IMG-LOGO
Nasional

Kiai Said: Al-Qur’an Tidak Mementingkan Soal Bendera Agama

Sabtu 22 Desember 2018 20:15 WIB
Bagikan:
Kiai Said: Al-Qur’an Tidak Mementingkan Soal Bendera Agama
Ketum PBNU, Kiai Said Aqil Siroj (kanan)
Bekasi, NU Online
Nabi Muhammad diutus oleh Allah ke dunia untuk membangun kualitas umat, hal itu pula yang menjadi landasan mengapa dalam Al-Qur’an tidak ada bahasa Umatan Islam.  Tetapi  umatan washatan, artinya, Al-Qur'an tidak mementingkan legal formal melainkan bobot, peran, dan kualitas dari umat itu sendiri. 

Pernyataan itu disampaikan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Aqil Siroj, saat memberikan sambutan pada kegiatan Pembukaan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Nahdlatul Ulama (Lakpesdam NU) di Kota Bekasi, Jawa Barat, Sabtu (22/12). 

"Saat Rasulullah diutus ke Makkah dan diperintahkan untuk berdakwah, kualitas umat saat itu sangat buruk. Dari sisi peradaban masyarakat Makkah terbelakang dan bodoh, sementara dari sisi agama dan keimanan mereka termasuk golongan yang sesat. Di tangan Nabi Muhammad SAW, masyarakat Makkah menjadi masyarakat yang beriman dan berperadaban," jelasnya.  
 
Menurut Kiai Said, label atau bendera agama tertentu bukanlah sesuatu yang utama, yang terpenting adalah umat Islam harus banyak berperan di masyarakat. Seperti saat Rasulullah merubah sikap dan peradaban orang Makkah. "Peran itu misalnya, berperan dalam bidang agama, sosial, kemanusiaan, budaya, ekonomi, kemajuan, dan politik," tandasnya. 

Ia menjelaskan, ajaran Islam yang tertuang dalam Al-Qur’an sangatlah luas sehingga tidak dapat dipahami oleh satu tinjauan saja, melainkan ada metode untuk mempelajarinya. Metode tersebut sebagai upaya agar tidak salah dalam mengartikan teks-teks Al-Qur‘an maupun teks-teks Hadits.   

“Tidak ada agama selain Islam yang sudah mempunyai metode, kerangka berfikir yang luar biasa, yang namanya usulul fiqh, semacam itu. di Kristen, Katolik, Hindu Budha Kong Hu Chu, tidak ada itu, bagaimana memahami teks,” ujar Kiai Said.

Untuk itu, Ketua Umum PBNU yang menjabat sejak 2015 tersebut mengiginkan agar ada kelompok-kelompok yang memahami persoalan-persoalan yang sering disalahartikan oleh umat islam yang lain. Sebab, menurut dia, munculnya perbedaan pandangan dikarenakan banyak umat yang belum memahami apa isi kandungan yang terkandung dalam Al-Qur’an tersebut.  

“Harus ada kelompok yang mengkaji agama, sekarang, dan akan datang kita harus mampu menjawab dan menghadapinya,” pungkasnya. (Red: Muiz)
Bagikan:
Sabtu 22 Desember 2018 23:0 WIB
KONGRES IPNU IPPNU
IPNU-IPPNU Harus Lakukan Pendekatan Kompetisi dan Kolaborasi untuk Kaderisasi
IPNU-IPPNU Harus Lakukan Pendekatan Kompetisi dan Kolaborasi untuk Kaderisasi
Asrorun Niam Sholeh (tengah)
Jakarta, NU Online
Kaderisasi di tingkatan pelajar merupakan tulang punggung Nahdlatul Ulama. Sekretaris Umum Majelis Alumni (MA) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) H Asrorun Niam Sholeh menegaskan bahwa IPNU-IPPNU harus dimulai dari pendekatan kompetisi dan kolaborasi.

"Saatnya kita menyampaikan menu yang beragam," katanya saat menjadi narasumber bincang dengan alumni pada Kongres XIX IPNU dan XVIII IPPNU di Pesantren KH Aqil Siroj (KHAS) Kempek, Cirebon, Jawa Barat, Sabtu (22/12).

Ia mengajak agar kader IPNU dan IPPNU masuk ke organisasi lain seperti Rohaniawan Islam (Rohis). Keaktifan pelajar umum di dunia keagamaan harus diakomodasi. Kalau tidak, katanya, pasti lari ke yang lain. Di situlah letak kolaborasi dengan organisasi lainnya.

Di samping itu, kompetisi juga menjadi pintu masuk lain dalam kaderisasi. Kader berprestasi harus didata dan diidentifikasi. Deputi Pengembangan Pemuda Kementerian Pemuda dan Olahraga itu menyatakan bahwa ada kesempatan luar biasa untuk pengembangan diri mereka.

"Jangan sampai karena minim informasi kita kehilangan kesempatan untuk akses mobilitas vertikal," ujarnya.

Niam juga menginformasikan bahwa saat ini sudah tersedia puluhan ribu beasiswa. Kemenpora sendiri di bawah kedeputiannya menyediakan beasiswa khusus aktivis. "Optimalkan IPNU-IPPNU sebagai pemantik prestasi anak pemuda," tegasnya.

Sebab, pemuda saat ini sudah unggul secara kuantitasnya. Usia produktif lebih besar jumlahnya. "Ada kesempatan melakukan lompatan besar, untuk menjadi bangsa yang besar," tuturnya.

Lebih lanjut, Katib Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu menjelaskan bahwa IPNU-IPPNU bisa unggul dan kompetitif di dunia luar. Bukti keunggulannya adalah dengan memiliki prestasi, tidak mesti berkaitan dengan akademik.

Tanggung jawab IPNU-IPPNU, menurutnya, adalah mengaktualkan keunggulan dan daya kompetitif itu sehingga memiliki daya tarik dan nilai kemanfaatan lebih. "Ini yang harus didiskusikan secara mendalam," pungkasnya.

Kegiatan yang dipandu oleh Wakil Sekretaris Umum PP IPNU Mufarrihul Hazin juga menghadirkan narasumber lain, yakni Ketua Umum IPNU 2006-2009 Idy Muzayyad dan Direktur Kurikulum, Sarana, dan Kesiswaan Kementerian Agama H Umar Abdurrahman. (Syakir NF/Muiz)
Sabtu 22 Desember 2018 22:30 WIB
Rakornas, Ini Harapan Lakpesdam NU Kota Bekasi
Rakornas, Ini Harapan Lakpesdam NU Kota Bekasi
Rakornas Lakpesdam NU di Bekasi, Jabar
Bekasi, NU Online
Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Nahdlatul Ulama (Lakpesdam NU) menyelenggarakan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) di Balai Besar Pengembangan Latihan Kerja (BBPLK), Kota Bekasi, Jawa Barat, pada Sabtu-Senin (22-24/12).

Acara tersebut memiliki tema besar, Merancang Arus Baru Ekonomi Nusantara dan Sumber Daya Manusia Nahdlatul Ulama.

Ketua Lakpesdam NU Kota Bekasi Ahmad Nurul Hadi memberikan beberapa rekomendasi, yakni mengenai optimalisasi peran organisasi dalam penguatan ekonomi kerakyatan. "Hal itu menjadi penting untuk dilakukan, karena era digital telah memberi peluang yang sangat luas bagi masyarakat untuk berkontribusi dalam penguatan ekonomi mikro," katanya, kepada NU Online, pada Sabtu (22/12) petang.

Ia melanjutkan, setiap produk lokal saat ini memiliki peluang besar untuk bersaing dan mendunia melalui adanya berbagai situs penjualan online.

"Pengurus Cabang (PC) NU melalui Lakpesdam, di tingkat lokal, harus punya peran untuk menciptakan peluang kreatif, dan mendorong kader NU serta masyarakat umum, agar mengurangi ketergantungan terhadap produk luar negeri," tutur pria asal Madura ini.

Kemudian, imbuhnya, masyarakat akan mulai sadar akan pentingnya memanfaatkan produk lokal untuk konsumsi sehari-hari.

Pria yang juga akrab disapa Cak Nur ini menekankan, Lakpesdam di Kota Bekasi akan mendorong ekonomi kreatif sesuai potensi. Lalu, hasilnya itu dipasarkan melalui situs online yang sudah ada.

"Jadi, potensi apa pun yang melimpah di suatu daerah, termasuk di Kota Bekasi, harus dikembangkan agar bisa menjadi potensi ekonomi. Sedangkan peran Lakpesdam sendiri adalah melakukan pendampingan SDM-nya," jelas Cak Nur.

Output dari hal tersebut adalah tercipta SDM yang mandiri dan percaya diri terhadap pentingnya memanfaatkan apa pun yang ada di lingkungan sekitar. "Pemanfaatan itu kemudian dijadikan produk lokal yang kreatif serta layak jual dan juga memiliki nilai jual," katanya.

Ia memberikan contoh, jika di lingkungan yang melimpah adalah sampah, maka peran Lakpesdam adalah melakukan pendampingan agar masyarakat mampu memanfaatkannya dengan semaksimal mungkin. "Sehingga, sampah itu memiliki nilai jual yang lebih melalui tindakan tertentu yang menghasilkan suatu produk unik dan layak jual," pungkas Cak Nur.

Dalam acara pembukaan yang berlangsung hari ini, hadir beberapa tokoh penting, di antaranya Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Katib 'Aam PBNU KH Yahya Cholil Staquf, Jaringan Gusdurian Alissa Wahid, dan Ketua Lakpesdam PBNU H Rumadi Ahmad.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBNU H Ahmad Helmy Faishal Zaini dan Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia (Kemnaker RI) Hanif Dhakiri dijadwalkan hadir pada lusa mendatang. (Aru Elgete/Muiz)
Sabtu 22 Desember 2018 22:0 WIB
KONGRES IPNU IPPNU
Rais Syuriyah PBNU ke IPNU-IPPNU: Jangan Tinggalkan Pesantren dan Kiai
Rais Syuriyah PBNU ke IPNU-IPPNU: Jangan Tinggalkan Pesantren dan Kiai
KH Mustofa Aqil Siroj, Rais Syuriyah PBNU
Cirebon, NU Online
Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Mustofa Aqil Siroj berpesan kepada anggota Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) agar tidak menjauhi pesantren dan para kiai.

“Rekan dan rekanita IPNU-IPPNU jangan lupakan pesantren, jangan lupakan kiai, kalau megawe (bekerja) secara fisik gak kuat, tapi kalau wiridan (kuat),” kata Kiai Mustofa saat memberikan tausiyah pada rangkaian pembukaan Kongres XIX IPNU dan XVIII IPPNU di Pesantren KHAS Kempek Cirebon, Jawa Barat, Sabtu (22/12).

Dihadapan ribuan peserta kongres, Kiai Mustofa mengemukakan bahwa para kiai mempunyai perhatian yang tinggi kepada masyarakat. Di antara buktinya, setiap malam, para kiai berdoa untuk kebaikan masyarakat.

“Kiai kalau malam mempunyai kewajiban mendoakan umat. Ini yang tidak dimiliki oleh kita. Kalau kita ikut kiai, lumayan, kita (gak rajin), tapi ada yang mendoakan (yaitu kiai),” ucapnya.

Kiai yang juga Pengasuh Pesantren KHAS Kempek ini pun berharap anggota IPNU-IPPNU ke depan lebih aktif menjalin silaturrahim kepada alumni dan kiai.

“Semoga pimpinan-pimpinan IPNU-IPPNU mendatang bisa memandang mana yang maslahat dan manfaat dengan sering berkonsultasi dengan senior, mantan, dan terutama kiai-kiai,” harapnya.

Hadir pada kesempatan tersebut, Ketua LPBU PBNU H Royandi Haical, Presidium Majelis Alumni IPNU H Zainut Tauhid Sa’adi, dan Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Cirebon KH Wawan Arwani. (Husni Sahal/Muhammad Faizin)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG