IMG-LOGO
Nasional

Pemanfaatan Bank Wakaf Mikro untuk Modal Usaha Gorengan hingga Jamu

Rabu 19 Desember 2018 11:30 WIB
Bagikan:
Pemanfaatan Bank Wakaf Mikro untuk Modal Usaha Gorengan hingga Jamu
Presiden Jokowi di Pesantren Mambul Ma'arif, Jombang
Jombang, NU Online
Kurang lebih dari 41 Bank Wakaf Mikro sudah berdiri di lingkungan pesantren di tanah air oleh pemerintah pusat melalui OJK guna membantu mengembangkan usaha masyarakat di sekitar pesantren. 

Hal ini sebagaimana diungkapkan Presiden Republik Indonesia (RI) H Joko Widodo saat melakukan kunjungan ke beberapa pesantren di Jombang, Jawa Timur, Selasa (18/12). Seperti Pesantren Darul Ulum Rejoso Peterongan, Pesantren Tebuireng, Mambaul Maarif Denanyar, dan Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas.

Orang nomor satu di Republik Indonesia ini mengatakan, keberadaan Bank Wakaf Mikro banyak dimanfaatkan oleh masyarakat dalam berbagai modal usaha. Seperti usaha pisang goreng, usaha kerupuk, bakso hingga modal usaha jamu dan jenis usaha lainnya.

"Saya sudah muter-muter ke pesantren untuk melihat manfaat dari Bank Wakaf Mikro ini. Ada yang dibuat modal usaha gorengan, nasi uduk, bakso, juga jamu dan usaha-usaha lainnya," katanya saat di Pesantren  Mambaul Maarif Denanyar, Jombang.

Ke depan, mantan Gubernur DKI ini akan terus mengunjungi pesantren terlebih pesantren yang sudah didirikan Bank Wakaf Mikro untuk memastikan nilai manfaat dan fungsinya. Pasalnya, pemerintah juga masih bertekad mendirikan bank tersebut di sejumlah pesantren tanah air.

Ia berharap keberadaan Bank Wakaf Mikro tersebut bisa betul-betul memberikan manfaat bagi pelaku-pelaku usaha kecil.  "Artinya keberadaan bank itu betul-betul berguna bagi masyarakat yang ekonominya kecil-kecil. Jangan kita remehkan hal yang kecil, anak saya pun jualan pisang goreng," ujarnya disambut tepuk tangan.

Mantan Wali Kota Solo ini juga menegaskan, pemerintah sembari akan mengevaluasi terkait perkembangan Bank Wakaf Mikro yang sudah berdiri di pesantren-pesantren. Ini dilakukan untuk mengetahui seberapa besar nilai lebih atau peluang usaha masyarakat yang bisa berkembang melalui pemanfaatan Bank Wakaf Mikro.

Di samping itu pula, evaluasi tersebut sebagai bahan kajian di tengah pemerintah berkeinginan mendirikan Bank Wakaf Mikro lebih menjamur di lingkungan pesantren. "Kita juga akan koreksi, setelah kita koreksi dan kita evaluasi akan kita kembangkan lagi untuk pesantren lainnya," ucapnya.

Kepada para nasabah, Jokowi meminta untuk mengalokasikan uang yang dipinjam melalui Bank Wakaf Mikro tersebut digunakan tepat sasaran, yakni untuk pengembangan modal usaha. "Jangan kemudian uang itu dipakai beli televisi dulu, tapi dibuat untuk modal usaha. Baru setelah ada untung ditabung untuk beli televisi dan lainnya," ungkapnya. (Syamsul Arifin/Muiz)
Bagikan:
Rabu 19 Desember 2018 23:0 WIB
Beda Gus Dur dan Derrida
Beda Gus Dur dan Derrida
Gus Dur
Jakarta, NU Online
Langkah politik Gus Dur selaras dengan apa yang diteorikan oleh filsuf asal Perancis Jacques Derrida, the politics of friendship. Namun, di antara keduanya, tidak sepenuhnya sama, ada perbedaan mendasar.

"Kalau Derrida cuma ngomong, cuma buat teori," kata Tony Doludea, peneliti ahli The Abdurrahman Wahid Center Universitas Indonesia, usai diskusi bertema The Politics of Friendship: Gus Dur dan Derrida di Pojok Gus Dur, Gedung PBNU lantai 1, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, Selasa (18/12).

Bang Dul, sapaan akrabnya, juga mengungkapkan bahwa Derrida punya banyak pacar, sedang Gus Dur hanya punya satu istri. Selain itu, Derrida juga tidak pernah mengurusi hal-hal yang berkait konflik.

"Dia hanya mengungkapkannya (realitas di sekitarnya) secara akademis," ujarnya.

Mengutip seorang filsuf, pengajar di Universitas Kristen Papua itu mengungkapkan bahwa filsafat posmodernisme seperti Derrida itu pengkhianatan terhadap filsafat sendiri. 

Hal itu mengingat hanya berada dalam alam pikir saja. Sementara filsafat sesungguhnya, katanya, adalah cara melakoni hidup, bukan hanya untuk berpikir, sebagaimana Gus Dur yang telah melakukannya, menganggap semua orang sebagai kerabatnya.

"Gus Dur telah meneladankan kita nilai-nilai friendship," pungkasnya. (Syakir NF/Muiz)
Rabu 19 Desember 2018 22:0 WIB
Kementan Raih Penghargaan atas Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan
Kementan Raih Penghargaan atas Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan
Jakarta, NU Online
Kementerian Pertanian (Kementan) kembali meraih Penghargaan Anugerah Parahita Ekapraya (APE) Tahun 2018 Kategori Mentor, setingkat Kementerian dan Lembaga (K/L). Penghargaan tersebut diserahkan secara langsung oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla kepada Menteri Pertanian yang diwakili oleh Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Informasi Publik, Kuntoro Boga Andri di Istana Wakil Presiden di Jakarta pada Rabu (19/12).

Penganugerahan ini diberikan oleh pemerintah kepada Kementerian atau Lembaga yang memiliki komitmen dalam upaya mewujudkan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan dalam program dan kegiatan kementerian dan lembaga, serta memiliki inovasi dalam penerapan kesetaraan gender, serta melakukan pembinaan Pengarusutamaan Gender (PUG) kepada K/L lainnya dan pemerintah daerah.

Dalam sambutannya, Wapres menegaskan “Ada tiga isu besar di dunia, yaitu demokrastisasi, perubahan iklim, dan kesetaraan gender. Negara kita memperhatikan dan mengarusutamakan tiga isu tersebut” ujar Wapres JK. 

Wapres menegaskan penghargaan ini merupakan wujud nyata bahwa peran perempuan cukup besar. Peran perempuan di dunia berubah seiring dengan perkembangan teknologi dan kemajuan jaman. Kemajuan pendidikan dan teknologi, menurutnya, telah mengantar peranan perempuan menjadi lebih baik secara sosial politik.

“Ibu mempunyai perbedaan tugas pada masa lalu dan sekarang akibat teknologi. Dulu ibu kita menghabiskan setengah, bahkan sepanjang hari untuk mengurus rumah tangga. Sekarang mungkin hanya sejam,” tambahnya. Wapres juga berharap, perempuan dapat berperan untuk memperbaiki perlindungan anak dimulai dari rumah tangga, daerah, dan secara nasional.

Kuntoro Boga Andri, Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementerian Pertanian menyatakan, “Sejauh ini lebih dari 14 juta perempuan terus melakukan aktivitas di sektor pertanian. Karena itu, akses partisipasi, kontrol dan manfaat sudah menjadi kata kunci dalam melibatkan laki-laki dan perempuan dalam setiap program Kementan” ujar Kuntoro Boga.

Pertanian tidak bisa terlepas dari peran perempuan. Kegiatan usaha tani adalah kegiatan usaha keluarga petani yang banyak diperankan perempuan. Karena itu perempuan tetap dipandang sebagai sumberdaya yang strategis untuk peningkatan produksi pertanian. 

“Kegiatan sosialisasi program dan kegiatan tidak hanya melibatkan anggota kelompok tetapi juga mengikutsertakan perempuan sebagai anggota keluarga petani. “Pemberdayaan perempuan di sektor pertanian menjadi salah faktor penentu dalam efisiensi dan keberhasilan usaha tani” tegasnya. 

Penghargaan yang diterima Kementan adalah salah satu dari beberapa penghargaan dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak tahun ini. KPPPA memberikan penghargaan APE kepada 9 Kementerian dan Lembaga, 22 Provinsi, dan 159 kabupaten dan kota. Kategori mentor merupakan kategori tertinggi dari Penghargaan APE di antara empat kategori yaitu pratama, madya, utama dan mentor. 

Kegiatan PUG di Kementerian Pertanian dimulai sejak tahun 2000 yaitu sejak terbitnya Inpres No 9 Tahun 2000. Pada tahun 2012 Kementerian Pertanian mendapatkan penghargaan APE tingkat pratama, di tahun 2014 mendapat APE tingkat Madya, tahun 2016 mendapatkan APE tingkat Mentor atau Penghargaan tertinggi, dan tahun 2018 ini Kementan kembali meraih penghargaan tingkat Mentor.

Beberapa fasilitas dan dukungan layanan dalam Kementan dianggap telah memenuhi standar, seperti layanan ruang laktasi pada setiap kantor layanan perkarantinaan pertanian dan di kantor pusat, koridor untuk disabilitas masuk ke gedung perkantoran, layanan Penitipan Anak (TPA). Ada pula taman kanak-kanak, ruang klinik kesehatan, serta kegiatan pembinaan perempuan lainnya yang diselenggarakan oleh Korp Pegawai Kementan. (Red: Ahmad Rozali)
Rabu 19 Desember 2018 21:50 WIB
Generasi Milenial Bisa Jadi Pemersatu di Tengah Derasnya Hoaks dan Kampanye Politik
Generasi Milenial Bisa Jadi Pemersatu di Tengah Derasnya Hoaks dan Kampanye Politik
Pemuda Anti Hoaks (Tirto)
Jakarta, NU Online
Di tengah maraknya konten hoaks dan kampanye politik yang saling menyerang di media sosial, generasi milenial dianggap memiliki potensi besar untuk membangun keutuhan bangsa melalui kegiatan positif, misalnya dengan ajakan untuk membuat konten yang damai dan menyejukkan.

“Intinya bagaimana generasi milenial mendukung pilihan itu dengan cara-cara santun, sopan, dengan menyampaikan kebaikan. Suarakanlah pesan-pesan yang bisa mendorong pesta demokrasi berjalan lancar, aman, dan damai, terlepas, siapa Capres dan Cawapres yang dipilih,” kata Staf Ahli Menko Polhukam Sri Yunanto, Rabu (19/12). 

Konten positif semakin dibutuhkan di tengah derasnya informasi di era digital saat ini. Menurut laporan terbaru Kemkominfo terdapat sekitar 800 ribu situs penyebar hoaks dan minimal dua konten hoaks ditemukan di berbagai media oleh Kemkominfo selama bulan November 2018.Sehingga, meski di satu sisi, medsos banyak membawa dampak positif, namun medsos juga memiliki efek negatif yang luar biasa seperti hoaks (berita bohong),ujaran kebencian, dan adu domba  

Ia mengatakan bahwa saat ini, masyarakat perlu lebih jeli pada berita hoaks, ujaran kebencian dan fitnah yang kerap didapatkan di media sosial. Sebab kalau orang percaya fitnah dan hoaks, ujung-ujungnya pasti akan membenci dan melemahkan kerukunan dan persatuan.

“Paling penting sekarang generasi milenial dalam semangat bela negara bisa melakukan kegiatan sesuai posisi dan keahliannya,” imbuhnya.

Dengan terhindar dari konten negatif di media sosial, lanjutnya, generasi milenial lebih mudah meraih prestasi di berbagai bidang, baik itu akademik, profesi, olahraga, membangun bisnis berbasis IT dan start up.

Ia mengatakan bahwa membela negara bisa ditempuh dengan berbagai cara, dan cara terbaik yang bisa ditempuh oleh generasi milenial adalah dengan mengampanyekan konten positif. “Intinya bela negara itu adalah mencinta negeri ini. Kalau mencintai pasti akan membela mati-matian,” ujarnya. (Ahmad Rozali)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG