IMG-LOGO
Daerah

Ansor Jateng Wajibkan Peserta PKL Bisa Baca Kitab Kuning

Kamis 20 Desember 2018 12:0 WIB
Bagikan:
Ansor Jateng Wajibkan Peserta PKL Bisa Baca Kitab Kuning
tes baca kitab kuning
Semarang, NU Online
Pimpinan Wilayah (PW) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Jawa Tengah, menerapkan persyaratan baru untuk calon peserta kaderisasi, yakni Pelatihan Kepemimpinan Lanjutan (PKL) untuk Ansor dan Kursus Banser Lanjutan (Susbalan) untuk Barisan Ansor Serbaguna (Banser).

Persyaratan tersebut yakni calon peserta harus mampu membaca kitab kuning, yang merupakan salah satu keahlian yang lazim dimiliki kader Ansor Banser.

Menurut PJ Kasatkorwil Banser Jawa Tengah, Muchtar Ma’mun, sesuai dengan ketentuan peraturan organisasi (PO) GP Ansor, untuk mengikuti PKL dan Susbalan, masing-masing calon peserta harus memenuhi syarat yang ditentukan.

Calon peserta PKL, minimal sudah mengikuti Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD)  dalam rentang waktu satu tahun. Sedangkan calon peserta Susbalan harus sudah mengikuti Pendidikan Latihan Dasar (Diklatsar) dalam rentang waktu satu tahun.

Untuk pendidikan, calon peserta PKL minimal berpendidikan SMA sederajat, sedangkan Susbalan minimal SMP sederajat.

Sebagaimana rilis yang diterima NU Online, Muchtar menjelaskan, banyak pula kader Ansor Banser yang merupakan lulusan pesantren dan tidak memiliki ijazah SMP maupun SMA. Maka, untuk memenuhi persyaratan dan sekaligus membuktikan bahwa yang bersangkutan benar-benar lulusan  pesantren, diberlakukan persyaratan mampu baca kitab kuning.

“Jadi, persyaratan harus bisa baca kitab kuning ini diberlakukan bagi lulusan pesantren yang tidak memiliki ijazah pendidikan formal SMP maupun SMA,” katanya, Rabu (19/12).

Muchtar menyebutkan, pemberlakuan syarat mampu membaca kitab kuning ini sudah diberlakukan sejak September 2018 lalu di PKL Susbalan Kabupaten Grobogan. Calon peserta dilakukan screening kemampuan membaca kitab kuning di hadapan instruktur dari PW GP Ansor Jateng.

Ditambahkan, persyaratan untuk dapat mengikuti PKL dan Susbalan memang lebih banyak. Hal itu karena kaderisasi tingkat ini adalah akan meluluskan para calon perwira, maka mereka wajib memiliki bekal yang mumpuni.

Ketua PW GP Ansor Jawa Tengah, H Sholahuddin Aly menambahkan, sebenarnya untuk menjadi anggota Ansor adalah ketika yang bersangkutan aktif dalam berbagai kegiatan yang digelar di daerahnya masing-masing, maka sudah disebut sebagai anggota. “Misalnya ikut acara rutinan GP Ansor di desanya atau di PAC, itu sudah jadi anggota Ansor,” kata Gus Sholah.

Namun, jika ingin masuk dalam jajaran pimpinan atau pengurus GP Ansor maupun Banser maka wajib untuk mengikuti pendidikan kepemimpinan, baik berupa PKD dan Diklatsar maupun PKL dan Susbalan. (Red: Muiz)
Bagikan:
Kamis 20 Desember 2018 23:30 WIB
PKPT IPNU-IPPNU untuk Perkuat Dakwah Aswaja di Kampus
PKPT IPNU-IPPNU untuk Perkuat Dakwah Aswaja di Kampus
Acara Upgrading PKPT IPNU-IPPNU IAIN Purwokerto.
Banyumas, NU Online
Berdirinya Pimpinan Komisariat Perguruan Tinggi (PKPT) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPNU-IPPNU) di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Purwokerto, Banyumas Jawa Tengah diharapkan mampu memperkuat dakwah Islam Nusantara di kampus. 

Harapan tersebut disampaikan Ketua IPNU Banyumas Ahmad Rofingun kepada NU Online Kamis (20/12). Menurutnya, kehadiran IPNU di dunia kampus seharusnya tak menjadi perdebatan yang berkepanjangan, karena posisi IPNU-IPPNU jelas akan memperkuat penyebaran dakwah Aswaja dan Islam Nusantara di kampus. 

"Meski posisi IPNU-IPPNU di kampus adalah sebagai organisasi kampus, namun memiliki garis kordinasinya berada di bawah pengurus cabang IPNU setempat. Karena posisinya berada di dalam kampus, otomatis akan memperkuat dan memperkuat penyebaran dakwah Aswaja di dalam kampus," kata Rofingun. 

Rofingun melanjutkan, fenomena saat ini banyak pelajar NU yang bergabung di organisasi yang bukan dari NU, hal itu menjadi keprihatinan tersendiri, sehingga kenapa IPNU-IPPNU saat ini hadir di kampus juga untuk mewadahi mereka. 

Diketahui, Ahad (16/12) kemarin Pimpinan Komisariat Perguruan Tinggi IPNU IPPNU Institut Agama Islam Negri (IAIN) Purwokerto menggelar acara pelantikan, upgrading, dan rapat kerja di SMA Diponegoro Purwokerto. 

Acara tersebut merupakan tindak lanjut dari pembentukan kepengurusan yang dilakukan setehun lalu oleh pengurus cabang IPNU-IPPNU Banyumas di kampus tersebut. 

PKPT IPNU-IPPNU IAIN Purwokerto menjadi Komisariat organisasi sayap pelajar NU pertama yang berdiri di salah satu perguruan tinggi di wilayah Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. 

Setelah berdiri di IAIN Purwokerto, dalam waktu dekat rencananya IPNU Banyumas juga akan segera mendirikan komisariat perguruan tinggi di Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Purwokerto. "Insyaallah dalam waktu dekat segera menyusul komisariat perguruan tinggi UNU Purwokerto," pungkasnya. (Kifayatul Ahyar/Muiz
Kamis 20 Desember 2018 22:0 WIB
Ansor Rawajitu Utara Bentuk Majelis Shalawat Raja Segaba
Ansor Rawajitu Utara Bentuk Majelis Shalawat Raja Segaba
Rapat Pembentukan Majelis Shalawat di Rawa Jitu Utara
Mesuji, NU Online
Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Rawa Jitu Utara menjadi inisiator terbentuknya Majelis shalawat yang merupakan gabungan dari beberapa grup hadrah di daerah tersebut. Dibentuknya majelis tersebut adalah untuk lebih menjalin silaturahmi sekaligus memantapkan syiar Islam melalui seni hadrah.

"Jam'iyyah gabungan grup hadrah ini rencananya akan mengadakan Rutinan per catur wulan sekali (4 Bulan) dengan lokasi bergilir," demikian Ahmad Lutfi selaku salah satu inisiator sekaligus Sekretaris PAC GP Ansor Rawajitu Utara kepada NU Online, Kamis (20/12).

Luthfi menambahkan, gabungan grup hadrah ini meliputi tiga kecamatan yakni Rawajitu Utara (Kabupaten Mesuji), Rawajitu Selatan dan Gedung Aji Baru (Kabupaten Tulang Bawang). "Saat ini sudah ada 12 grup hadrah yang bergabung," jelasnya.

Majelis Shalawat ini diberi nama Majelis Cinta Rasul Raja Segaba yang dibagi menjadi tiga zona sesuai kecamatan. Setiap titik zona bisa mengadakan kegiatan rutinan baik sebulan sekali maupun selapanan (36 hari) sekali.

"Akan tetapi setiap empat bulan sekali kita melakukan kegiatan bersama menjadi satu rutinan," jelas Luthfi.

Sementara itu Ustad Ali Imron, salah satu pengurus grup hadrah dari Kabupaten Tulang Bawang menambahkan, upaya mendirikan majelis ini adalah untuk lebih meningkatkan kekompakan dan kecintaan kepada Rasul melalui shalawat.
 
"Di era globalisasi sekarang ini, banyak cara untuk berdakwah. Salah satunya adalah membentuk grup hadrah untuk mengenalkan para generasi milenial dengan Nabi Muhammad melalui lantunan shalawat nabi," ujarnya.

Shalawat nabi lanjutnya, merupakan sebuah ekspresi cinta seorang umat kepada nabinya. Shalawat nabi juga merupakan amalan yang memiliki banyak fadilah atau keutamaan.

"Untuk membendung arus pergaulan yang semakin bebas ini, perlu adanya sebuah wadah bagi para pemuda-pemudi milenial untuk mengekpresikan jiwa seni ke arah yang positif," katanya.

Majelis ini menurut Ketua Majelis Cinta Rasul Raja Segaba Ahmad Fajri, akan menggelar kegiatan perdana pada malam pergantian tahun baru 2019 nanti.

"Rencananya kami akan launching perdana pada saat malam pergantian tahun. Diharapkan langkah ini membuat para pemuda yang biasanya keluyuran, mampu memiliki kegiatan positif dengan bentuk shalawatan," ungkapnya. (Muhammad Faizin)
Kamis 20 Desember 2018 21:30 WIB
Belajarlah Pada Pemulung Agar Indonesia Tidak Punah
Belajarlah Pada Pemulung Agar Indonesia Tidak Punah
Uji ketangkasan Banser Lampung
Way Kanan, NU Online
Ketua Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Way Kanan, Lampung, Gatot Arifianto mengatakan, Indonesia tidak akan pernah punah jika masyarakatnya mau belajar pada pemulung, berani memilah yang baik.

Ha itu disampaikan saat membuka Pendidikan Kepemimpinan Dasar (PKD) Ansor Way Kanan VII, di Pesantren Alfalakhussa'adah di Kampung Tanjung Serupa, Kecamatan Pakuan Ratu, Kamis (20/12).

"Dan selagi masih ada Nahdlatul Ulama (NU), Ansor, dan Banser. Insyaallah, Indonesia tidak akan pernah punah," ujarnya 

Kaderisasi Ansor dan Banser di seluruh Indonesia per bulan minimal diikuti 1.000 orang. Badan otonom NU yang berdiri 24 April 1934 ini, ujar dia pula, senantiasa mendorong generasi bangsa mencintai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
   
"Kader Ansor boleh berguru pada pemulung, mereka memilah mana yang bermanfaat, bisa digunakan atau tidak. Dalam hidup, harus bisa memilah, yang baik ambil, yang tidak berguna, tinggalkan atau jauhi. Kedepankan selalu hal-hal positif," kata pemilik gelar adat Lampung Ratu Ulangan itu lagi.

PKD Ansor ialah pintu masuk rumah besar pemuda NU. Setelah masuk, berikan yang terbaik bagi kemanusiaan, kebangsaan dan keislaman.
    
"Sangat tidak layak kader Ansor mengedepankan atau memilih hal yang buruk. Sekali lagi, Indonesia tidak akan pernah punah jika masyarakatnya dan kita sebagai kader Ansor mampu melihat persoalan sebagaimana pemulung," tuturnya.

Hadir pada kegiatan itu Sekretaris PC GP Ansor Way Kanan Eko Wahyudi, Wakil Ketua Bidang Kebanseran Alex Al Mukmin, Ketua PAC Ansor Pakuan Ratu Irwanudin, Ketua PAC Ansor Negeri Agung Ahmad Nursalim, Ketua PAC Ansor Negeri Besar Filial Sa'adillah, dan Sekretaris PAC Ansor Baradatu Mahmud Rifai.
    
Terlihat pula jajaran MWC NU Pakuan Ratu, TNI dan Polri Kecamatan Pakuan Ratu, alumni Pendidikan Kader Penggerak NU (PKPNU) Hidayat serta puluhan Ansor Banser dari Pakuan Ratu, Negeri Besar dan Negara Batin. (Malikaisa/Muiz)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG