. Proses imitasi atau imitasi berguna untuk perkembangan otak yang optimal. Imitasi adalah interaksi antara anak-anak dan lingkungan yang akan menyebabkan pengalaman baru untuk anak-anak, karena anak-anak belajar dari contoh lingkungan khususnya keluarga. Anak-anak akan melihat orang tua mereka sebagai tokoh utama yang pantas ditiru sebelum meniru orang lain. 

Selain imitasi pada keluarga, proses imitasi atau peniruan kebanyakan dilakukan oleh anakmelalui penyajian contoh perilaku (pemodelan) atau proses pembelajaran terjadi ketika anak mengamati dan meniru perilaku orang lain, bisa secara langsung maupun dari tayangan televisi, media elektronik maupun media sosial.

Imitasi dihasilkan ketika anak melihat model atau orang lain melakukan sesuatu dengan cara tertentu dan mendapatkan konsekuensi dari perilaku itu. Anak akan meniru tindakan yang sama persisdilakukan oleh pihak yang ditiru seperti penampilan (performance), sikap (attitude), perilaku, gaya hidup  dan apapun yang dimiliki oleh tokoh idola. 

Peniruan sebenarnya tidak terjadi secara langsung akan tetapi melalui proses seperti didahului dari  menerima, dan sikapkagum pada apa yang akan ditiru.Meniru pada orang-orang terdekat seperti dari keluarga, orang dewasa sekitar anak  dan dari paparan informasi yang anak dapatkan. Peniruan atau imitasi yang baik akan membentuk kepribadian anak ke arah yang baik, sebaliknya jika peniruan yang buruk akan membentuk anak pada hal yang buruk juga. 

Hal yang sama berlaku untuk kehidupan beragama pada anak-anak, yang pada awalnya anak meniru perilaku orang dewasa dalam ibadah. Meskipun apresiasi agama di antara anak-anak yang sebenarnya belum ada keseriusan, karena tingkat perkembangan pikirannya masih baru tiruan. Melalui peniruan, anak belajar hal-hal berkaitan keagamaan, nilai-nilai dan norma-norma di masyarakat. Anak meniru cara beribadah, sikap beribadah, perilaku dalam beribadah.

Anak juga meniru berbagai kegiatan keagamaan lainnya seperti dalam bermuamalah dengan anak lainnya seperti mengucap salam dengan santun pada anak muslim lainnya atau cara bersalaman dengan baik. Melalui imitasi anakpun juga akan meniru pada sikap keagamaan yang anti kelompok lain atau agama lain bahkan bagaimana memperlakukan atau bahkan menghormati kelompok agama lain. 

Akhirnya, sosok anak merupakan peniru hebat yang seyogyanya mendapatkan contoh, tiruan positif dariorang dewasa, lingkungan sekitar, dan asupan informasi yang baik. Selain itu, kegiatan keagamaan dilakukan dengan intensif, melakukan kegiatan keagamaan secara santun, damai tanpa menumbuhkan kebencian bahkan perilaku kekerasan pada satu golongan atau tokoh serta dilakukan dengan penuh keceriaan dan kebahagiaan, dengan harapan anak-anak ini akan meniru perilakunya di masa mendatang. Bukankah anak adalah alasan utama untuk memulai kehidupan yang lebih baik?


Penulis adalah Pemerhati Masalah Anak dan Agama, Dosen Psikologi IAIN Kudus, Jawa Tengah
Kamis 13 Desember 2018 5:0 WIB
Belajar dari Humor Gus Dur
Belajar dari Humor Gus Dur
Oleh Muhammad Makhdum 

Bagi bangsa ini, sosok Gus Dur tidak hanya banyak jasanya, banyak kontroversinya, tetapi juga banyak humornya. Saking piawainya dalam memancing tawa, beberapa tokoh memberi “gelar” Doktor Humoris Causa sebagai penghormatan kepada Gus Dur. Humor-humor Gus Dur sangat situasional, bisa muncul kapan saja, di mana saja, dan dengan siapa saja. Mulai dari obrolan remeh-temah hingga di acara-acara formal yang sejatinya humor menjadi tabu untuk disampaikan. Humor Gus Dur benar-benar mampu mencairkan suasana dan mengendorkan urat yang tegang. Bagi Gus Dur pribadi, humor seolah menjadi obat penawar dan vitamin yang dapat menjaga kesehatan di tengah aktivitasnya yang sangat padat dan melelahkan. 

Konon, humor Gus Dur sangat dipengaruhi oleh tradisi pesantren dan Nahdlatul Ulama (NU). Dalam lingkungan pesantren dan NU, humor adalah makanan sehari-hari dan menjadi ciri khas yang membedakan NU dengan kelompok lain. Dalam berbagai kesempatan, bisa disaksikan bahwa para kiai NU di semua tingkatan juga sangat lihai dalam urusan mengocok perut ini. Konon, kurang lengkap rasanya jika menjadi pengurus maupun aktivis organisasi NU tetapi tidak bisa melucu. Sudah barang tentu, pergaulan Gus Dur yang sangat luas juga turut mempertajam sense of humor-nya. 

Humor Gus Dur melintasi sekat-sekat peristiwa. Hampir semua lapisan masyarakat mengenal dan menikmati humor-humor Gus Dur. Mulai dari kalangan rakyat biasa, tokoh bangsa, hingga para pemimpin dunia seperti Presiden AS Bill Clinton dan presiden Perancis Jacques Chirac. Bahkan Raja Fahd Saudi dan presiden Kuba Fidel Castro yang terkenal “angker” dan jarang tersenyum bisa ngakak di depan Gus Dur. Berbagai dokumentasi Gus Dur yang tertawa lebar bersama para pemimpin dunia menjadi bukti bagaimana beliau menjadikan humor sebagai alat diplomasi dan membangun dialog peradaban. Lebih jauh, humor seolah menjadi irisan penting perjuangan Gus Dur dalam menebarkan gagasan keislaman, keindonesiaan, dan kemanusiaan. 

Dalam buku Gus Dur Hanya Kalah dengan Orang Madura (2010), Kang Sobary, seorang budayawan berujar bahwa Gus Dur menjadikan humor sebagai ekspresi kejengkelan, kemarahan, penolakannya terhadap suatu hal, atau kepada sesuatu yang dibenci masyarakat dengan cara jenaka. Gus Dur menjadikan humor sebagai senjata untuk melancarkan kritik sosial. Jika penolakan dilampiaskan secara agresif dan terbuka, maka akan muncul kekacauan. Di sinilah letak kecerdasan dan kearifan Gus Dur dalam menyikapi suatu masalah. 

Saat mengkritik budaya minta petunjuk para menteri Pak Harto, Gus Dur memiliki humor yang cukup menggelikan. Suatu hari, tiga orang wanita cantik diterjunkan dalam tiga pulau terpencil. Masing-masing pulau dihuni oleh dua orang bule, dua karyawan, dan dua menteri Pak Harto, yaitu Moerdiono dan Harmoko. Begitu melihat wanita cantik, kedua bule saling berpandangan, sebentar kemudian menyerang dan membunuh si wanita. Usut punya usut, kedua bule tersebut homoseks dan tidak ingin kehadiran si wanita mengganggu hubungan mereka. Saat wanita kedua diterjunkan di pulau yang dihuni dua orang karyawan, kedua karyawan saling berpandangan, sesaat kemudian bersaing dan saling membunuh. Sudah barang tentu karyawan yang menang merasa berhak atas wanita tersebut. Terakhir, wanita ketiga diturunkan di pulau yang dihuni oleh Moerdiono dan Harmoko. Melihat wanita cantik, keduanya pun saling beradu pandang, lalu keduanya saling menganggukkan kepala sambil kompak berucap, “mari kita tunggu petunjuk dari Bapak Presiden”. 

Gus Dur menyebut bahwa humor sangat efektif menjadi alat perlawanan. Masyarakat dapat melontarkan pandangan kritisnya terhadap kekonyolan, ketidakadilan, atau sistem yang membelenggu. Selain mengkritisi orang lain, humor juga berfungsi untuk mengkritisi dan menertawakan diri sendiri. Humor juga menjadi penanda kecerdasan dan kebijaksanaan seseorang. Konon, seseorang belum dikatakan arif dan bijaksana jika belum mampu mengejek dan menertawakan diri sendiri. 

Dalam sebuah cerita yang dituturkan oleh Muhammad AS. Hikam, Gus Dur pernah menganalisis isi otak para Presiden di Indonesia. Yang pertama, Gus Dur mengatakan jika Bung Karno memiliki otak kanan yang lebih unggul, hal ini karena dia menyukai seni dan keindahan. Selanjutnya, Gus Dur menyebut, Presiden BJ Habibie memiliki otak kiri yang lebih unggul karena merupakan seorang teknokrat dan insinyur handal. Nah, saat ditanya bagaimana isi otaknya sendiri, Gus Dur dengan santai menjawab, "Otak kanan dan kirinya sama-sama unggul, tapi sayang keduanya nggak pernah nyambung". 

Humor dan Politik
Bagi Gus Dur, humor dan politik tidak dapat dipisahkan. Dalam konteks politik, humor bisa mengurangi tensi kekerasan, konflik, dan menghindarkan dari ketegangan yang berlarut-larut. Persoalan yang pelik kadang dapat diselesaikan lewat humor. Ini dapat dibuktikan bagaimana ruang sidang DPR/MPR menjadi riuh rendah oleh tawa manakala Gus Dur berpidato, padahal sebelum Gus Dur menjadi presiden, ruang sidang tersebut seolah angker dan menjadi tempat yang makruh tertawa. Demikian pula di istana negara, sebuah tempat yang dulunya penuh dengan aturan dan protokoler yang ketat, menjadi lebih ceria dan berwarna karena Gus Dur. 

Saat menjadi presiden, Gus Dur sering dikritik menghambur-hamburkan uang negara karena seringnya melakukan lawatan ke luar negeri. Bukan Gus Dur namanya jika tidak bisa menjawab kritikan tersebut melalui humor. Di depan wartawan, Gus Dur kemudian menceritakan kehebatan masing-masing presiden RI. Kata Gus Dur, presiden Soekarno sangat hebat karena seorang negarawan, Presiden Soeharto hebat karena menjadi hartawan, presiden Habibie tidak kalah hebat karena seorang ilmuwan, sementara Gus Dur menyebut dirinya sendiri juga “hebat” karena menjadi wisatawan. 

Belajar dari Humor Gus Dur 
Mengutip Alissa Wahid, putri Gus Dur, bahwa saat ini Indonesia sedang mengalami darurat tertawa, alias darurat komedi. Atmosfer kehidupan bangsa ini pengap oleh narasi kebencian dan menebalnya sekat-sekat perbedaan akibat ketegangan politik yang berkepanjangan. Masing-masih kelompok merasa diri paling benar, tetapi kebenaran itu seperti dibungkus oleh aura kemarahan. Perbedaan sudut pandang menjelma menjadi jurang permusuhan. Di sisi lain, para elit politik cenderung mengabaikan narasi perdamaian, sebaliknya rajin mengumbar statemen yang dapat memperkeruh keadaan. 

Dalam kondisi demikian, humor menjadi penting dan menemukan relevansinya. Masyarakat perlu dihibur kembali dengan humor-humor yang menyegarkan, mencerdaskan dan menggugah kesadaran. Para tokoh bangsa, pemuka agama, maupun elit politik semestinya harus belajar menggunakan humor sebagai alat komunikasi publik, menciptakan humor sebagai pereda konflik. Dari sudut pandang kekuasaan, humor mampu mendekatkan jarak antara penguasa dengan rakyat jelata. 

Humor memang urusan “sepele”. Akan tetapi, di tangan Gus Dur humor menjadi ikhtiar serius untuk menjaga nalar bangsa agar tetap dalam kewarasan. Lebih dari itu, Gus Dur memberikan pelajaran bahwa melalui humor, hidup manusia menjadi lebih ringan, ceria, dan penuh dengan cinta. 


Penulis adalah Guru SMP Negeri 2 Tambakboyo, Ahlul Ma’had Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang. 

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG