IMG-LOGO
Trending Now:
Pustaka

Mata Rantai Keilmuan Kiai Sarang

Senin 17 Desember 2018 11:0 WIB
Bagikan:
Mata Rantai Keilmuan Kiai Sarang
Kealiman seorang santri tidak dapat dipisahkan dengan kiainya, yang menggulo wentah (mengajar) dengan penuh kesungguhan. Selain tirakat lahir, mereka juga tirakat batin, dengan selalu mendoakan santrinya agar menjadi orang yang dapat meneruskan perjuangannya dalam mengemban amanah, menyebarkan agama Islam. Ilmu yang diajarkan, bukan sekedar ilmu biasa, namun ilmu tersebut bersambung dengan sumber aslinya, shâhibu al-syari’ah, baginda Nabi Muhammad SAW.

Kesinambungan keilmuan tersebut dirawat dengan adanya sanad atau silsilah keilmuan yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi yang selanjutnya hingga sampai sekarang. Ilmu sanad ini hanya dimiliki oleh umat Islam, tidak selainnya, sehingga kitab suci selain Al-Qur’an, rawan mengalami sebuah distorsi (tahrif) di dalamnya.

Tradisi keilmuan di Pesantren Sarang sangat erat dengan transmisi silsilah keilmuan, sanad. Setiap usai menghatamkan sebuah kitab, semisal Shahih Bukhari, maka kiai atau ustadz yang mengampu mata kuliah akan membacakan riwayat keilmuannya yang diriwayatkan dari gurunya hingga kepada pengarang kitab Shahih Bukhari, yaitu Imam Bukhari.

Selain pembacaan sanad kitab, juga terkadang dibacakan silsilah keilmuan fiqih Mazhab Syafi’i melalui mata rantai emas, silsilatu al-dzhab, yang diriwayatkan dari ulama alim yang menjadi rujukan pada zamannya, seperti silsilah keilmuan yang diriwayatkan Kiai Zubair Dahlan, ayahanda Kiai Maimoen Zubair dari Syekh Said al-Yamani (murid Syekh Ahmad Zaini Dahlan), Syaikh Hasan al-Yamani (murid Sayyid Umar Syatha), Syekh Ibnu Maya’ba al-Syinqithi (murid Syekh Mahfudz al-Termasi), Syekh Baqir al-Jukjawi (murid Syekh Mahfudz al-Termasi dan Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi), dan Kiai Faqih Maskumambang (murid Syekh Mahfudz al-Termasi). Semua silsilah ini jika ditelusuri akan berhujung kepada silsilatu al-dzahab, sebagaimana yang dikupas dalam buku ini.

Selain tradisi riwayah, Kiai Zubair Dahlan sangat menekankan dirayah, bahkan ini yang lebih diunggulkan. Oleh sebab itu, maka tidak mengherankan jika muridnya banyak menjadi seorang ulama atau nibras (cahaya) dalam bidang masalah pengembangan agama Islam ketika mereka sudah berkiprah di tengah masyarakat.

Di antara muridnya adalah Kiai Maimoen Zubair, Kiai Muslih ibn Abdurrahman al-Maraqi (Mranggen), Kiai Ustman al-Maraqi, Kiai Muradi al-Maraqi, Kiai Hisyam Cepu, Kiai Sahal Jepara, Kiai Ridwan Bangilan, Kiai Jauhari Jember,  Kiai Bisyri al-Hafi Cepu, Kiai Masyhudi Merakurak, Kiai Manfuri Merakurak, Kiai Habib Sayyid Zaen al-Jufri, Kiai Abdul Fattah Sendang, Kiai Shiddiq Sendang, Kiai Muslih Tanggir, Kiai Abdul Khaliq Laju, Kiai Masyhudi Senori,  Kiai Kurdi al-Makki, Kiai Matin Mas’ud Cilacap, Kiai Shiddiq Narukan, Kiai Sahal Mahfudz Kajen, Kiai Abdul Wahab Sulang, Kiai Syahid Kemadu, Kiai Dahlan Surabaya, Kiai Ghazali Bojonegoro, Kiai Fayyumi Siraj Kajen, Kiai Tamam Siraj Pamotan, Kiai Ibrahim Karas, Kiai Humaidi Narukan, Kiai Syifa Makam Agung, Kiai Abdul Ghafur Senori, Kiai Harun Kalitidu, Kiai Masyhudi Madiun, Kiai Mursyid Klaten, Kiai Abu Thayyib Solo, Kiai Hambali Demak, Kiai Sholeh Kragan, Kiai Masyhudi Blora, Kiai Abdussalam  Rengel, Kiai Syaerozi Cirebon, Kiai Izzudin Cirebon, Kiai Nashiruddin Cirebon, Kiai Idris Marzuqi (pengasuh Pesantren Lirboyo), Kiai Islahudin Dukuhseti, Kiai Muslim Mranggen, Kiai Dimyathi Rais Kendal, Mbah Dim Ploso, Kiai Nawawi Sidogiri, Kiai Hasani Sidogiri, dan lain-lain.

Dalam buku ini, Amirul Ulum, sang penulis biografi ulama Nusantara, mengupas dengan detail manaqib atau biografi Kiai Zubair Dahlan, mulai dari  masa kecil hingga wafat. Sumbangsihnya dikupas dengan bahasa yang mudah dipaham, terutama bagi kalangan pesantren.

Kontribusi Kiai Zubair Dahlan yang dikupas dalam buku ini di antaranya, keberhasilannya dalam mendidik santrinya, bertafaqquh fiddin, melanjutkan tradisi keilmuan baginda Nabi Muhammad SAW, menjadi pimpinan pejuang dalam mengusir penjajah dan mempertahankan kemerdekaan (ketika terjadi Agresi Militer Belanda), menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat, pengabdiannya dalam organisasi Nahdlatul Ulama, menjadi Syekh Haji, jaringan-jaringannya, baik lokal maupun internasional (melalui media Haramain), dan lain-lain.

Tak kalah pentingnya, dalam buku ini telah dikupas tentang sifat mulia Kiai Zubair Dahlan yang sangat memperhatikan kehidupan fakir dan miskin. Setiap usai menjalankan salat Jum’at, ia sering mengunjungi rumah-rumah penduduk, terlebih kaum fakir dan miskin. Ia mendermakan sebagian hartanya untuk berbagi kepada orang yang membutuhkan. Ia juga mengajak  kepada hartawan di wilayah Sarang dan sekitarnya untuk ikut mendermakan harta mereka.

Ia sangat dermawan sekali, meskipun kenyataannya, ia bukanlah orang yang kaya. Sebab kedermawanannya ini, maka tidak mengherankan jika ia sangat akrab dan disegani oleh kaumnya. Tentang kefakiran Kiai Zubair Dahlan, Kiai Maimoen Zubair mengatakan, “Beliau (Kiai Zubair Dahlan) adalah salah satu Masyayikh Sarang yang hidup dalam kondisi fakir dan wafat juga dalam keadaan fakir.”

Selain mengupas tentang biografi Kiai Zubair Dahlan, pemikirannya, jaringannya, dan kiprahnya untuk agama dan bangsanya, buku ini juga mengupas sebagian manaqib Masyayikh Sarang seperti Kiai Ghozali al-Sarani, Kiai Umar al-Sarani, Kiai Syu’iab al-Sarani, Kiai Fathurrahman al-Sarani, dan Kiai Ahmad Syu’aib al-Sarani.

Kejayaan Pesantren Sarang dimulai pada zaman Kiai Umar al-Sarani dan Kiai Syu’aib al-Sarani. Pada masa kepengasuhannya, Pesantren Sarang diserbu banyak thalabah dari berbagai kawasan, khususnya pulau Jawa.

Mereka banyak menjadi orang berpengaruh ketika kembali ke kampung halamannya seperti Kiai Khalil Kasingan, Kiai Baidlowi al-Lasemi (Rais Akbar Thariqah Ifadhiyyah Nahdlatul Ulama dan pencetus gelar Soekarno, huwa waliyyul amri adh dharûry bi al-syaukah), Kiai Ridwan Mujahid (pendiri Nahdlatul Ulama), Kiai Ma’shum Ahmad (pendiri Nahdlatul Ulama), Kiai Muhaimin al-Lasemi (pendiri Dar al-Ulum (Makkah) dan pengajar di Masjidil haram), Kiai Bisri Syansuri (pendiri Nahdlatul Ulama), dan lain-lain.

Persesensi adalah Dwi Oktaviani Kurniawati, pemerhati Kajian Sejarah Ulama Nusantara

Identitas buku:
Judul Buku: KH Zubair Dahlan: Kontribusi Kiai Sarang untuk Nusantara & Dunia Islam
Penulis: Amirul Ulum
Penerbit: Global Press Yogyakarta
Tebal: 452 halaman (xxxii + 420)
ISBN : 978-602-5653-24-7
Tags:
Bagikan:
Ahad 16 Desember 2018 11:0 WIB
Kisah Lucu di Neraka
Kisah Lucu di Neraka
“Waktunya makan malam,” kata malaikat itu sambil menyodorkan duri-duri beracun dan bangkai babi. “Minumnya ambil sendiri di sana,” lanjutnya sambil menunjuk ke sebuah galon berisi darah-darah panas.
Mereka bertiga menggangguk.

Setelah malaikat itu pergi, mereka melanjutkan obrolan. Tampaknya mereka sudah terbiasa makan bangkai babi atau duri beracun. Bangkai babi itu rasanya seperti steak kalau di dunia, duri-duri itu seperti bandeng presto. Minuman darah sudah mereka anggap semacam soda gembira yang melegakan tenggorokan.

Penggalan di atas, merupakan sedikit kreasi imajinatif yang tergambar dalam kumpulan cerpen ini. Cerita ini berjudul “Trik Ahli Neraka” yang menggambarkan mengenai bagaimana keseharian kehidupan di neraka dan segala aktifitasnya. Dalam kutipan di atas tak terlihat bagaimana kerasnya neraka, justru yang terlihat adalah sebuah rutinitas keseharian selayaknya hidup sekarang. 

Kisah ini bercerita mengenai tiga pendosa yang tinggal di neraka dan berusaha untuk menyusup ke surga. Ketiga tokohnya adalah sapto sebagai pezina, Rojam sang plagiator tulisan-tulisan, dan Ciyus yang merupakan koruptor. Konflik terjadi antara para penghuni neraka yang diprakarsai oleh ketiga orang tersebut, dengan para malaikat penjaga neraka. Konflik berikutnya yang muncul adalah antara Sapto dengan keduanya dimana Sapto menipu kawan-kawannya mengenai jalur menuju surga.

Kisah yang dikemas sangat unik dan ramah bagi pembaca. Dunia neraka yang sering digambarkan dalam kengerian yang tak terbanyangkan, ditarik menjadi aktiitas keseharian selayaknya manusia hidup di dunia (tentunya dengan siksa yang menjadi rutinitas). Racikan katanya juga mudah dipahami bagi semua kalangan, karena memang ada beberapa cerpen yang disampaikan melalui puitisasi kata-kata atau narasi yang rumit untuk dipahami dalam sekali baca.

Secara umum buku kumpulan cerpen karya Hilmi ini nyaman di mata dan mudah membuat tertawa. Beberapa kisah mungkin hanya bisa dipahami oleh kalangan pesantren saja, semisal kisah “Puntung Rokok di Toilet Pondok”, “Daenuri Ketemu Dinawari”, “Barokah”, dan “Seminar Nasi Pecel” yang membahas tentang setitik kehidupan dalam dunia pesantren. Hal ini mungkin tidak terlepas dari backgroun pesantren yang dimiliki oleh penulis. 

Gaya diksi yang digunakan sangat variatif. Misal kita lihat pada cerpen yang berjudul “Bunga Sya’ban”. Terlihat bagaimana penulis menggunakan majas personifikasi –penggambaran dengan hal yang mati lalu membuatnya seakan-akan hidup- dalam mengungkap bulan Sya’ban dan Ramadhan.

Sya’ban tersenyum mendengar tekadku yang baru. Lalu ia meraih gelas yang ada di depannya. Melanjutkan tegukannya. “Nanti kalau ramadan ke sini, jangan sampai kau suguhi dia minuman seperti ini saat matahari masih tergantung di langit. Ia juga berpuasa. Ajak ia berbuka bersama.”

Kisah ini mengutarakan mengenai nilai keutamaan bulan Sya’ban. Sya’ban diibaratkan selayaknya tamu yang datang kepada seseorang dan membawa bunga-bunga yang wangi. ‘Bunga’ di sini menjadi pengibaratan dari jumlah hari yang ada pada bulan Sya’ban. penulis berusaha menyampaikan bahwa tak semua orang mendapat keutamaan bulan Sya’ban ini. Hanya orang tertentu yang memiliki niat dan tekad yang tulus yang dapat menghirup harum wangi bunga yang dibawa oleh bulan Sya’ban. Dari sini terlihat bagaimana cara penulis dalam menyampaikan nilai-nilai agama dalam cerpennya.

Ada sedikit kesulitan untuk memahami nilai yang dimaksud saat membaca kisah “Arwah Seorang Putri”. Kesan kisahnya seperti semacam drama umum yang sering dilihat dalam acara televisi. Sehingga terkesan biasa-biasa saja. Namun akhirnya disadari bahwa ada nilai toleransi agama yang kuat dan tersirat dalam kisah ini.

Istriku seorang muslimah yang telah menghafal kitab sucinya. Dihormati di antara umat muslim yang lain. Sedangkan aku seorang komunis kantoran yang tentu sangat dibenci oleh mereka.

Walaupun begitu, kami tetap bisa serumah, sekamar, bahkan seselimut.

Sebagai sebuah karya yang lahir dari rahim pesantren, karya ini sangat perlu untuk diapresiasi dan ditularkan kepada santri-santri lain. Hilmi yang masih nyantri di Jombang ini menunjukkan bahwa seorang santri harus kreatif. Dalam pengantarnya tersirat bahwa si pengarang berusaha menyampaikan nilai keagaman dan kehidupan melalui kumpulan cerpennya ini. Jadi, para pembaca silahkan bersiap-siap untuk tersenyum sendiri saat membacanya.

Kisah Lucu di Neraka
Judul Buku : Trik Ahli Neraka
Pengarang : Hilmi Abedillah
Penerbit : Mitra Karya
Cetakan : I / Maret 2018
Kota Terbit : Tuban
Tebal Buku : 189 Halaman 
Peresensi : Muhammad Miftahuddin, Pimpinan redaksi Majalah Aksara, Pimpinan redaksi www.aksaraonline.com,  Wakil II Pimpinan Umum Majalah Suara Pandanaran, dan Kontributor www.bangkitmedia.com

Jumat 14 Desember 2018 21:30 WIB
Mengenal Rasulullah dari Imam At-Tirmidzi
Mengenal Rasulullah dari Imam At-Tirmidzi
Bagi Anda yang tengah gundah-gulanah mencari referensi sosok manusia paling Agung, Nabi Muhammad SAW saya sarankan untuk membaca buku, Mengenal Rasulullah Lebih Dekat, sebuah karya dari Imam Tirmidzi, yang kualitas keilmuannya sudah tak diragukan lagi, apalagi ihwal hadits nabi yang diriwayatkan olehnya.

Buku yang sudah dialih bahasakan dari Arab ke Indonesia ini, memuat secara spesifik tentang keadaan Rasulullah SAW dari fisik hingga busur panah. Dari bentuk cincin hingga baju besi yang dipakainya dalam peperangan. Yang kesemuanya membuat kita akan lebih karib lagi mengenal sosok pembawa syafaat tersebut. 

Sejalan dengan ironi hari ini, saat saya ditanya, siapa sosok idaman kamu? Maka, dengan sangat trengginas saya katakan: Radtya dhika, Tora sudiro, Syahrini dan sederet nama artis lainnya. Tanpa secuil pun menyebut nama Rasulullah. Sebaliknya, lebih mencintai tokoh perfilman dan manusia-manusia yang kerap mengumbar dagelan di media sosial dan channel-channel youtube. Alamak! 

Nasib generasi muda Muslim pun tak kalah tragis, mereka masih harus meraba identitasnya. Mencari-cari nilai spiritual yang paling sesuai dan gampang bagi mereka. Yang pada akhirnya, menuntun mereka tak bisa lebih detail lagi mencerna dan mendalami karakter Islam yang sebenarnya.

Walhasil, youtube dan anteknya menjadi surau untuk mengkhidmat ilmu agama, menuai pemahaman singkat yang kadang mengkerdilkan keluasan Islam itu sendiri. Dan parahnya, melahirkan sinisme akut kepada yang berbeda pandangan dengan dirinya. 

Sebab itu, membaca kembali literatur keislaman yang penuh nilai dan teladan harus digalakan sebagai gerakan semesta. Lantaran, dari catatan dan karya para ulamalah kita bisa menemukan gairah keislaman yang sebenarnya. 

Mendapati sosok-sosok kharismatik yang dengan peluh keringatnya menebarkan Islam sebagai rahmatan lil 'alamin.
Salah satunya menziarahi Imam Tirmidzi lewat karyanya, buku yang berasal dari kitab Syamail Muhammadiyah ini mencakup semua tentang nabi Muhammad sebagai teladan paling luhur dan satu-satunya yang patut ditiru. 

Kita akan menemukan kearifan beliau dalam segala bidang; akhlak, ibadah dan muamalah. Semua dikupas tuntas di buku yang diterbitkan Keira Publishing ini. Inilah salah satu trik para ulama dulu untuk mengenalkan Nabinya kepada generasi baru. Membeberkan betapa beliau adalah sumur teladan yang airnya tak pernah habis untuk ditimba. Menyegarkan dada dan kepala.

Seperti, apa yang diriwayatkan oleh Amru bin Ash, “Rasulullah selalu menghadapkan wajah dan bersikap ramah, bahkan kepada orang-orang yang berperilaku paling buruk” (hal. 189). Salah satu upaya Imam Tirmidzi agar generasi Muslim ke depan tak tercerabut akar rumputnya dalam meneladani sosok Rasulullah sebagai contoh paling riil.

Lagi-lagi dalam kehidupan bersosial Rasulullah adalah penuai akhlak paling luhur. Beliau tak pernah marah, kesal apalagi memukul tanpa dasar yang menguatkan. “Rasulullah Saw selalu ceria, berakhlak sederhana, bersikap lemah lembut, tidak kurang ajar, dan tidak pula kasar. Beliau tidak suka berbuat gaduh, tidak berlebihan dalam ucapan, tidak pernah berkata kotor, tidak suka mencela, serta tidak kikir” (hal.190) hadits ini disampaikan oleh sahabat Ali.

Gambaran-gambaran diri Rasulullah yang dapat kita temukan dengan sangat gamblang. Seperti disinggung di atas, buku ini memuat semua apa dan bagaimana diri Rasulullah dengan terang benderang. Seperti bentuk rambut beliau, dikatakan Anas bin Malik, “panjang rambut Rasulullah Saw sampai di setengah telinga beliau” (hal.16).

Atau apa yang diucapkan Hani binti Abu Thalib, “Saya melihat rambut Rasulullah diikat menjadi empat bagian.” (hal.18). Perbedaan pandangan tersebut tak serta merta dihilangkan oleh Imam Tirmidzi, justeru dimasukan agar umat muslim tak monoton dalam memahami pribadi Rasul yang agung.

Tak hanya fisik dan ibadah Rasulullah yang diutarakan dalam buku ini, melainkan pakaian dan busur panah beliau pun disinggung. Dalam hal pakaian, Ummu Salamah meriwayatkan bahwa, “Pakaian yang paling disukai Rasulullah Saw adalah pakaian gamis.”

Disamping itu, ternyata Rasulullah juga menyukai pakaian dari daerah lain. Semisal apa yang diriwayatkan Anas bin Malik, “Pakaian yang paling disukai Rasulullah Saw adalah hibarah (jenis pakaian yang berasal dari negara Yaman). Itulah Rasulullah tidak pernah kaku dalam menentukan segala sesuatu, termasuk fashion.

Imam Tirmidzi telah hadir sebagai salah satu perawi dan juga penulis handal, utamanya hal-hal yang berkaitan dengan diri Rasulullah, telah dipaparkanya sebagai jalan mulia dan pembelajaran Muslim mendatang.

Dari karya ini jualah berhasil menarik beberapa ulama dan imam besar lainnya untuk men-syarahi bahkan membuat tandingannya. Seperti apa yang dilakukan oleh Imam Ibnu katsir, yang menulis Syamail Rasul.

Apapun itu, membaca buku Mengenal Rasul lebih dekat adalah upaya terbaru dalam memberantas amnesia terhadap Rasulullah SAW memamah setiap lekuk dan ritus Nabi SAW menjadi hal yang tak bisa dielakan begitu saja.

Lantaran, mempelajari dan membaca literatur nabawiyyah akan membuat kita semakin bijak dan bestari. Ditambah, gambar riil dari benda-benda juga peninggalan Rasulullah terdapat dalam buku ini. Semakin khidmat dalam membacanya. Yang jelas, buku ini sangat layak menjadi cermin motivasi kehidupan kita.

Identitas buku:
Judul: Mengenal Rasulullah Lebih Dekat
Penulis: Imam At-Tirmidzi
Penerbit: Keira Publishing
Peresensi: Alif Noerul
Rabu 12 Desember 2018 20:0 WIB
Masih Banyak Tokoh NU yang Terlupakan
Masih Banyak Tokoh NU yang Terlupakan
Sebagai organisasi terbesar di Indonesia, bahkan dunia, banyak tokoh yang terlibat dalam membesarkan Nahdlatul Ulama. Secara bersamaan, tokoh-tokoh tersebut terlibat pula dalam pergerakan kebangsaan seperti Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari dan KH Wahab Hasbullah.  Perjuangan tokoh-tokoh itu dilanjutkan generasi NU berikutnya dengan cara dan dalam bentuk berbeda karena yang dihadapi pun berlainan. 

Kini NU berusia hampir seratus tahun. Tokoh-tokohnya, bersama anak bangsa dari elemen lain, telah turut menorehkan perjuangannya untuk umat Islam dan bangsa Indonesia. Tentu saja, jangkauan perjuangan seorang tokoh berbeda dengan tokoh lain. Ada yang fokus di daerahnya masing-masing, ada yang tarafnya nasional dan internasional. Bidangnya pun berbeda-beda. Begitu juga durasinya. 

Selama hampir seratus tahun itu ada perjuangan tokoh NU yang ditulis, tapi justru lebih banyak yang tidak terdokumentasikan. Di dalam buku Membuka Ingatan; Memoar Tokoh NU yang Terlupakan, orang sekaliber Mahbub Djunaidi dan Subchan ZE saja, dianggap terlupakan. Lalu bagaimana tokoh lain seperti Raden Mas Sugeng Yudadiwirya, Sunaryo, dan lain-lain? 

Bukti nya, ketika Kiai Syam’un ditetapkan sebagai pahlawan nasional, warga dan tokoh NU seperti terkaget dengan pertanyaan, apakah kiai tersebut pernah aktif di NU? Kalau iya, bagaimana kiprahnya? Tentu banyak yang tidak tahu karena memang belum ada yang menuliskannya secara utuh.   

Setelah ditelusuri di data-data lama milik PBNU, yaitu di perpustakaan, ternyata dia pernah aktif di NU Serang sebagai seorang yang duduk di syuriyah. Setidaknya, berdasarkan penelusuran catatan absensi muktamar ke muktamar NU, dia pernah mengikuti muktamar NU di Pekalongan 1930 dan Muktamar NU kesebelas di Banjarmasin 1936. 

Selain berjasa dalam perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, KH Syam’un pernah berhasil membangun NU Serang dalam bidang kesehatan. Pada laporan perwakilan NU dari Serang di Muktamar kesebelas itu, NU Serang menyatakan memiliki dua klinik yang berjalan dua tahun. 

Data seperti ini jelas tenggelam, tak diketahui lagi warga NU, apalagi khalayak umum. Sungguh sangat disayangkan. Dan tentu saja, kiai atau tokoh NU yang di daerah lebih banyak lagi yang terlupakan. Dan tentu saja sebagaimana judul buku tersebut, kita harus membuka ingatan untuk tokoh-tokoh yang terlupakan. 

Enam Tokoh NU yang Terlupakan
Buku ini mengupas enam tokoh NU yaitu Fahmi Djafar Saifuddinm, Asmah Sjahruni, Mohammad Zamroni, KH Tolchah Mansoer, H. M. Subchan Z. E., H. Mahbub Djunaidi. Keenam tokoh ini bukan main jasanya, dan sangat dikenal pada masanya, tapi karena tidak banyak dituliskan, dianggap terlupakan. 

Dari keenam tokoh tersebut, sebetulnya Mahbub Djunaidi masih dikenal. Sebagai ketua umum pertama Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), ia setidaknya sering disebut di acara penerimaan anggota baru. Namanya diabadikan di ruangan kantor pengurus besar. 

Tak hanya itu, esai dan segala macam jenis tulisannya, mulai dari mars, puisi, terjemahan, novel, dan terutama kolom-kolomnya. Serta pergaulannya yang luas, ia masih diingat di lintas kalangan, terutama kalangan jurnalis senior.    

Pengasuh pondok pesantren Tebuireng KH Salahudin Wahid dalam pengantar buku tersebut mengatakan, tujuan penerbitan buku ini adalan menumbuhkan kembali ingatan warga NU akan adanya tokoh NU yang terlupakan, bahkan mungkin sudah tidak banyak ingat lagi yang ingat nama mereka. 

“Tokoh-tokoh di buku ini masing-masing memiliki profesi yang berbeda dan karakter yang berbeda, tapi mereka mempunya hal yang sama, semangat pengabdian untuk Indonesia, Islam, dan NU,” katanya. (Pengantar, halaman XII).

Dengan demikian, upaya yang dilakukan Pesantren Tebuireng ini harus didukung dengan cara melakukan hal serupa oleh pesantren lain. 

Peresensi, Abdullah Alawi
 
Identitas Buku
Penulis             : Tim Pustaka Tebuireng
Judul               : Membuka Ingatan; Memoar Tokoh NU yang Terlupakan
Cetakan           : Ke-1, Maret 2017
Tebal               : XIII+497
Penerbit           : Pustaka Tebuireng
ISBN               : 978-602-8805-47-6
 


IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG